Akademisi UMB Kritik Penanganan Krisis Air, Minta Pemkot Tetapkan Status Darurat

7600 views |

PALOPO, INDEKSMEDIA.ID – Akademisi Universitas Mega Buana (UMB) Palopo, Afrianto, menyoroti krisis air bersih yang dialami masyarakat. Dia meminta pemerintah kota mempertimbangkan penetapan status darurat agar penanganan krisis air tidak lagi dilakukan dengan pola biasa.

Afrianto menilai masyarakat selama ini harus menanggung beban akibat terganggunya distribusi air bersih. Bahkan, sebagian warga terpaksa menunggu pasokan air hingga semalaman, bahkan berhari-hari.

“Ada yang bilang kalau mereka capek mengantar air, kami juga capek menunggu air semalaman bahkan berhari-hari. Tapi capeknya mereka dibayar dari kami yang lelah menunggu air,” kata Afrianto, Senin (2/11/2026).

Dia juga menyoroti ketimpangan perlakuan yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, ketika pelanggan terlambat memenuhi kewajiban pembayaran, surat peringatan bisa datang. Namun, ketika masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air, tidak ada kompensasi yang diberikan.

“Kalau kami yang capek, tidak dikompensasi. Malah surat peringatan yang datang kalau lambat. Lalu dengan enteng bilang, karena capek kami pukul mereka,” ujarnya.

Afrianto mengatakan kondisi Palopo saat ini sudah berada pada tahap krisis air. Karena itu, pemerintah kota perlu mempertimbangkan penetapan status darurat agar penanganannya mendapat dukungan anggaran, personel, serta sarana distribusi yang memadai.

Menurutnya, penetapan status darurat bukan sekadar persoalan administrasi. Kebijakan tersebut dapat menjadi dasar untuk mempercepat mobilisasi sumber daya dan memperkuat koordinasi lintas instansi dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Dia menegaskan pemerintah harus memastikan warga yang paling terdampak tetap memperoleh suplai air bersih hingga ke rumah masing-masing, terutama ketika sumber air mengalami gangguan di bagian hulu.

“Ketika kebutuhan dasar masyarakat seperti air bersih mulai terganggu secara luas, pendekatan yang digunakan juga harus bersifat luar biasa, cepat, terkoordinasi, dan memiliki dukungan sumber daya yang memadai,” jelasnya.

Afrianto menambahkan penanganan krisis air membutuhkan langkah terpadu antara pemerintah kota dan seluruh pihak terkait. Dalam jangka pendek, masyarakat harus mendapatkan jaminan pasokan air bersih.

Sementara untuk jangka menengah dan panjang, dia mendorong pembangunan sistem ketahanan air yang lebih kuat agar persoalan serupa tidak terus berulang.

“Pemenuhan kebutuhan air bersih harus menjadi prioritas karena menyangkut kebutuhan dasar dan kehidupan masyarakat sehari-hari,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini