AI Semakin Cerdas, Pendidikan Jangan Kehilangan Arah

Wan

Oleh: A. Rastia (Mahasiswa Pendidikan Agama Islam UIN Palopo)

PALOPO, INDEKSMEDIA.ID – AI dapat mempercepat tugas tetapi belum tentu memperdalam belajar. Nilai AI juga ditentukan oleh cara kita menggunakannya, bisa memiliki dampak positif dan negatif.

Contoh dampak positifnya ialah AI dapat memperluas belajar, sedangkan dampak negatifnya ialah ketergantungan kognitif, serta halusinasi dan informasi palsu.

6I menjaga manusia tetap menjadi pusat pembelajaran:

1. Identify the Goal
Mulai dengan apa yang ingin dipahami bukan dengan aplikasi apa yang ingin dibuka.

2. Initiate Independently
Aktifkan pengetahuan sendiri sebelum meminta bantuan.

3. Interact Strategically
Gunakan AI untuk memperluas pemikiran, bukan menggantikannya.

4. Inspect the Evidence
Respons yang lancar dan percaya diri tetap dapat salah.

5. Internalize Knowledge
Tutup respons AI; jelaskan kembali dengan bahasa dan contoh sendiri.

6. Introspect & Disclose
Bedakan kontribusi AI dan kontribusi intelektual diri sendiri.

Penggunaan AI yang baik adalah mengubah AI dari mesin menjadi mitra berpikir. Mahasiswa tetap harus memiliki tujuan, berpikir mandiri, memeriksa informasi, dan bertanggung jawab atas hasil belajarnya.

Selanjutnya AI sebagai Mitra Pembelajaran PAI di Era Digital. Dunia pendidikan saat ini sedang mengalami perubahan yang cukup besar seiring dengan berkembangnya teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

AI dapat membantu peserta didik dalam mencari dan menjelaskan informasi, membuat rangkuman, menerjemahkan teks, membuat soal dan materi, membantu penyusunan tugas, memberikan umpan balik, membuat gambar, audio, dan video, bahkan dapat digunakan sebagai tutor belajar pribadi.

AI dapat digunakan untuk memahami bahasa, mengenali pola, menghasilkan teks, menganalisis data, memberikan rekomendasi, menghasilkan gambar, audio, dan video. Salah satu jenis AI yang berkembang saat ini adalah Generative AI, yaitu AI yang mampu menghasilkan konten baru berdasarkan instruksi dari pengguna.

Penggunaan AI di kalangan mahasiswa juga semakin meningkat. AI juga sudah menjadi bagian dari kehidupan belajar peserta didik. Karena itu, sekolah tidak cukup hanya menentukan apakah AI boleh atau tidak boleh digunakan, tetapi perlu mengajarkan peserta didik bagaimana menggunakan AI secara bertanggung jawab.

PAI memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran yang hanya berorientasi pada pengetahuan. PAI setidaknya memiliki tiga dimensi, yaitu kognitif, afektif, serta psikomotor dan spiritual.

AI memang sangat kuat dalam memberikan informasi, tetapi pembentukan iman, karakter, adab, dan keteladanan tetap membutuhkan manusia serta pengalaman nyata.

Peserta didik juga perlu memiliki kompetensi dalam menghadapi perkembangan AI. Mereka harus memahami posisi manusia dalam penggunaan AI, memiliki pemahaman mengenai etika dan tanggung jawab, serta mengetahui bagaimana AI digunakan.

Pengaturan mengenai durasi, jenis platform, dan batasan akses perlu dibedakan mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi. Semakin rendah usia peserta didik, semakin ketat pula pengawasan dan pengendalian penggunaan teknologi digital. Prinsip kejujuran akademik, perlindungan data pribadi siswa, serta kesejahteraan psikologis peserta didik tetap harus diperhatikan.

Oleh karena itu, AI sebaiknya digunakan sebagai mitra pembelajaran dengan tetap mengutamakan kemampuan berpikir kritis, verifikasi informasi, etika, kejujuran akademik, keamanan data, dan nilai-nilai Islam. Intinya, teknologi harus membantu manusia menjadi lebih baik, bukan membuat manusia kehilangan kemampuan untuk berpikir dan bertindak secara bertanggung jawab.

Dan yang terakhir Introspeksi Pendidikan dan AI: Mendidik Manusia atau Mengejar Ledakan Teknologi? Perkembangan AI membawa perubahan besar dalam pendidikan. Persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana menggunakan AI, tetapi bagaimana memastikan teknologi tetap mendukung tujuan pendidikan.

AI mengubah cara kita belajar dengan memperluas akses informasi, menyesuaikan materi dengan kebutuhan siswa, serta memberikan umpan balik dengan lebih cepat. UNESCO menekankan bahwa AI dalam pendidikan harus tetap berpusat pada manusia dan mendukung tujuan pendidikan.

AI dapat membantu peserta didik mengetahui sesuatu, tetapi pendidikan tidak berhenti pada pengetahuan. Pendidikan juga bertujuan membentuk cara berpikir, sikap, karakter, tanggung jawab, serta nilai dan moral.

Kemampuan AI dalam memberikan informasi tidak dapat disamakan dengan proses pendidikan yang membentuk manusia secara utuh. Oleh karena itu, penggunaan AI perlu tetap menjaga prinsip tauhid, amanah, keadilan, maslahah, dan akhlak.

AI dapat memperkuat pendidikan ketika digunakan secara tepat dan responsible. Teknologi bisa semakin cerdas, tetapi tujuan pendidikan tetap membentuk manusia yang cerdas, beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!