Saat Penggrebekan, Gudang Solar di Telluwanua Palopo Berubah Jadi Bengkel Las
PALOPO,INDEKSMEDIA.ID – Merespons pemberitaan media bertanggal 8 Juli 2026 dengan judul Kapolsek Telluwanua AKP H Anwar bersama tim Unit Intelkam turun ke lokasi pada Kamis (9/7/2026).
Tim melakukan penelusuran di lokasi yang disebutkan, yakni di Lorong Tondok Alla, Kelurahan Jaya, serta menggali informasi dari warga sekitar dan tokoh masyarakat setempat.
Berdasarkan keterangan tokoh masyarakat Muh Rijal serta pemeriksaan fisik di lokasi, saat ini tempat yang diduga sebagai lokasi penampungan solar itu telah berubah fungsi menjadi bengkel las besi dan tidak ditemukan aktivitas bongkar muat BBM.
Meski belum ditemukan bukti pelanggaran di lokasi saat pengecekan, AKP H Anwar memastikan pengawasan tidak akan berhenti di situ.
“Tidak menutup kemungkinan aktivitas tersebut sudah dihentikan atau lokasi disterilkan setelah muncul sorotan publik. Kami akan terus memantau dan menyelidiki lebih lanjut. Jika nanti terbukti ada pelanggaran, kami akan bertindak tegas sesuai aturan hukum yang berlaku,” tegas AKP H. Anwar.
Pihak kepolisian juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk aktif melaporkan setiap indikasi penyalahgunaan, penimbunan, atau peredaran solar ilegal yang ditemui di lingkungan masing-masing agar dapat segera ditindaklanjuti.
Sebelumnya, warga di wilayah Kelurahan Jaya, Kecamatan Telluwanua, Kota Palopo, menyambut baik langkah yang diambil oleh pihak kepolisian menanggapi maraknya dugaan praktik bongkar muat serta penimbunan solar bersubsidi yang diduga merugikan petani lokal.
Sorotan muncul dari keluhan warga yang menyebut akses solar bagi petani justru dipersulit saat musim tanam, sementara pihak lain dengan mudah mengamankan pasokan dalam jumlah besar.
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya menjelaskan susahnya mendapatkan BBM tersebut. Menurutnya, petani harus melalui prosedur berbelit mulai dari mengurus surat pengantar kelurahan hingga pencetakan barcode, padahal kebutuhan mereka sangat terbatas.
“Petani susah sekali mendapatkan solar saat musim tanam. Padahal kami paling banyak hanya butuh 10 liter untuk sekali membajak sawah. Giliran para pelangsir atau penimbun, hanya bermodalkan barcode yang entah siapa keluarkannya, mereka bebas masuk mengisi solar. Lihat saja tangki mobil mereka, banyak yang sudah dimodifikasi agar muatannya berkali-kali lipat,” ujarnya ke Wartawan pada Kamis (9/7/2026).
Warga tersebut mempertanyakan bagaimana cita-cita Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian mewujudkan swasembada pangan bisa tercapai, jika kebutuhan dasar pengolahan lahan pertanian justru dipersulit bagi pihak yang benar-benar berhak.
“Kami harap polisi menindak tegas dan adil. Jangan sampai kepentingan pribadi mengalahkan kebutuhan pangan masyarakat,” tambahnya.(Andri)




Tinggalkan Balasan