Disbudpar Palopo Dukung Inovasi Digital Pembelajaran Budaya di Sekolah

PALOPO,IMDEKSMEDIA.ID – Dalam upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah di tengah gempuran teknologi dan budaya asing, Tim Indonesiana bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palopo menggelar Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Sekolah Berbudaya Bangsa Berdaya, Inovasi Media Pembelajaran Literasi Budaya Sebagai Upaya Peningkatan Literasi dan Pelestarian Budaya Sulawesi Selatan Berbasis Aplikasi Digital”.

Kegiatan digelar di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palopo pada Kamis (21/5/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Layanan Produksi Media untuk Penciptaan Karya Kreatif Inovatif, di bawah naungan Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Turut hadir Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palopo, Emil Nugraha Salam, serta para peserta yang terdiri dari perwakilan dinas terkait, akademisi, budayawan, praktisi seni budaya, dan guru seni budaya.

Tim pelaksana dari Indonesiana nampak hadir antara lain Sahrir, S.Pd., M.Pd selaku Ketua, didampingi Andi Nurlinda Thamrin, Dr. Abdul Kadir, Andi Syaifudin Kaddiraja (Budayawan), Husnul Khatimah Hapid, Padri Padelang Noor, dan Dwi Senjaya Amorang.

Dalam sambutan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palopo, Emil Nugraha Salam memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi yang terjalin.

“Inovasi media pembelajaran budaya berbasis digital adalah langkah strategis dan sangat penting agar budaya lokal tetap eksis dan dikenal generasi penerus. Kami sangat terbuka dan mengundang seluruh pegiat budaya, akademisi, hingga anak muda untuk terus berinovasi menjaga warisan kita, khususnya budaya Luwu dan Sulawesi Selatan. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar pelestarian ini berjalan berkelanjutan dan terintegrasi dengan baik dalam dunia pendidikan,” ujar Emil.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ketua Tim Indonesiana, Sahrir, yang memperkenalkan konsep pengembangan aplikasi “Nusantara EduCulture”.

Aplikasi ini dirancang sebagai wadah pembelajaran budaya yang interaktif, mudah diakses, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik masa kini.

Sahrir menjelaskan, latar belakang kegiatan ini didorong kekhawatiran akan berkurangnya minat generasi muda terhadap kearifan lokal, serta masih terbatasnya akses materi budaya yang terintegrasi ke dalam kurikulum sekolah.

“Banyak kekayaan budaya kita yang belum terdokumentasi baik dan belum menjadi materi pembelajaran yang menarik. Lewat aplikasi ini, kami ingin budaya masuk ke ruang kelas dengan cara yang seru, kekinian, dan bermanfaat. Harapannya terbangun kerja sama erat antara dinas pendidikan, kebudayaan, budayawan, dan akademisi agar materi yang disampaikan benar, akurat, dan bernilai tinggi,” tegas Sahrir.

Dalam sesi diskusi, para peserta sepakat bahwa Dinas Kebudayaan memegang peran vital dalam memverifikasi dan memvalidasi materi budaya agar tetap sesuai nilai aslinya.

Beberapa referensi budaya juga disepakati menjadi materi utama, antara lain buku “TOUGI”, serta merekomendasikan Andi Sulolipu selaku Tim Ahli Cagar Budaya sebagai narasumber utama dalam penyusunan konten.

Selain itu, disepakati pula perlunya penyusunan daftar inventaris budaya daerah berbasis data resmi dinas sebagai dasar materi pembelajaran.

FGD ini menghasilkan tiga keluaran utama, dokumen pemetaan materi seni budaya yang selaras kurikulum, draf silabus mata pelajaran seni budaya, serta rekomendasi teknis pengembangan aplikasi digital.

Dokumen tersebut nantinya menjadi acuan tim pengembang untuk mewujudkan media belajar budaya yang adaptif dan efektif, menjamin warisan budaya Sulawesi Selatan tetap lestari dan hidup di tengah masyarakat, khususnya di kalangan pelajar.(Andri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!