Oknum Wartawan Dikeroyok Warga di SPBU Rampoang Palopo

PALOPO,INDEKSMEDIA.ID — Seorang pria mengaku sebagai wartawan dari salah satu Media, nyaris babak belur dikeroyok warga yang sedang mengisi di SPBU Rampoang, Kelurahan To Bulung, Kota Palopo. Kejadiannya, Senin (13/07/2026).

Kronologisnya begini. Oknum wartawan tersebut diduga telah bertindak sembarangan dengan merekam aktivitas pengisian bahan bakar tanpa sebelumnya meminta izin ke pengelola SPBU.

Manager SPBU Rampong, Narman dikonfirmasi, Selasa (14/7/2026), mengatakan pria tersebut menerobos masuk tanpa izin dan langsung merekam di area dekat nosel pengisian, tepat dimana masyarakat sedang dilayani baik jalur Pertamax, Pertalite, maupun jalur solar.

“Kami sudah menghimbau, kalau ingin merekam, apakah ada indikasi kecurangan. Jika tidak, silakan dilakukan di luar area. Merekam di dekat nosel sangat berisiko menimbulkan kebakaran. Hampir semua kasus kebakaran di SPBU disebabkan oleh ponsel, dan di setiap pulau pengisian pun sudah terpasang rambu larangan memotret, merokok, serta kewajiban mematikan mesin,” tegas Narman.

Tindakan orang tersebut justru mengarahkan kamera ke warga yang sedang mengisi kendaraan bermotor, terutama di jalur sepeda motor. Hal ini membuat masyarakat merasa terganggu dan curiga, seolah-olah disangka pencuri.

Antrean yang padat pun semakin memanas karena merasa aktivitas pelayanan terhambat.

“Warga bertanya, ‘Apa maksudnya merekam kami yang sedang mengisi bensin secara normal?’. Mereka marah dan emosi, hingga akhirnya orang itu dikeroyok. Untung kami segera melerai, kalau tidak, bisa dipastikan dia sudah babak belur,” jelas Narman.

Narman menilai tindakan yang dilakukan tidak mencerminkan etika seorang wartawan. Seharusnya, jika benar bertugas, ia berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak pengelola, menyampaikan maksud dan tujuannya, serta mematuhi aturan keselamatan yang berlaku.

“Seorang wartawan yang benar tentu memahami kode etik, termasuk meminta izin kepada tuan rumah. Apalagi ini tempat yang rawan bahaya. Jangan justru mendidik masyarakat dengan cara yang salah. Semestinya koordinasi dilakukan sejak awal agar semua berjalan jelas dan masyarakat pun bisa diedukasi dengan benar,” pungkas Narman.(Andri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!