Lapandoso, Jejak Awal Islam Menyapa Tana Luwu yang Nyaris Terlupakan
LUWU, INDEKSMEDIA.ID – Di bibir pantai Desa Pabbaresseng, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, berdiri sebuah monumen sederhana yang menyimpan kisah besar perjalanan sejarah Tana Luwu.
Tempat itu dikenal sebagai Lapandoso, sebuah situs yang diyakini menjadi titik awal masuknya Islam ke Kerajaan Luwu sekaligus salah satu penanda penting penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.
Bagi sebagian orang, Lapandoso mungkin hanya tampak sebagai sebuah monumen di tepi pantai. Namun, bagi masyarakat Luwu, kawasan ini merupakan ruang sejarah yang merekam perjumpaan pertama antara peradaban lokal dengan ajaran Islam pada awal abad ke-17.
Berdasarkan tradisi lisan masyarakat yang diperkuat sejumlah kajian sejarah dan arkeologi, Datuk Sulaiman atau Dato Patimang bersama rombongannya diyakini pertama kali berlabuh di muara Sungai Pabbaresseng sebelum melanjutkan perjalanan menemui penguasa Kedatuan Luwu.
Lapandoso dipercaya menjadi tempat berpijaknya langkah awal dakwah Islam yang kemudian mengubah arah perjalanan sejarah kerajaan tertua di Sulawesi Selatan tersebut.
Nama Lapandoso sendiri diyakini berasal dari bahasa Luwu, yakni dari kata pandoso yang berarti pancang atau tongkat penambat perahu. Nama itu merujuk pada tempat para mubaligh menambatkan perahu mereka sesaat setelah tiba di pesisir Luwu.
Maddika Bua, Andi Saifuddin Kaddiraja, menjelaskan bahwa sebelum tiba di Luwu, tiga mubaligh penyebar Islam lebih dahulu mendatangi Kerajaan Gowa untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka.
Namun, saat itu Somba ri Gowa masih berusia sekitar tujuh tahun sehingga pertemuan dilakukan dengan Raja Tallo yang menjabat sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa.
“Ketika ketiga mubaligh tersebut menyampaikan keinginan untuk menyebarkan ajaran Islam, Raja Tallo memberikan jawaban yang kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah,” jelas Maddika Bua.
Ia menyampaikan bahwa sebelum Gowa memeluk Islam, sepatutnya terlebih dahulu ada kerajaan yang lebih tua menerimanya, yakni Kedatuan Luwu.
Berbekal petunjuk tersebut, ketiga mubaligh kemudian berlayar menuju Luwu menggunakan sebuah perahu bernama Kimara. Mereka pertama kali menambatkan perahu di kawasan yang kini dikenal sebagai Lapandoso.
Kedatangan rombongan itu pertama kali diketahui oleh seorang nelayan bernama Latiwajo. Ia kemudian melaporkan keberadaan para tamu tersebut kepada Maddika Bua, pemimpin wilayah saat itu yang dikenal dengan nama Tandipau.
Maddika Bua kemudian menemui ketiga mubaligh di kawasan Pabbaresseng. Pertemuan itu diwarnai dialog panjang mengenai ajaran Islam.
Menurut Andi Saifuddin, salah satu pertanyaan utama yang disampaikan Maddika Bua saat itu adalah apakah Islam akan menghilangkan adat dan budaya masyarakat Luwu.
Para mubaligh menjelaskan bahwa Islam tidak datang untuk merusak budaya, melainkan memperkuat nilai-nilai luhur yang telah hidup di tengah masyarakat selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Penjelasan tersebut akhirnya meyakinkan Maddika Bua beserta perangkatnya. Mereka kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda menerima Islam.
Sekitar enam bulan setelah peristiwa di Lapandoso, Maddika Bua mengantar ketiga mubaligh menuju pusat Kedatuan Luwu yang saat itu berada di Malangke.
Dari sanalah dakwah Islam berkembang hingga akhirnya diterima oleh Datu Luwu ke-15, La Patiware Daeng Parabung. Setelah memeluk Islam, beliau memperoleh gelar Sultan Muhammad Waliyul Mudharuddin.
Penerimaan Islam oleh penguasa Luwu menjadi tonggak penting dalam sejarah kerajaan. Sejak saat itu, sistem pemerintahan mulai mengakomodasi lembaga-lembaga keagamaan, seperti qadhi, serta melahirkan perpaduan antara adat istiadat Luwu dengan nilai-nilai syariat Islam yang kemudian membentuk wajah sosial, budaya, dan hukum masyarakat hingga kini.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap peristiwa bersejarah tersebut, dibangun Monumen Lapandoso di kawasan yang diyakini sebagai lokasi pendaratan pertama Datuk Sulaiman bersama rombongannya.
Monumen itu kini menjadi penanda sejarah sekaligus pengingat bahwa syiar Islam di Tana Luwu berawal dari pesisir sederhana yang menghadap Teluk Bone.
Sayangnya, nilai historis Lapandoso hingga kini belum sepenuhnya dikenal masyarakat luas. Padahal, situs ini bukan sekadar destinasi wisata sejarah, melainkan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Tana Luwu.
Andi Saifuddin Kaddiraja menilai Lapandoso layak mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah sebagai pusat edukasi sejarah, religi, dan kebudayaan agar jejak awal masuknya Islam di Luwu tetap terpelihara dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Ini sejarah nasional yang luar biasa, tetapi mengapa pemerintah daerah belum mengangkat sejarah ini secara maksimal? Jika dibiarkan terus, bukan tidak mungkin simbol-simbol sejarah di Lapandoso akan hilang,” ujarnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Luwu memberikan perhatian lebih melalui upaya pelestarian kawasan, perawatan situs sejarah, serta penyelenggaraan kegiatan budaya dan edukasi yang melibatkan masyarakat, khususnya generasi muda.
“Seharusnya ada perhatian lebih, baik dari sisi pelestarian maupun edukasi, agar sejarah ini tidak hilang dan generasi muda mengetahui bagaimana Islam pertama kali masuk ke Tanah Luwu,” katanya.
Beberapa tahun lalu, masyarakat bersama sejumlah pemerhati sejarah juga pernah menggelar napak tilas dari Lapandoso menuju Assalang, lokasi makam Tandipau yang diyakini sebagai tokoh pertama di wilayah Luwu yang menerima Islam. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya menjaga ingatan kolektif atas perjalanan dakwah Islam di Bumi Sawerigading.
Lapandoso mengajarkan bahwa sejarah besar tidak selalu lahir dari bangunan megah atau pusat-pusat kekuasaan. Terkadang, sejarah justru bermula dari sebuah muara, sebuah pancang penambat perahu, dan langkah seorang ulama yang datang membawa cahaya peradaban.
Hingga kini, ombak yang terus menyapu pesisir Pabbaresseng seolah masih menjaga jejak perjalanan itu sebuah kisah tentang bagaimana Islam pertama kali bersemi di Tana Luwu dan kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Bumi Sawerigading.




Tinggalkan Balasan