Stok Hewan Kurban di Palopo Menurun, Pemkot Pastikan Kondisi Sehat dan Aman
PALOPO, INDEKSMDEDIA.ID – Menjelang Hari Raya Idul adha 1446 H, stok hewan kurban di Kota Palopo mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pembatasan lalu lintas ternak yang diberlakukan untuk mencegah penyebaran penyakit.
Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan Kota Palopo, Muhammad Ibnu Hasyim, mengungkapkan bahwa penurunan jumlah hewan kurban tahun ini tidak lepas dari ketatnya regulasi pengiriman ternak antardaerah. Menurutnya, pembatasan tersebut penting untuk menjaga kesehatan hewan dan mencegah masuknya penyakit ke wilayah Palopo.
“Tahun ini memang ada sedikit penurunan dibandingkan tahun lalu, terutama karena pembatasan lalu lintas ternak,” ujar Muhammad Ibnu Hasyim, Jumat (30/5/2025).
Ibnu menjelaskan bahwa salah satu kebijakan yang diterapkan adalah mewajibkan setiap hewan ternak yang masuk ke Kota Palopo memiliki dokumen resmi berupa Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Hal ini diberlakukan secara ketat sebagai upaya pencegahan terhadap penyebaran penyakit hewan menular.
“Kami hanya mengizinkan hewan masuk ke Palopo jika dilengkapi surat keterangan kesehatan hewan (SKKH),” jelasnya.
Meski jumlahnya menurun, masyarakat diminta tetap tenang. Pemerintah daerah memastikan bahwa seluruh hewan kurban yang dijual dan akan disembelih di wilayah Palopo telah melalui proses pemeriksaan yang menyeluruh. Pemeriksaan dilakukan sejak dari daerah asal hewan hingga tiba di tempat penjualan atau penampungan di Palopo.
“Untuk masyarakat, tidak perlu khawatir karena seluruh hewan kurban di Palopo telah melalui pemeriksaan ketat mulai dari daerah asal hingga tiba di Palopo,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan, Pertanian, dan Perkebunan Kota Palopo, Burhanuddin, menambahkan bahwa keterbatasan jumlah sapi lokal juga menjadi faktor yang mempengaruhi turunnya pasokan hewan kurban. Ditambah lagi, pengawasan terhadap penyakit mulut dan kuku (PMK) membuat lalu lintas hewan antarwilayah menjadi lebih terbatas.
“Dalam Kota Palopo sendiri, stok sapi memang tidak mencukupi karena keterbatasan jumlah dan ketatnya lalu lintas hewan akibat pengawasan penyakit mulut dan kuku (PMK),” jelas Burhanuddin.
Ia menegaskan bahwa dinas telah menyiapkan langkah-langkah pengawasan dan pengamanan agar masyarakat mendapatkan hewan kurban yang sehat dan layak konsumsi. Salah satunya dengan mengerahkan petugas ke seluruh titik penjualan dan penampungan hewan kurban.
“Kami sudah menyebar petugas ke semua titik untuk melakukan pemeriksaan demi memastikan hewan-hewan kurban benar-benar layak dan sehat,” ujarnya.
Burhanuddin juga menyebutkan bahwa berkurangnya ketersediaan sapi kurban di Palopo tidak hanya karena faktor kesehatan dan regulasi, tetapi juga karena sebagian besar pedagang memilih menjual hewan ternaknya ke daerah lain yang permintaannya tinggi.
“Penurunan ini terjadi karena sebagian pedagang sapi kurban di Palopo juga menjual ke daerah lain seperti Kabupaten Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur,” ungkapnya.
Untuk harga, ia menjelaskan bahwa pasar hewan kurban tahun ini masih cukup stabil meski pasokan terbatas. Harga sapi kurban di wilayah Palopo dipatok mulai dari belasan hingga puluhan juta rupiah, tergantung bobot dan ukuran hewan.
“Harga sapi kurban di Kota Palopo berkisar antara Rp 12 juta hingga Rp 30 juta, tergantung bobot dan ukuran,” pungkasnya.




Tinggalkan Balasan