Situs “Bujung Rajeng” Luwu: Sumur Tua yang Menyimpan Jejak Warisan Leluhur
LUWU, INDEKSMEDIA.ID – Kabupaten Luwu merupakan salah satu daerah yang dikenal sebagai daerah dengan kekayaan budaya yang beranekaragam.
Banyaknya situs bersejarah menjadikan Luwu menyimpan cerita masa lalu sekaligus nilai-nilai sakral yang masih dipercayai masyarakatnya hingga kini.
Salah satunya adalah situs budaya Sumur “Bujung Rajeng” yang terletak di Jalan Poros Bajo, Kampung Balo-balo, Kelurahan Balo-balo, Kecamatan Belopa.
Situs budaya yang mulai dilupakan dan kurang tersorot namun menyimpan banyak nilai historis warisan leluhur tanah Luwu.
Nama “Bujung Rajeng” berasal dari fungsinya pada masa lampau sebagai tempat mandi para Rajeng Balo-balo. Dalam struktur pemerintahan adat, Rajeng merupakan pejabat yang berada di bawah Datu dan setara dengan Ma’dika, atau dapat dianalogikan sebagai menteri dalam sistem kedatuan.
Menurut keterangan Erham Ranco, mantan Lurah Balo-balo (2013), air Bujung Rajeng dipercaya memiliki nilai sakral. Hingga kini, masyarakat masih memanfaatkannya untuk berbagai hajat, seperti memohon keturunan atau jodoh. Caranya dengan mengambil air, membacakan doa atau mantra, lalu diminum atau diusap ke bagian tubuh tertentu.
Salah satu Tokoh Adat Andi Saddakati, menguatkan jika Bubung Rajeng adalah sebuah mata air yang digunakan mandi oleh Rajeng pertama. Umur dari mata air ini sudah 500 tahun dan setiap ada orang yang akan dilantik menjadi Rajeng oleh Datuk Luwu di basuh dengan air yang berasal dari mata air itu. (Batarapos)
Secara historis, Bujung Rajeng awalnya merupakan sumur tanah alami berbentuk persegi dengan ukuran panjang 258 cm, lebar 251 cm, dan tinggi luar 38 cm dari permukaan tanah, serta kedalaman sekitar satu meter.
Meski tergolong dangkal, sumur ini tidak pernah kering, bahkan saat musim kemarau. Sebaliknya, pada musim hujan, airnya kerap meluap keluar, yang semakin menguatkan kepercayaan masyarakat bahwa sumber airnya tidak pernah habis.
Pada 24 November 2013, sumur ini sempat ditata oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Luwu. Penataan dilakukan dengan pembangunan atap serta perbaikan area sekitar yang berada di lingkungan permukiman warga.
Di sekelilingnya juga terdapat kebun dengan berbagai tanaman seperti kakao, kelapa, pisang, dan semak belukar. Bahkan, warga setempat turut menghibahkan sebagian lahannya untuk pembangunan akses jalan guna mendukung kunjungan wisata.
Akses menuju ke lokasi cukup mudah. Pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Dari jalan poros hingga ke area sumur, jalur sudah dilengkapi paving blok sehingga memudahkan perjalanan.
Namun, penataan tersebut belum sepenuhnya optimal. Desain sumur yang tertutup tanpa sistem pembuangan air menyebabkan air menjadi tergenang, keruh, dan dipenuhi kecebong. Idealnya, sumur dilengkapi saluran pembuangan agar air tetap mengalir dan kejernihannya terjaga.
Dengan nilai sejarah dan kepercayaan yang masih melekat, Bujung Rajeng bukan hanya sekadar situs budaya, tetapi juga simbol kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. Karena itu, keberadaannya perlu terus dipelihara dan dikembangkan sebagai bagian dari warisan budaya daerah.
Sumber: Buku “Cagar Budaya Luwu” yang diterbitkan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar.




Tinggalkan Balasan