Jangan Jadikan Amarah Rakyat sebagai Kambing Hitam
Oleh: Muhammad Rio (Wajenlap Aksi Aliansi Tarametekkeng)
LUWU, INDEKSMEDIA.ID – Ada yang lebih mudah dari menjawab tuntutan keadilan yaitu mengalihkan perhatian ke cara orang menuntutnya.
Itulah yang tampak terjadi ketika video aksi massa Aliansi masyarakat Tarametekkeng mulai beredar dan dibingkai sebagai “Anarkisme” Seolah-olah kemarahan warga adalah masalah utamanya, bukan kematian Rifqillah yang hingga kini belum mendapat keadilan yang memuaskan.
Perlu ditegaskan, amarah bukan lahir dari kekosongan. Ia lahir dari proses yang terasa gelap, tuntutan 2 tahun 3 bulan yang dirasa terlalu ringan, CCTV yang kabarnya hilang, dan forum RDP yang buntu karena Kejaksaan tak hadir.
Ketika saluran resmi tak berfungsi, jalanan menjadi pilihan terakhir rakyat. Itu bukan anarkisme itu demokrasi yang sedang kehabisan napas.
Memang, kekerasan dalam aksi apa pun tidak bisa dibenarkan. Tapi menjadikan momen emosional massa sebagai senjata untuk mendelegitimasi seluruh perjuangan keluarga korban itulah penggiringan opini yang sesungguhnya berbahaya.
Publik perlu jernih membaca situasi ini, isu utamanya bukan siapa yang memecahkan kaca. Isu utamanya adalah siapa yang memecahkan kepala seorang anak, dan apakah hukum benar-benar berdiri di pihak kebenaran.
Jangan biarkan sorotan berpindah dari kursi terdakwa ke jalanan Tarametekkeng.




Tinggalkan Balasan