Luwu Tiga Besar Termiskin di Sulsel, Kegagalan Otoritas Hingga Pembiaran Tambang Ilegal

10400 views |
TAMBANG Ilegal Desa Marinding Kabupaten Luwu

LUWU,INDEKSMEDIA.ID – Akan ada momentum Distrust yang cukup tinggi dari Publik terhadap Pimpinan Daerah di Luwu sebagai Daerah Termiskin di Luwu Raya karena kelalaian Pemerintahnya.

Demikian disampaikan Roko Pemuda Luwu, Bayu Purnomo, mengawali sesi pembuka wawancara dengan Indeksmedia, terkait posisi ketiga daerah termiskin di Sulawesi Selatan (Sulsel), yang saat ini melekat di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu.

Capaian tersebut dianggap sebagai kegagalan pimpinan dalam menata pemerintahan hingga mengurus rakyatnya sendiri.

Bayu Purnomo, mengatakan Kabupaten Luwu hari ini sedang berada dalam titik nadir, dimana penegakan hukum dan pelestarian lingkungan sama sekali tidak mencerminkan otoritas pemimpin yang ada di Luwu.

“Daerah yang dulunya kaya akan bentang alam asri kini perlahan bertransformasi menjadi tanah yang sekarat, dikeruk tanpa ampun oleh para pelaku tambang ilegal, sementara aparat penegak hukum dan Pemda Luwu memilih untuk menutup mata, telinga, dan hati nurani mereka. Beberapa kali penertiban kesannya hanya sebatas opera yang menimpa bobokkan kelompok kritis dan masyarakat,” tegas salah Putra Asli Batusitanduk (Walmas), Minggu (18/10/2026).

Salah satu pejuang Luwu Tengah (Luteng) tersebut mengaskan pembiaran masif terhadap aktivitas tambang ilegal di wilayah Luwu bukan lagi sekadar kelalaian administratif, melainkan sebuah bentuk kejahatan struktural.

Bagaimana mungkin alat berat bisa beroperasi bebas, mengeruk sungai dan membabat perbukitan tanpa tersentuh hukum?.

Sementara radius lokasi tambang ilegal terbilang di depan mata hanya sekitar 30-40 meter dari pusat Pemerintahan Kabupaten Luwu.

“Absennya tindakan tegas dari aparat penegak hukum dari awal memicu kecurigaan publik yang sangat beralasan: apakah ada “setoran” yang lebih berharga ketimbang keselamatan ekologis warga Luwu?.

Pembiaran ini adalah bentuk pengkhianatan paling nyata terhadap rakyat yang dipaksa bersahabat dengan ancaman bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang dan tanah longsor yang siap merenggut nyawa kapan saja.

Ironi ini semakin berlipat ganda ketika kita melihat bagaimana Pemda Luwu memperlakukan korporasi besar seperti PT Masmindo Dwi Area.

Pemerintah daerah tampak begitu getol menggelar karpet merah, mempermudah segala urusan, dan bertindak layaknya benteng pertahanan bagi perusahaan tersebut.

Keberpihakan yang ugal-ugalan ini memicu pertanyaan besar: apa yang sebenarnya didapatkan oleh rakyat Luwu?.

Kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik dengan janji-janji manis kesejahteraan. Kehadiran PT Masmindo jelas-jelas tidak berdampak signifikan pada kemajuan ekonomi makro maupun mikro di Luwu.

Angka pengangguran tidak berkurang drastis, Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak melonjak signifikan untuk pembangunan, dan kantong-kantong kemiskinan di sekitar lingkar tambang masih menganga lebar di tambah lagi persentase kemiskinan di Kabupaten Luwu yang sangat memprihatinkan.

Dimana merujuk pada data BPS untuk skala Sulsel Luwu berada di peringkat ke 3 daerah termiskin sementara untuk skala Luwu Raya Luwu menduduki Peringkat pertama daerah termiskin.

Yang tersisa bagi masyarakat lokal hanyalah konflik agraria yang berkepanjangan, ruang hidup yang makin menyempit, dan bayang-bayang kerusakan lingkungan jangka panjang yang tidak akan pernah bisa ditebus oleh royalti recehan.

Pemda Luwu dan aparat penegak hukum harus sadar bahwa mandat yang mereka pegang berasal dari rakyat, bukan dari pemodal tambang atau direksi korporasi.

Menjadi pelayan oligarki tambang sembari membiarkan cukong-cukong ilegal merusak ruang hidup warga adalah bentuk kebangkrutan moral kepemimpinan.

Jika pembiaran dan keberpihakan buta ini terus dilanjutkan, jangan salahkan jika sejarah akan mencatat rezim hari ini sebagai perusak masa depan tanah Luwu.

“Ingat klise ini akan terekam jelas dalam ingatan masyarakat Luwu dan pada momentum anda berteriak meminta empati maka akan muncul “distrust” ketidak percayaan publik dengan apa yang kalian sampaikan,” tutur putra terbaik Walmas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!