Konten Kreator Disorot Usai Promosikan Menu Cafe di Palopo, Gunakan Istilah Sensitif Budaya Luwu

Gie

PALOPO, INDEKSMEDIA.ID – Sebuah cafe dan resto bernama Triple A di Kota Palopo menjadi perbincangan hangat di media sosial usai sebuah konten promosi menu yang dibuat oleh konten kreator bernama M. Irfan viral dan menuai kritik. Dalam konten tersebut, nama menu yang dipromosikan menggunakan istilah Parede Ikan Bomb* dan Rujak Las*, yang belakangan diketahui memiliki makna sensitif dalam budaya Luwu.

Menanggapi polemik tersebut, Pemerhati dan Pelaku Budaya di Palopo, Sharma Hadeyang, terus angkat bicara. Ia menilai persoalan ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi para konten kreator agar lebih memahami konteks budaya sebelum membuat dan menyebarkan konten ke ruang publik.

Sharma menegaskan bahwa profesi konten kreator tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas dan keberanian tampil, namun juga harus dibarengi dengan pemahaman etika, norma, serta kearifan lokal daerah yang menjadi latar konten tersebut. Ia menyayangkan masih adanya kreator yang dinilai kurang sensitif terhadap makna sebuah istilah.

“Harusnya banyak belajar sebagai Konten Kreator, bukan asal gerak dan asal ngomong,” ujarnya dikutip dari kolom komentar akun Facebook pribadinya, Sabtu (13/12/2025).

Lebih lanjut, Sharma menilai bahwa dorongan mengejar viralitas dan popularitas kerap membuat sebagian kreator abai terhadap batas-batas kepantasan. Padahal, menurutnya, setiap ucapan dan tindakan di ruang publik memiliki dampak, terlebih jika menyangkut identitas budaya suatu daerah.

“Pahami dengan bijak segala tindakan dan ucapan bukan sekadar mencari sensasi atau popularitas hingga menabrak norma-norma yang ada,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan latar budaya antar daerah di Indonesia harus menjadi perhatian serius. Sebuah istilah yang dianggap lumrah di satu wilayah, bisa memiliki makna yang sangat berbeda dan sensitif di daerah lain, seperti yang terjadi di Kota Palopo.

“Jangan membawa budayamu ke daerah orang lain, jika tidak mau dikritik karena mungkin di daerahmu makna kata itu kamu anggap biasa-biasa saja, tetapi di Kota Palopo ini yang merupakan pusat peradaban dan pusat Budaya Luwu tidak seperti itu,” jelasnya.

Sharma menekankan pentingnya prinsip menghormati budaya lokal di mana pun seseorang berada. Menurutnya, sikap saling menghargai adalah fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat, terlebih di tengah era digital yang serba cepat dan terbuka.

“Harusnya kamu bersikap dimana bumi dipijak di situ langit dijunjungan, jangan sebaliknya,” tandasnya.

Diketahui stilah Bomb* dalam budaya masyarakat Luwu merujuk pada jenis kelamin perempuan, sementara Las* dimaknai sebagai jenis kelamin laki-laki. Penggunaan istilah tersebut sebagai nama menu dinilai sebagian kalangan tidak etis dan berpotensi melukai nilai-nilai budaya lokal, terlebih Palopo dikenal sebagai pusat peradaban dan budaya Luwu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!