Menjadi Tenang Dengan Membaca Buku

Oleh : Nurdin (Mahasiswa UIN Palopo)

KAWAN saya mengatakan, “Akhir-akhir ini public speaking pejabat, di antaranya ada yang cenderung asal-asalan yang kemudian menjadi perdebatan, menjadi bahan ejekan di tengah masyarakat. Ada yang reaktif, cepat marah jika dikritik. Kenapa?”

“Satu dari sekian penyebabnya, karena tidak terbiasa membaca atau boleh jadi, tidak lagi pernah membaca buku.” Padahal membaca tidak hanya memperkaya isi kepala, tetapi juga melatih cara berpikir, cara memahami, dan cara memperlakukan orang lain.

Cepat marah, biasanya diawali dengan tidak menerima perbedaan pandangan. Atau tidak menerima kritikan, sehingga tidak heran kalau ada pejabat yang omongannya cenderung otoriter “Dia saja yang benar dan yang mau didengar.”

Pembaca buku, baik menerima kritikan maupun pujian, reaksinya akan sama. Sebab, dia terbiasa melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Kalaupun terdapat perbedaan, dia cenderung berdialog daripada sekadar menang dalam perdebatan.

Membaca buku membentuk kedewasaan yang tidak selalu terlihat. Ia belajar mengendalikan emosi, dan juga menghargai orang lain. Tentu tidak hanya menuntaskan sebuah buku, selesai. Tetapi setelah itu, mampu tidak memahami isi buku itu, kemudian mampu tidak menceritakan ulang, yang selanjutnya mampu tidak mempraktikkannya.

Oleh karena, membaca atau yang istilah kerennya literasi, berdampak pada tiga hal penting: Pertama, enlighten (mencerahkan). Kedua, enrichtmen (memperkaya wawasan), dan yang ketiga adalah empowerment (memberdayakan).

Kebiasaan membaca buku, terlihat pada mereka yang selalu tampak tenang dalam menghadapi berbagai persoalan, sebab pengetahuannya luas. Sementara pengetahuan yang sempit, sering kali reaktif dalam menyelesaikan masalah.

Ketika dikritik dan tidak menerima atau bahkan marah adalah bentuk ketidaksadaran bahwa, ilmu pengetahuan justru bertumbuh melalui kritik, perdebatan, dan pengujian. Tidak ada teori besar bertahan hanya karena dipercaya, melainkan harus diuji oleh bukti, ditantang oleh argumen dan diperbaiki oleh penemuan baru.

Sebuah ungkapan yang sangat menarik, “Hominem unius libri timeo” yang sering diterjemahkan menjadi “Aku takut pada orang yang hanya memiliki satu buku” Ungkapan ini sering dikaitkan dengan pemikir besar Thomas Aquinas.

Ungkapan Thomas Aquinas di atas, ingin mengingatkan kepada kita tentang bagaimana bahayanya bagi orang, atau mereka yang hanya memahami satu sudut pandang yang diakibatkan oleh kurangnya literasi.

Bahwa yang paling sulit menerima kritik bukanlah mereka yang tidak tahu, melainkan mereka yang merasa sudah tahu. Hal itu disebabkan oleh karena, semakin sedikit referensi semakin besar rasa paling benar dan umumnya paling reaktif.

Sementara mereka yang berwawasan luas akan senantiasa berhati-hati dalam menyimpulkan. Untuk itu, mari kita merawat rasa keingintahuan sekecil apapun itu dengan membaca. Jadikan setiap halaman sebagai langkah kecil untuk mengubah cara pandang dalam hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!