Betulkah Malaikat Tidak Masuk Ke Rumah Yang Ada Anjing Di Dalamnya?
Oleh : Nurdin (Mahasiswa UIN Palopo)
SAYA dan mungkin juga Anda sering atau biasa mendengar pendakwah yang menjelaskan potongan hadis sahih “Laa yadhulul malaaikatu baitan fiihi kalbun” (Malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing).
Ironisnya, sebab kebanyakan penceramah menggiring cara berpikir kita agar tertanam dalam pikiran umat bahwa, yang ingin disampaikan Rasulullah itu adalah anjing secara fisik. Dan kalau seperti itu, akan muncul beberapa pertanyaan.
Namun, sebelum pertanyaan itu saya ajukan, kita prediksi dulu bakal kesebelasan mana yang memenangi piala dunia kali ini, apakah Spanyol atau Argentina? Yang jelas saya pendukung Argentina, karena di situ ada Messi. Argentina hebat karena ada Messi.
Nah, Malaikat mana yang dimaksud hadis itu? Apakah juga termasuk malaikat pencabut nyawa? Apakah benar anjing secara fisik? Apakah karena najisnya? Apakah hadis sahih itu mengindikasikan, memelihara anjing itu haram atau makruh?
Kenapa pertanyaan-pertanyaan itu saya ajukan? Sebab perkataan, perbuatan dan juga persetujuan nabi, lahir tidak berada diruang hampa, ada peristiwa yang terjadi, ada konteksnya. Kitab suci Al-Qur’an pun demikian halnya.
Kata guru saya, Prof. Zulfahmi Alwi bahwa, “Al-Qur’an tidak akan merinci secara detail peristiwa yang ada di muka bumi ini yang begitu kompleks. Al-Qur’an hanya terdiri dari 30 juz, sementara persoalan yang ada meliputi seluruh alam semesta yang sedemikian luasnya.”
“Ketika Al-Qur’an menjelaskan secara detail persoalan yang ada, maka akan ketinggalan zaman. Itulah mengapa kitab suci hanya berisi tentang prinsip-prinsip” Lanjut Prof. Zul (panggilan akrab beliau). Kita kembali pada potongan hadis sahih di atas.
Karena rasa penasaran, saya cari tahu dan menemukan penjelasan yang sangat menarik pada buku yang ditulis oleh Prof. Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) salah seorang cendikiawan muslim yang saat ini mengajar di salah satu perguruan tinggi di Australia.
Buku “Surat Cinta Gus Nadir” dijelaskan pandangan Imam Al-Ghazali tentang hadis tersebut. Al-Ghazali tidak menafsirkan mentah-mentah “Kasus anjing” di atas. Hati itu ibarat rumah, kata beliau. Sedangkan akhlak tercela seperti marah, dengki, sombong, dan penyakit hati lainnya bagaikan anjing yang menggonggong.
“Bagaimana malaikat hendak masuk ke dalam rumah batin” Tanya Imam Al-Ghazali, sedangkan rumah itu dipenuhi anjing? Bukankah cahaya ilmu tidak dimasukkan oleh Allah ke dalam batin seseorang kecuali dengan perantara malaikat?”
Jadi, pandangan Imam Al-Ghazali di atas ingin memberitahu kepada kita bahwa, Islam memberikan beragam perspektif dalam memahami teks keagamaan. Jangan memutlakkan satu pandangan dan menafikan yang lain.
Bahkan Imam Al-Ghazali pun tidak memutlakkan pandangannya itu, seolah makna rumah di dalam hadis di atas hanya hati dan anjing harus dimaknai marah dan sifat tercela lainnya. Beliau hanya menekankan kita untuk juga mengambil pelajaran dari dimensi rohani dan spritual.
Nah, bagaimana dengan sebagian besar orang saat ini yang Anda saksikan di sosial media. Mudah marah, mudah mencela, menghina atau mencemooh orang lain? Mampukah kita membersihkan rumah batin kita, seperti pemahaman Imam Al-Ghazali. Dengan tidak memelihara sifat-sifat tercela tersebut?
Atau masihkah kita membiarkan sifat-sifat itu mengotori rumah kita, sehingga cahaya Allah tidak masuk ke dalamnya? Jawabannya ada pada masing-masing pembaca. Semoga kita mampu membersihkan rumah fisik dan batin kita. Aamiin yaa rabbal aalaamiin.(*)




Tinggalkan Balasan