Tak “Bertaring” Tutup Pabrik Tahu, Aktivis Minta Kadis DLH Palopo Dicopot
PALOPO,INDEKSMEDIA.ID – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama BPOM dan tim terpadu dari Dinas Kesehatan akhirnya mendatangi pabrik tahu yang ada di lorong Lembaga Palopo, Rabu (08/07/2026).
Sesuai laporan warga yang menyebut pengolahan limbah di pabrik tersebut berbau dan mengganggu kenyamanan disaksikan langsung para tim yang datang melakukan investigasi.
Alhasil, ditemukan banyak pelanggaran mulai dari limbah yang tidak sesuai (IPAL), hingga pengolahan tahu yang dinilai melenceng dari kata layak untuk dikonsumsi.
Hanya saja, banyaknya pelanggaran tersebut tidak menjadi tolak ukur DLH untuk memberikan tindakan tegas dengan sanksi menutup sementara pengolahan tahu sampai semua syarat dipenuhi.
Karena hanya teguran biasa, masyarakat pun mengganggap DLH saat ini tak lagi memiliki taring dalam hal wewenang dan penegakan aturan lingkungan yang diberikan ke instansi tersebut.
Imbasnya, Kepala Dinas (Kadis) DLH Kota Palopo, minta di evaluasi sekaligus dicopot dari jabatannya karena dianggap tak mampu bekerja dengan baik.
“DLH Palopo tidak punya taring untuk memberikan sanksi, jika begini terus sebaiknya Kadis DLH dan Kepala Bidang (Kabid) Tata Lingkungan yang mengurusi persoalan tersebut dievaluasi saja kinerjanya,” tegas Aktivis Senior Yertin Ratu, menanggapi hasil investigasi DLH dan BPOM di Pabrik Tahu yang ada di Lorong Lembaga Palopo, siang tadi.
Semua pelanggaran lingkungan, sambung Yertin selalunya hanya selesai di teguran dan secara terus menerus dan sampai kapan hanya dengan teguran saja.
“Maksud kami, jika sudah ditegur dan tidak diindahkan baiknya lakukan penutupan sementara ataukah DLH saja yang ditutup sementara biar tahu tugas dan tanggung jawabnya bukan hanya sekadar mengejar biaya,” terangnya.
Sementara itu, Kebid Tata Lingkungan DLH Kota Palopo, Usniaty menceritakan hasil investigasi saat berada di pabrik tahu. Dia mengatakan kondisi pengolahan air limbahnya ada 3 septiktank lubang air, belum sesuai, diarahkan untuk segera membenahi.
Dari pemilik usaha tahu, mengatakan bahwa dalam waktu dekat akan pindah dari tempat tersebut.
“Kami berikan saran agar di tempat baru untuk pengolahan air limbahnya berkonsultasi dengan yang faham pembuatan IPAL karena kalau salah pembuatannya air limbah tidak terkelola dengan baik,” tutur Usniaty.
Usniaty juga mengatakan, di pabrik tahu tersebut terdapat pula ternak bebek sekitar 40 ekor, hal itulah yang disebut menambah sumber bau bercampur dengan kotoran bebek
“Kami bekerja dengan iklas, ada keluhan kami turun adapun kebijakan penutupan wewenang APH,” tutup Usniaty.




Tinggalkan Balasan