Sampah Jadi Mahakarya, SMAN 11 Luwu Gandeng YBS Perkuat Edukasi Lingkungan
LUWU, INDEKSMEDIA.ID – UPT SMAN 11 Luwu memperkuat komitmen mewujudkan sekolah berwawasan lingkungan melalui kegiatan Hari Belajar Guru (HBG) yang berfokus pada inovasi pengelolaan sampah dan pengembangan budaya peduli lingkungan.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Guru UPT SMAN 11 Luwu, Jalan Andi Djemma, Kelurahan Lamasi, Kecamatan Lamasi, Jumat (16/10/2026), mengangkat tema “Mengolah Sampah Menjadi Mahakarya Bernilai Guna di UPT SMAN 11 Luwu”.
Kegiatan ini melibatkan seluruh pendidik dan tenaga kependidikan, perwakilan komite sekolah, pengurus OSIS, serta pembina ekstrakurikuler.
Sejumlah praktisi lingkungan dari Yayasan Bumi Sawerigading (YBS) dan akademisi Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Muhammadiyah Palopo turut hadir sebagai pemateri.
Kepala UPT SMAN 11 Luwu, Muhajir, mengatakan Hari Belajar Guru merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pendidik agar mampu merespons persoalan lingkungan melalui pembelajaran yang inovatif dan aplikatif.
Menurutnya, sampah tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai persoalan kebersihan, tetapi juga dapat menjadi sumber pembelajaran, kreativitas, dan peluang ekonomi jika dikelola dengan tepat.
“Persoalan sampah merupakan kenyataan yang kita temui setiap hari, baik di lingkungan sekolah, kantin, maupun rumah tangga. Melalui kegiatan ini, kami ingin membekali guru dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengubah limbah menjadi produk yang bermanfaat,” ujarnya.
Muhajir menegaskan, hasil pelatihan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan diskusi, tetapi diterapkan dalam pembelajaran dan menjadi bagian dari kebiasaan warga sekolah.
Ia juga mendorong integrasi pendidikan lingkungan ke dalam kegiatan kokurikuler serta penguatan karakter peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam.
Kegiatan tersebut menghadirkan tiga pemateri dengan fokus pembahasan berbeda.
Direktur YBS Palopo, Ir. Abdul Malik Saleh, membawakan materi tentang pengelolaan sampah terintegrasi berbasis ekonomi dan ekologi.
Ia memperkenalkan berbagai metode pemanfaatan limbah organik dan anorganik, termasuk pengolahan plastik menjadi produk bernilai guna serta pemanfaatan sampah makanan untuk budidaya maggot dan pembuatan pupuk organik.
Materi berikutnya disampaikan Edukator Bank Sampah Baruga Palopo/YBS, Nur Anwar, yang mengulas pendidikan pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular di lingkungan sekolah.
Ia menjelaskan pentingnya membangun sistem pemilahan sampah sejak dari sumber, pengembangan bank sampah sekolah, serta pembiasaan penggunaan botol minum yang dapat dipakai berulang kali untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai.
Sementara itu, akademisi PWK Universitas Muhammadiyah Palopo sekaligus pengembang platform JejakKarbonMu, Ir. H. Wahyu Hidayat, S.T., M.Si., memperkenalkan kalkulator dan dasbor digital untuk menghitung jejak karbon individu.
Melalui materi tersebut, para guru diajak memahami hubungan antara aktivitas sehari-hari, konsumsi energi, pola makan, pengelolaan sampah, dan emisi gas rumah kaca.
Selain pemaparan materi, peserta menyaksikan demonstrasi sejumlah inovasi pengolahan sampah, mulai dari produk kerajinan berbahan kemasan plastik bekas, sampel paving block dan batako berbahan plastik, hingga komposter dan budidaya maggot.
Demonstrasi tersebut memberikan gambaran mengenai peluang pemanfaatan sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus mendukung pengurangan pencemaran lingkungan.
Empat Langkah Menuju Sekolah Hijau
Sebagai tindak lanjut kegiatan, pihak sekolah menyepakati empat rencana strategis untuk memperkuat pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Pertama, membentuk satuan tugas lingkungan dan Bank Sampah Unit UPT SMAN 11 Luwu melalui penerbitan surat keputusan kepala sekolah.
Kedua, mengintegrasikan materi daur ulang dan penghitungan jejak karbon ke dalam pembelajaran serta kegiatan kokurikuler.
Ketiga, mendorong penerapan kawasan bebas plastik sekali pakai melalui pembiasaan penggunaan tumbler, penyediaan fasilitas air isi ulang, dan pengurangan penggunaan kantong plastik di kantin.
Keempat, membangun fasilitas pengomposan dan budidaya maggot untuk mengolah sisa makanan dari kantin sekolah.
Melalui langkah tersebut, UPT SMAN 11 Luwu menargetkan terbentuknya budaya sekolah yang lebih peduli terhadap lingkungan, sekaligus memperkuat peran guru sebagai penggerak perubahan perilaku peserta didik.
Kegiatan Hari Belajar Guru ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menjadikan pengelolaan sampah bukan sekadar kegiatan kebersihan, melainkan bagian dari pendidikan karakter dan praktik pembelajaran sehari-hari.




Tinggalkan Balasan