Potret Buram Lapandoso yang Terabaikan, Janji Perbaikan Dimulai Tahun Ini?

Wan

LUWU, INDEKSMEDIA.ID – Monumen Lapandoso di Kabupaten Luwu dikenal sebagai situs bersejarah yang diyakini menjadi penanda awal masuknya Islam di Tanah Luwu.

Nilai historis yang tinggi menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu cagar budaya penting. Namun, di balik statusnya sebagai warisan sejarah, kondisi Lapandoso justru dinilai memprihatinkan dan belum mendapat perhatian.

Hasil penelusuran Indeksmedia ke lokasi menunjukkan akses menuju monumen masih jauh dari kata layak. Jalan menuju kawasan bersejarah itu tampak rusak dan belum tersentuh perbaikan yang memadai, sehingga dinilai tidak sebanding dengan nilai sejarah yang dikandungnya.

Kondisi itu mendapat sorotan dari tokoh pemuda asal Cilallang, Muhammad Jaya. Menurutnya, Lapandoso seharusnya menjadi simbol peradaban Islam di Tana Luwu yang dijaga dan dikembangkan, bukan dibiarkan terkesan terbengkalai.

“Lapandoso merupakan cagar budaya yang sangat bernilai bagi Luwu. Namun, jika melihat kondisi tempat dan akses menuju monumen, kondisinya sangat memprihatinkan,” ujarnya saat ditemui dilokasi, Rabu (5/8/2026).

Ia menilai Pemerintah Kabupaten Luwu, khususnya melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, perlu memberikan perhatian lebih terhadap situs tersebut dengan menjadikannya sebagai pusat pembelajaran sejarah yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

“Jika monumen ini tidak dirawat, bukan tidak mungkin sejarahnya hanya akan berkembang menjadi cerita rakyat dengan berbagai versi. Karena itu, bukti sejarah ini harus dijaga agar dapat menjadi objek penelitian sekaligus cagar budaya yang dapat disaksikan langsung oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang,” katanya.

Muhammad Jaya juga berharap Lapandoso dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi dan lokasi studi bagi para pelajar, sehingga generasi muda memahami proses masuknya Islam di Tanah Luwu sekaligus memiliki kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya daerah.

Monumen Lapandoso menjadi penanda sejarah sekaligus pengingat bahwa syiar Islam di Tanah Luwu diyakini bermula dari kedatangan ulama asal Minangkabau, Sumatera Barat, Datuk Sulaiman atau Dato Patimang bersama rombongannya.

Mereka diyakini pertama kali berlabuh di muara Sungai Pabbaresseng sebelum melanjutkan perjalanan untuk menemui penguasa Kedatuan Luwu.

Meski memiliki makna penting, nilai historis situs tersebut hingga kini belum dikenal secara luas oleh masyarakat. Potensi besarnya sebagai destinasi wisata sejarah, religi, dan pendidikan pun belum dikembangkan secara optimal.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Luwu telah menyatakan komitmennya untuk mengembangkan kawasan tersebut sebagai salah satu destinasi wisata prioritas.

Rencana itu disampaikan Bupati Luwu, H. Patahudding, saat ditemui Indeksmedia pada Senin (27/10/2025) tahun lalu.

Menurut Patahudding, proyek pengembangan wisata religi Lapandoso ditargetkan rampung selama masa kepemimpinannya.

“Jadi harus selesai semasa saya menjabat karena itu janji politik saya. Lapandoso itu kita mau berdayakan karena tiap tahun kita adakan Napak Tilas. Kita ini memperlihatkan seperti apa syiar Islam disana,” terangnya.

Menyambut baik rencana pembangunan tersebut, Maddika Bua, Andi Saifuddin Kaddiraja memberikan catatan penting agar proses revitalisasi tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata.

“Saya berharap perbaikannya tidak asal dibangun saja, tetapi benar-benar mempertimbangkan manfaat jangka panjang, baik untuk pelestarian sejarah maupun pengembangan edukasi dan wisata budaya,” tutur Madikka Bua saat ditemui di kediamannya.

Dengan nilai sejarah yang dimilikinya, Lapandoso menyimpan jejak penting perjalanan Islam di Tanah Luwu. Karena itu, pelestarian situs tersebut bukan sekadar membangun sebuah monumen, melainkan menjaga memori kolektif dan identitas sejarah masyarakat Luwu agar tetap hidup serta dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Tanpa komitmen pelestarian yang berkelanjutan, situs yang menjadi saksi awal penyebaran Islam di Tanah Luwu itu dikhawatirkan akan semakin kehilangan makna dan daya tariknya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!