Termiskin di LuRa dan Polemik Tambang Ilegal di Luwu, Pata-Devy Hampir Pasti Gagal
LUWU,INDEKSMEDIA.ID – Pasangan H. Patahuddin, S.Ag dan Muhammad Dhevy Bijak Pawindu, SH secara resmi mengawali kepemimpinannya di Kabupaten Luwu pada Kamis, 20 Februari 2025.
Mereka resmi menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati Luwu periode 2025–2030 setelah memenangkan Pilkada Luwu 2024.
Pengambilan sumpah jabatan dan prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di halaman tengah Istana Kepresidenan Jakarta dalam acara pelantikan kepala daerah secara serentak.
Namun, perjalanan karier keduanya hampir dipastikan gagal sebagai Bupati dan Wakil Bupati di Bumi Sawerigading.
Itu karena, rentetan persoalan mulai dari nomor satu termiskin di Luwu Raya (LuRa) atau ketiga daerah termiskin di Sulawesi Selatan (Sulsel) hingga masalah Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) sampai hari ini belum mampu diselesaikan.
Sorotan tajam, dari sejumlah aliansi untuk memperbaiki segera persoalan tersebut, tetapi Luwu, belum bisa bangkit dari keterpurukan.
“Kalau dihitung-hitung, sudah hampir masuk bagi dua perjalanan kepemimpinan Bupati dan Wabup Luwu, tapi Luwu belum mampu keluar dari berbagai persoalan yang saat ini tengah disorot publik. Ya, hampir dipastikan gagal pimpinan Luwu,” kata Tokoh Pemuda Luwu, Adam Setiawan menyikapi konflik internal di Kabupaten Luwu, kepada Indeksmedia Kamis (22/10/2026).
Adam menilai, jika kedua putra terbaik Luwu tersebut belum juga mampu keluar dari tekanan publik, maka dirinya meyakini akan mempengaruhi elektabilitas keduanya di panggung politik.
“Itu, kalau mereka ingin kembali jilid dua atau bertarung terpisah. Namun, yang pastinya kunci utama dari rentetan sorotan publik, yakni bagaimana keduanya bisa kembali mengambil kepercayaan masyarakat agar menjadi modal penting dalam perjalanan karier politik di masa depan,” bebernya.
Kritik terhadap pemerintah sambung Adam harunya menjadi cambuk bagi pemimpin daerah.
“Jadikan kritikan sebagai motifasi atau dorongan untuk membangun serta memperbaiki daerah. Jangan jadikan kritikan sebagai alat untuk balas dendam,” pungkasnya.




Tinggalkan Balasan