Warga Palopo Curhat di Medsos, Keluhkan Air PDAM Tak Mengalir

Gie

PALOPO, INDEKSMEDIA.ID – Keluhan terhadap pelayanan air bersih kembali mencuat di Kota Palopo. Kali ini, sorotan datang dari warga Perumahan Naifah Lestari, Kelurahan Songka, Kecamatan Wara Selatan, yang mengaku sudah lama mengalami gangguan distribusi air dari Perumda Tirta Mangkaluku (TM).

Keluhan tersebut disampaikan melalui surat terbuka yang beredar di media sosial pada Minggu (12/4/2026). Dalam surat itu, seorang warga bernama Kartika menyampaikan keresahan mendalam atas kondisi air bersih yang dinilai tidak lagi mengalir secara normal di wilayahnya.

Ia menggambarkan bahwa gangguan distribusi air bukan terjadi sesekali, melainkan sudah menjadi persoalan rutin yang dirasakan warga setiap hari. Bahkan, waktu gangguan disebut berlangsung cukup lama, terutama pada jam-jam krusial ketika kebutuhan air rumah tangga sedang tinggi.

“Sudah sekian lama air bersih tidak mengalir di wilayah kami, khususnya dari pagi sampai siang hari dan juga sering terjadi sampai sore hari. Dan itu terjadi setiap hari,” tulisnya.

Lebih jauh, Kartika menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga mengganggu berbagai aktivitas dasar masyarakat. Mulai dari kebutuhan rumah tangga seperti memasak dan mencuci, hingga aktivitas ibadah dan kegiatan ekonomi warga ikut terdampak.

Ia menilai, ketidakstabilan distribusi air ini telah menimbulkan kerugian bagi pelanggan, apalagi kewajiban pembayaran iuran tetap berjalan setiap bulan tanpa mempertimbangkan kondisi layanan yang diterima.

“Hal ini sangat mengganggu aktivitas rumah tangga, ibadah, dan kegiatan ekonomi warga. Kami sangat dirugikan karena setiap bulan tetap membayar iuran,” lanjutnya.

Kartika juga menyampaikan harapan agar pihak manajemen Perumda TM Palopo tidak menutup mata terhadap kondisi yang dialami warga. Ia meminta adanya perhatian serius dan langkah konkret untuk memperbaiki kualitas pelayanan air bersih.

“Kami berharap surat ini mendapat perhatian serius dan segera ditindaklanjuti. Kami merindukan air yang lancar, bersih, dan memuaskan,” tambahnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Perumda TM Palopo, Tawakkal, mengakui bahwa salah satu tantangan dalam pelayanan air bersih di Kota Palopo adalah keterbatasan kapasitas produksi, khususnya pada Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM).

“Kalau air baku banyak, tapi IPAM-nya yang harus ditambah. Itu sudah kami usulkan bersama Ibu Wali Kota ke APBN,” katanya.

Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi distribusi air ke pelanggan, terutama di wilayah-wilayah dengan tekanan layanan yang tinggi.

Pihak Perumda TM juga telah mengusulkan penambahan kapasitas IPAM melalui dukungan anggaran pemerintah pusat guna meningkatkan kualitas layanan di masa mendatang.

Sebelumnya Direktur Utama Perumda Tirta Mangkaluku Palopo, Tawakkal, menegaskan bahwa jumlah direksi di perusahaan daerah air minum ditentukan oleh jumlah pelanggan aktif. Hingga saat ini, Perumda TM Palopo belum memenuhi syarat minimal untuk memiliki tiga direksi.

“Iye, syarat 3 direksi itu 50.000+1 pelanggan. Itu sudah kami komunikasikan dengan Kementerian Dalam Negeri dan mereka bilang itu sudah harga mati, tidak bisa ditawar,” ujar Tawakkal, Minggu (12/4/2026).

Ia menjelaskan, jika jumlah pelanggan belum mencapai angka tersebut, maka struktur direksi harus disesuaikan. Bahkan, jika jumlah pelanggan berada di bawah ambang batas, hanya diperbolehkan satu direksi dan satu dewan pengawas.

“Pokoknya kalau tidak sampai 50.000+1, harus satu direksinya dan satu Dewasnya. Kalau di bawah angka itu, satu ji direksinya,” jelasnya.

Saat ini, jumlah pelanggan Perumda TM Palopo tercatat sebanyak 45.742. Artinya, masih dibutuhkan sekitar 4.000 pelanggan tambahan untuk memenuhi syarat minimal 50.000+1.

Tawakkal mengakui, target tersebut cukup berat untuk dicapai dalam waktu dekat. Dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKAB) tahun ini, pihaknya hanya menargetkan penambahan sekitar seribu pelanggan baru.

“Sedangkan target kami di RKAB cuma lebih seribu untuk tahun ini. Untuk mencapai 50.000 itu agak berat karena kapasitas produksi kita juga terbatas. Kalau dipaksakan, banyak daerah tidak terlayani,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!