Wabup Lutra Minta Tolong Menhut Bantu Tangani Banjir Panjang di Malangke
PALOPO, INDEKSMEDIA.ID – Wakil Bupati Luwu Utara, Jumail Mappile meminta tolong Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni agar membantunya menangani banjir panjang yang terjadi di Malangke, Kabupaten Luwu Utara. Menurut Jumail, permasalahan banjir Malangke sangat membutuhkan perhatian langsung dari pemerintah pusat.
Keluhan tersebut disampaikan langsung Jumail kepada Menteri Kehutanan pada acara Festival Hutan Toraja di Kecamatan Nanggala, Toraja Utara pada Sabtu (14/6) siang.
Menurut Jumail, banjir mulai merendam ribuan rumah di Kecamatan Malangke, Luwu Utara sejak tahun 2020.
“Di Luwu Utara pak menteri, ada beberapa desa yang telah terendam banjir sejak beberapa tahun lalu akibat sedimentasi sungai dan solusinya saat ini kami berharap ada perhatian (khusus) dari Kementrian Kehutanan terkait daerah aliran sungai (DAS) tersebut,” kata Jumail kepada wartawan.
Selain itu, Jumail meminta menteri kehutanan untuk mempercepat langkah pasti terkait penanganan banjir panjang Malangke tersebut.
“Tadi saya yang pertama bertanya, dan pertnyaan saya terkait penangan banjir di sungai-sungai yang berada di Luwu Utara, ada beberapa sungai memang yang sedimentasinya sudah cukup tinggi sehingga menyebabkan banjir,” ucapnya.
Tambahnya, saat ini hal yang sangat dibutuhkan dalam penanganan banjir panjang itu adalah alat pengeruk pasir sungai.
“Dibutuh saat ini tentunya alat untuk pengerukan, kalo pengerukan alatnya dari Kementrian PU, tetapi untuk penanganan DAS dan hulu dan aliran sungai ini memang di Kementrian Kehutanan,” jelasnya.
“Ternyata tadi di respon langsung oleh menteri, sekjen dan dirjennya. Sehingga ada saran terakhirnya kita akan mengadakan FGD (Focus Group Discussion) di Luwu Utara dengan mengundang Kementrian PU dan Kementrian Kehutanan termasuk pemerintah provinsi,” tutupnya.
Untuk diketahui, Bupati Luwu Utara Andi Abdullah Rahim mengungkap sudah lebih 2.000 rumah warga terendam banjir di Malangke. Jumlah rumah terendam naik signifikan sejak banjir mulai merendam permukiman warga setahun lalu.
“Kebanjiran ini bukan 700-an tapi sekitar 2.000-an (rumah) karena kan itu data lama sebenarnya. Sekarang itu sudah berapa desa. Pattimang itu saja sekitar 1.000 KK itu yang baru terdampak, belum terdata di data yang sebelumnya itu,” kata Andi Rahim kepada detikSulsel, Senin (14/4/2025).




Tinggalkan Balasan