Bantah Pernyataan Manajemen RS St Madyang, Keluarga Sebut Perawat Tak Segera Bertindak

8300 views |
RS St Madyang Kota Palopo

PALOPO,INDEKSMEDIA.ID – Keluarga almarhum Padli Aprianto membantah penjelasan manajemen Rumah Sakit (RS) St Madyang Palopo terkait pelayanan medis yang diterima sebelum meninggal dunia. Pihak keluarga menilai penjelasan rumah sakit belum menggambarkan kejadian yang sebenarnya selama Padli menjalani perawatan.

Bantahan tersebut disampaikan ibu almarhum, Sri Handayani, bersama kakaknya, Riri Dwi. Keduanya menceritakan sejumlah pengalaman yang dialami keluarga sejak Padli pertama kali hendak mendapatkan perawatan di rumah sakit tersebut.

Sri mengungkapkan, sejak awal kedatangan, Padli disebut sempat mengalami kesulitan untuk mendapatkan pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Bahkan, menurut pengakuannya, keluarga sempat diminta mencari rumah sakit lain.

“Awalnya saja waktu mau masuk IGD, ditolak. Bahkan disuruh cari rumah sakit lain,” ungkap Sri, Minggu (1/11/2026).

Kondisi Padli saat itu, kata dia, sudah cukup memprihatinkan. Sejak pagi hingga sore, almarhum mengalami diare berulang disertai muntah. Popok yang digunakan bahkan harus diganti hingga dua kali karena kondisinya tersebut.

Sri juga membantah anggapan bahwa anaknya tidak mau makan. Menurut dia, Padli sebenarnya ingin makan, tetapi kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk menerima makanan maupun minuman.

“Anak saya bukan tidak mau makan, tetapi memang tidak bisa. Air putih saja yang diminum langsung dimuntahkan lagi. Kami minta supaya diperiksa, tetapi justru dibilang dipaksa makan,” tuturnya.

Dia kemudian membandingkan penanganan yang diterima Padli saat menjalani kemoterapi kedua di rumah sakit sebelumnya.

Ketika itu, seorang dokter perempuan disebut memberikan penjelasan bahwa pasien dengan kondisi seperti Padli perlu mendapatkan cairan pengganti asupan makanan serta obat untuk mengatasi diare.

Namun, menurut Sri, penanganan serupa tidak dirasakan keluarga selama Padli dirawat di RS St Madyang.

Keluhan lainnya berkaitan dengan respons tenaga perawat ketika keluarga membutuhkan bantuan. Sri mengaku beberapa kali harus mendatangi perawat untuk meminta penanganan, tetapi jawaban yang diterima hanya diminta menunggu.

Bahkan, keluarga mengaku harus menyampaikan keluhan dengan nada keras agar perawat segera datang melihat kondisi pasien.

“Saya sampai bilang, Bu, coba marah-marah sama perawat supaya datang. Betul, setelah itu baru datang,” kata Riri Dwi.

Situasi semakin mengkhawatirkan ketika Padli mengalami sesak napas pada malam sebelum meninggal dunia. Sri menyebut kondisi anaknya saat itu sudah sangat lemah dan kesulitan bernapas.

Dalam kondisi tersebut, keluarga mengaku sempat meminta agar Padli dipindahkan ke ruang ICU. Namun, permintaan itu disebut tidak langsung dipenuhi dengan alasan ruang ICU penuh, meskipun menurut pengamatan keluarga masih terdapat tempat tidur kosong.

“Kasihan, malam itu sesak sekali. Padli sudah tidak bisa bernapas dengan baik. Sementara perawat hanya melihat-lihat, tidak ada tindakan,” ungkapnya.

Pernyataan keluarga ini sekaligus membantah penjelasan manajemen RS St Madyang yang sebelumnya menyebut Padli telah mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis sejak masuk melalui IGD, termasuk pemberian terapi dan oksigen saat mengalami perubahan kondisi.

Manajemen rumah sakit juga sebelumnya menyampaikan bahwa Padli akhirnya dipindahkan ke ICU untuk mendapatkan penanganan intensif sebelum mengembuskan napas terakhir. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!