Antara Karir dan Parenting: Membentuk Anak Pancasilais
OPINI, INDEKSMEDIA.ID – Setiap 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Bukan sekadar upacara, tapi momen untuk mengingat bahwa nilai dasar bangsa ini pernah diuji dan tetap bertahan. Di tengah kesibukan sebagai perempuan bekerja, saya merasakan ujian serupa: bagaimana caranya tetap profesional di kampus, sambil memastikan anak tumbuh dengan karakter yang kuat.
Proyeksi ILO untuk 2025 mencatat partisipasi perempuan Indonesia dalam dunia kerja mencapai 54,8 persen. Angka ini membuktikan bahwa perempuan kian aktif berkontribusi. Ada sisi lain yang jarang dibicarakan. Riset terbaru tahun 2025 mengungkap bahwa ibu bekerja di Indonesia mengalami job burnout pada level cukup tinggi hingga sedang. Sebagai seorang dosen berusia 30 tahun, dengan anak laki-laki yang menjelang dua tahun, saya merasakan langsung tantangan ini.
Setiap hari saya berusaha menyeimbangkan berbagai peran. Di satu sisi ada tanggung jawab profesional, di sisi lain ada keinginan untuk hadir sepenuhnya bagi anak. Kadang rasa bersalah muncul karena merasa waktu bersama anak kurang. Justru dari sanalah saya belajar bahwa yang terpenting bukan seberapa lama, melainkan seberapa bermakna kita hadir.
Rumah adalah tempat pertama dan utama untuk menghidupkan Pancasila. Saya mengajarkan anak sejak dini untuk mengeksplor dunia, membawanya liburan, membacakan buku, dan yang terpenting mendengarkan suaranya. Saat saya berusaha memahami emosinya dan memeluknya dengan penuh kehangatan, saya sedang mempraktikkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Saya juga belajar mengelola emosi dengan baik, karena anak adalah cerminan kita. Setiap menit bersama anak adalah pembelajaran berharga tentang kesabaran, empati, dan cinta tanpa syarat. Saat suami dan saya berbagi tanggung jawab keluarga secara adil, kami sedang mempraktikkan keadilan sosial.
Burnout bukan isapan jempol. Survei ILO tahun 2023 yang dipublikasikan tahun 2024 mengungkap 79,3 persen responden perempuan Indonesia menanggung beban ganda, antara tuntutan karir dan ekspektasi domestik. Data BPS tahun 2024 mencatat 14,37 persen pekerja perempuan Indonesia merupakan female breadwinners yang tidak hanya bertanggung jawab atas kesejahteraan finansial, tetapi juga tetap menjalankan tugas domestik. Bahkan 47,65 persen di antaranya menyumbang 90 hingga 100 persen dari total pendapatan keluarga.
Seorang rekan dosen pernah bercerita, ia hampir kehilangan kedekatan dengan anaknya karena terlalu lelah. Dengan konsisten meluangkan waktu berkualitas setiap hari, sekadar mendongeng atau bermain selama 30 menit, hubungan emosional mereka kembali erat.
Kunci dari semua ini ada pada self love. Bukan egois, tapi justru investasi. Ibu yang bahagia dengan dirinya akan lebih sabar mendidik anak, lebih fokus di tempat kerja, dan lebih hangat dalam keluarga. Self love itu sederhana bagi saya: merawat diri agar tetap percaya diri, memberi ruang untuk recharge, atau menghabiskan akhir pekan jalan-jalan santai bersama keluarga. Energi positif dari momen-momen kecil ini nyata terasa dalam keseharian.
Tulisan ini bukan tentang memilih karir atau keluarga. Ini tentang menemukan keseimbangan. Perempuan bukan pelengkap, kita adalah pilar. Lewat pengasuhan yang penuh cinta, anak-anak kita akan tumbuh bukan hanya pintar dan sehat, tetapi juga Pancasilais. Mereka akan menjadi generasi yang beriman, berempati, mencintai persatuan, menghargai perbedaan pendapat, dan menjunjung keadilan.
Hari Kesaktian Pancasila mengajarkan ketangguhan menghadapi tantangan zaman. Begitu pula dengan keluarga kita. Nilai Pancasila harus terus ditanamkan, meski gawai dan budaya serba instan mencoba mengalihkan perhatian. Sebagai ibu muda yang terus belajar menyeimbangkan peran, saya yakin kuncinya ada pada tiga hal: prioritaskan keluarga, kerja dengan profesional, dan cintai diri dengan penuh kasih. Jika ketiganya berjalan harmonis, generasi Pancasilais yang tangguh akan lahir dari tangan kita.
Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Mari jaga nilai luhur bangsa, dimulai dari keluarga kita masing-masing. Untuk semua working mom di luar sana, teruslah berjuang dengan penuh cinta. Kalian luar biasa.
Penulis: Ria Amelinda (Dosen Komunikasi, Universitas Islam Negeri Palopo)




Tinggalkan Balasan