Kolaborasi YBS dan SMAN 11 Luwu: Mengurai Manfaat Sampah, Bangun Budaya Sekolah Hijau 

Wan
5200 views |

LUWU, INDEKSMEDIA.ID – Pengelolaan sampah tidak cukup dilakukan dengan membuang limbah pada tempatnya. Pemilahan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali sampah menjadi produk bernilai guna membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan perubahan perilaku sejak dari lingkungan sekolah.

Persoalan tersebut menjadi fokus kegiatan Hari Belajar Guru (HBG) UPT SMAN 11 Luwu yang digelar di Ruang Guru sekolah, Jalan Andi Djemma, Kelurahan Lamasi, Kecamatan Lamasi, Kabupaten Luwu, Jumat (16/10/2026).

Mengusung tema “Mengolah Sampah Menjadi Mahakarya Bernilai Guna di UPT SMAN 11 Luwu”, kegiatan ini menghadirkan praktisi lingkungan dari Yayasan Bumi Sawerigading (YBS) Palopo dan akademisi Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Muhammadiyah Palopo.

Para peserta memperoleh materi mengenai pengolahan sampah organik dan anorganik, pengembangan bank sampah sekolah, ekonomi sirkular, hingga penghitungan jejak karbon individu melalui platform digital.

Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas guru agar pendidikan lingkungan tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi diterapkan melalui pembelajaran dan kebiasaan sehari-hari di sekolah.

Produksi Sampah Nasional Capai 67,8 Juta Ton per Tahun

Direktur Yayasan Bumi Sawerigading Palopo, Ir. Abdul Malik Saleh, mengawali materi dengan memaparkan persoalan sampah dari tingkat global hingga regional.

Mengutip data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), ia menyebut produksi sampah nasional Indonesia mencapai 67,8 juta ton per tahun atau setara dengan sekitar 185.753 ton setiap hari.

Sementara itu, berdasarkan data tahun 2022 yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, timbulan sampah di Sulawesi Selatan mencapai 908.859 ton per tahun, menempatkan provinsi ini pada posisi ke-10 secara nasional.

Dari total sumber sampah yang dipaparkan, aktivitas rumah tangga menyumbang 53,04 persen, disusul kawasan pasar sebesar 14,92 persen dan perkantoran atau sekolah sebesar 8,1 persen. Sisanya berasal dari berbagai sumber lain, termasuk fasilitas publik.

Abdul Malik juga menyoroti persoalan sampah plastik dan sisa makanan atau food waste.

Dalam paparannya, ia mengutip laporan Bank Dunia dan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) tahun 2024 yang menyebut Indonesia menghasilkan sekitar 1,29 juta ton sampah plastik yang masuk ke laut per tahun serta 14,7 juta ton sampah makanan per tahun.

Ia turut mengangkat persoalan kerentanan pangan, dengan menyebut data yang dikaitkan dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengenai 19,4 juta penduduk Indonesia yang mengalami kerentanan pangan.

Data tersebut menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah berkaitan erat dengan pola konsumsi, pemanfaatan sumber daya, dan keberlanjutan lingkungan.

Menurut Abdul Malik, sampah seharusnya tidak hanya dipandang sebagai masalah kebersihan, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan melalui teknologi dan kreativitas.

Konsep 5R dan Inovasi Pengolahan Sampah

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Abdul Malik memperkenalkan pendekatan 5R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle, Regulate, dan Remind.

Pendekatan ini mencakup pengurangan sampah, penggunaan kembali barang, daur ulang, penguatan aturan, serta pengingat dan edukasi berkelanjutan agar masyarakat membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.

Dalam sesi demonstrasi, peserta diperlihatkan berbagai inovasi pengolahan sampah yang dikembangkan YBS Palopo.

Sampah Plastik Diolah Menjadi Produk Bernilai Guna

Untuk sampah anorganik, khususnya plastik, YBS memperkenalkan skema penggunaan mesin pencacah dan proses pengolahan termal untuk menghasilkan bahan yang dapat dicetak menjadi produk seperti paving block dan batako berbahan plastik.

Jenis polimer yang disebutkan dalam pemaparan meliputi PET, HDPE, LDPE, dan PP. Setiap jenis plastik memiliki karakteristik berbeda sehingga pemilahan dan pengendalian proses pengolahan menjadi bagian penting dalam penerapannya.

Abdul Malik juga memperlihatkan produk kerajinan yang dibuat dari kemasan plastik bekas, termasuk bungkus minyak goreng dan kemasan produk rumah tangga.

Bahan-bahan tersebut diolah menjadi tas sekolah, rompi fesyen, dan vas bunga. Inovasi lainnya berupa konsep ATM Botol Bekas, yaitu mekanisme pengumpulan botol plastik yang dapat ditukar dengan poin atau dicatat sebagai tabungan.

Melalui demonstrasi tersebut, para guru diperkenalkan pada potensi pemanfaatan sampah plastik sebagai bahan baku produk kreatif. Untuk penerapan produk konstruksi, kualitas bahan dan kekuatan produk tetap perlu dibuktikan melalui pengujian sesuai standar yang berlaku.

Metode TongKat untuk Mengolah Sisa Makanan

Selain sampah plastik, Abdul Malik memperkenalkan metode TongKat, singkatan dari Tong dan Kotak Ajaib Terpadu, untuk mengolah sisa makanan dari rumah tangga maupun kantin sekolah.

Metode tersebut memanfaatkan proses fermentasi dengan kombinasi bahan seperti dedak, gula, dan starter mikroba yang dalam pemaparan dicontohkan menggunakan produk susu fermentasi, termasuk Yakult.

Proses tersebut diarahkan untuk mendukung penguraian bahan organik dan pemanfaatannya dalam sistem budidaya larva lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF).

Larva BSF yang dikenal sebagai maggot dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak, termasuk ayam dan ikan. Sementara itu, hasil samping pengolahan sampah organik berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk setelah melalui proses pengolahan yang sesuai.

Dalam presentasinya, Abdul Malik menyebut kandungan protein maggot dapat mencapai 42,2 persen dan lemak 27,6 persen. Angka tersebut menunjukkan potensi maggot sebagai sumber nutrisi alternatif untuk pakan, meskipun kandungan aktual dapat berbeda bergantung pada jenis bahan pakan, fase pertumbuhan, dan metode pengujian.

Ia menegaskan bahwa pengolahan sampah organik dapat menjadi solusi untuk mengurangi limbah sekaligus membuka peluang pemanfaatan ekonomi.

“Sampah pada hakikatnya hanyalah sumber daya yang salah tempat. Sampah organik dan anorganik tidak boleh berakhir menumpuk dan mencemari lingkungan. Ketika warga sekolah dibekali pemahaman teknologi tepat guna dan kreativitas, limbah dapat ditransformasikan menjadi produk bernilai guna, pakan ternak, hingga produk konstruksi,” paparnya.

Bank Sampah Sekolah dan Pendidikan Ekonomi Sirkular

Materi kedua disampaikan Edukator Bank Sampah Baruga Palopo/YBS, Nur Anwar, yang mengangkat tema “Generasi Hijau: Edukasi Pengelolaan Sampah dan Ekonomi Sirkular Sekolah”.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat perlu mengubah pola ekonomi linier yang bertumpu pada prinsip Take-Make-Dispose atau mengambil, menggunakan, lalu membuang, menuju ekonomi sirkular.

Dalam ekonomi sirkular, material diupayakan tetap memiliki nilai guna melalui penggunaan kembali, perbaikan, dan daur ulang sehingga jumlah limbah yang dibuang dapat dikurangi.

Menurut Nur Anwar, sekolah dapat menjadi tempat strategis untuk membangun kebiasaan tersebut melalui pembentukan bank sampah unit sekolah.

Ia memaparkan empat langkah operasional yang dapat diterapkan.

1. Pertama, pemilahan sampah dari sumbernya.

Guru dan siswa perlu membiasakan pemisahan sampah ke dalam tiga kelompok utama, yaitu sampah organik seperti sisa makanan dan daun; sampah anorganik yang dapat didaur ulang, seperti botol plastik PET, kertas, kardus, dan kaleng aluminium; serta sampah B3 dan residu yang memerlukan penanganan sesuai karakteristiknya.

Sampah anorganik yang akan disetorkan untuk didaur ulang sebaiknya dalam kondisi bersih dan kering agar lebih mudah ditangani.

2. Kedua, penerapan sistem tabungan bank sampah.

Siswa maupun kelas dapat didaftarkan sebagai nasabah. Sampah yang telah dipilah kemudian ditimbang dan dikonversi menjadi saldo berdasarkan jenis, berat, dan harga yang berlaku.

Saldo tersebut dapat dimanfaatkan sesuai mekanisme bank sampah, misalnya untuk mendukung kas kelas, perlengkapan belajar, atau kegiatan sosial.

3. Ketiga, kampanye penggunaan tumbler.

Sekolah didorong membangun kebiasaan membawa botol minum yang dapat digunakan berulang kali dari rumah.

Kebijakan tersebut dapat diperkuat dengan penyediaan dispenser atau fasilitas air isi ulang di titik strategis serta pengurangan kemasan plastik sekali pakai di kantin.

4. Keempat, membangun budaya gotong royong.

Pengelolaan bank sampah perlu melibatkan guru, siswa, tenaga kependidikan, dan pengelola kantin agar menjadi gerakan bersama, bukan sekadar tanggung jawab petugas kebersihan.

Nur Anwar menegaskan bahwa bank sampah memiliki nilai pendidikan yang melampaui kegiatan pengumpulan barang bekas.

“Bank sampah di sekolah bukan sekadar tempat mengumpulkan barang bekas atau menumpuk kardus, melainkan laboratorium karakter. Di sinilah siswa belajar tentang kejujuran menimbang, kesadaran ekonomi sirkular, kedisiplinan, dan gotong royong menjaga lingkungan,” ungkapnya.

Jejak Karbon Individu Capai 2,23 Ton CO₂e per Tahun

Materi ketiga menghadirkan akademisi PWK Universitas Muhammadiyah Palopo sekaligus pengembang platform JejakKarbonMu, Ir. H. Wahyu Hidayat, S.T., M.Si.

Ia mengajak para guru memahami keterkaitan aktivitas manusia dengan emisi gas rumah kaca melalui materi “JejakKarbonMu: Kalkulator dan Dashboard Jejak Karbon Individu untuk Masyarakat Indonesia”.

Dalam paparannya, Wahyu menyebut rata-rata jejak karbon penduduk Indonesia mencapai 2,23 ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) per kapita per tahun.

Ia membandingkan angka tersebut dengan angka 1,50 ton CO₂e per kapita per tahun yang digunakan dalam presentasinya sebagai tolok ukur untuk menggambarkan kebutuhan penurunan emisi demi mendukung upaya membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius.

Wahyu menekankan bahwa pencapaian target penurunan emisi nasional atau Nationally Determined Contribution (NDC) membutuhkan keterlibatan masyarakat, tidak hanya kebijakan pemerintah.

Perubahan perilaku dalam penggunaan kendaraan, konsumsi energi, pola makan, dan pengelolaan sampah dinilai menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

Tiga Rujukan Metodologi JejakKarbonMu

Dalam pemaparannya, Wahyu menjelaskan bahwa platform JejakKarbonMu yang dikembangkan YBS menggunakan tiga rujukan metodologi.

1. Pertama, kerangka faktor emisi dalam konteks Indonesia yang merujuk pada Institute for Essential Services Reform (IESR).
2. Kedua, standar dan metodologi penghitungan gas rumah kaca yang merujuk pada Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).
3. Ketiga, faktor emisi kelistrikan wilayah yang merujuk pada data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Melalui kalkulator digital tersebut, peserta diajak melakukan simulasi penghitungan jejak karbon berdasarkan empat sektor utama.

1. Transportasi dan mobilitas harian

Penghitungan mencakup jarak tempuh kendaraan pribadi, termasuk sepeda motor berbahan bakar bensin maupun listrik, mobil bensin atau diesel, penggunaan angkutan umum, serta perjalanan menggunakan pesawat dalam setahun.

Data mobilitas tersebut digunakan untuk memperkirakan emisi yang berkaitan dengan aktivitas transportasi.

2. Energi rumah tangga

Peserta mempelajari penghitungan emisi berdasarkan konsumsi listrik bulanan, baik menggunakan data pemakaian dalam kilowatt-jam (kWh) maupun tagihan listrik.

Dalam simulasi yang dipaparkan, digunakan faktor emisi kelistrikan wilayah Sulawesi sebesar 0,76 kilogram CO₂e per kWh.
Penghitungan juga mencakup penggunaan LPG, baik tabung 3 kilogram maupun 12 kilogram.

3. Pola makan dan sampah makanan

Sektor ini memperhitungkan perkiraan emisi berdasarkan pola konsumsi pangan serta dampak sisa makanan yang terbuang.

Dalam materi tersebut, Wahyu menyajikan angka ilustratif emisi harian berdasarkan pola makan, yakni 2,8 kilogram CO₂e untuk pola makan tinggi daging sapi, 1,6 kilogram CO₂e untuk rata-rata pola makan Indonesia, dan 0,7 kilogram CO₂e untuk pola makan vegan.

Ia juga menjelaskan bahwa metana (CH₄), salah satu gas yang dapat dihasilkan dari penguraian sampah organik, memiliki potensi pemanasan global sekitar 28 kali lebih kuat dibandingkan CO₂ dalam horizon waktu 100 tahun, berdasarkan metrik yang digunakan dalam perbandingan tersebut.

Karena itu, pengurangan sampah makanan dan pengolahan sampah organik menjadi bagian penting dalam upaya menekan emisi.

4. Timbulan dan pengelolaan sampah

Pada sektor ini, peserta diajak memperkirakan jumlah sampah yang dihasilkan setiap minggu serta memahami potensi pengurangan emisi melalui pemilahan dan pengolahan sampah organik.

Dalam simulasi yang dipaparkan, pengolahan sampah organik melalui kompos atau maggot disebut berpotensi mengurangi beban emisi tempat pemrosesan akhir hingga 35 persen. Besaran pengurangan aktual bergantung pada metode pengolahan, kondisi sampah, dan sistem pengelolaan yang diterapkan.

Berdasarkan data yang dimasukkan, dasbor JejakKarbonMu menghasilkan perkiraan total emisi tahunan dan perhitungan kebutuhan netralisasi karbon.

Wahyu memberikan ilustrasi bahwa untuk menetralkan emisi sebesar 2,23 ton CO₂e per tahun diperlukan daya serap karbon yang setara dengan sekitar 90 pohon dewasa, menggunakan asumsi daya serap rata-rata 22 kilogram CO₂ per pohon per tahun.

Angka tersebut merupakan ilustrasi perhitungan berdasarkan asumsi yang digunakan dalam presentasi. Penyerapan karbon aktual dapat berbeda menurut jenis pohon, usia, kondisi pertumbuhan, dan lingkungan tempat pohon ditanam.

“Mengukur jejak karbon memberikan sudut pandang ilmiah untuk memahami dampak aktivitas harian. Ketika guru mengetahui perkiraan emisi dari penggunaan listrik dan kegiatan sehari-hari, edukasi lingkungan kepada siswa menjadi lebih konkret dan terukur,” jelas Wahyu.

Ia menambahkan, platform tersebut dapat membantu pengguna mengenali sektor yang menyumbang emisi terbesar sehingga upaya pengurangan dapat diarahkan pada aktivitas yang paling relevan.

Kepala UPT SMAN 11 Luwu, Muhajir, mengatakan materi yang disampaikan para narasumber perlu ditindaklanjuti melalui pembelajaran dan pembiasaan di lingkungan sekolah.

Ia menegaskan bahwa kegiatan edukasi lingkungan di Hari Belajar Guru dirancang untuk meningkatkan kapasitas tenaga pendidik sekaligus membangun karakter peserta didik yang peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!