Main Mata Dengan Wasit
Oleh : Nurdin (Mahasiswa UIN Palopo)
MEMPERHATIKAN situasi saat ini, hampir setiap omongan pejabat baik ditingkat pusat maupun di daerah-daerah, tidak pernah luput dari kritik masyarakat termasuk pandangan para pengamat dengan gaya dan cara masing-masing.
Masyarakat begitu teliti melihat dan mendengar para pengambil kebijakan yang tampil di TV maupun di berbagai platform medsos, mulai dari penampilan, gaya komunikasi sampai pada substansi penyataannya.
Masalahnya akan menjadi lain jika masyarakat mengkritisi kebijakan pemerintah, lalu ditanggapi dengan tidak berhati-hati. Atau yang diberikan kewenangan untuk menjelaskan kepada publik, tidak jujur..
Ambil contoh, viral belakangan ini kritik yang disampaikan Dr. Dino Patti Djalal, diplomat senior dan pakar kebijakan luar negeri yang pernah menjabat Wemenlu pada era Presiden SBY, menyoal perjalanan presiden ke luar negeri.
Mestinya, pejabat yang ditunjuk untuk mewakili pemerintah memberi penjelasan kepada masyarakat secara detail by data, mengenai poin penting apa saja yang akan disampaikan menjawab argumen sang diplomat.
Kehati-hatian yang saya maksud agar tidak terkesan melemahkan argumen, atau bahkan menyerang karakter orang yang mengkritik, yang memberi nasihat. Dan kalau itu terjadi, boleh jadi ada yang kurang pas dari cara kita berpikir.
Buku berjudul Beyond The Noise oleh Sanaha Purba, dijelaskan mengenai cara berpikir yang kurang pas (kesesatan berpikir). Misalnya, ad hominem (menyerang karakter, identitas, motif, atau keadaan lawan bicara) alih-alih menanggapi argumen lawan.
Padahal benar atau salahnya argumen (kritik), bukan dilihat siapa yang menyuarakannya, tetapi isi atau bobot dari argumen tersebut. Terkadang pula dalam peristiwa yang begitu kompleks, dijawab dengan menyederhanakan peristiwa yang terjadi.
Misalnya, dikatakan bahwa “PSSI sulit menang karena main 90 menit itu berat. Kenapa? Sebab gizinya kurang bagus dan banyak pemain bola lahir dari kampung.” Pernyataan ini bagi sebagian kalangan sangat menyederhanakan peristiwa yang kompleks.
Dan memang “Iya” yang dalam logika disebut Causal Reductionism. Model kesesatan berpikir yang begitu menyederhanakan suatu peristiwa yang begitu kompleks dengan menyebut satu penyebab saja, seperti kurang gizi.
Padahal dalam sepak bola banyak hal yang memengaruhi misalnya, liga yang buruk, insentif yang kurang, belum lagi main mata dengan wasit. Jadi, bukan hanya persoalan kurang gizi, tetapi kombinasi antara hal-hal lainnya.
Ciri kritik yang membangun adalah yang dibarengi dengan solusi
sebagaimana yang disampaikan oleh Pak Dino. Berbeda halnya ketika melontarkan pernyataan akibat ketidaksetujuan terhadap kebijakan pemerintah lalu tidak memberi solusi, bukan kritik namanya.
Hidup di negara demokrasi, kritik adalah sesuatu yang biasa dan mestinya, kita berterima kasih pada mereka yang mengkritisi kebijakan-kebijakan yang diambil sepanjang untuk kemaslahatan bersama, karena merupakan bentuk kecintaan pada pemerintah dan negara.
Dan menanggapinya harus nirkekerasan, termasuk kekerasan verbal apalagi sampai pada kekerasan fisik. Sebab, salah satu ciri kedewasaan seseorang adalah ketika reaksinya terhadap kritik, sama reaksinya pada saat dipuji.(*)




Tinggalkan Balasan