SPPG di Luwu Hentikan Operasional Sementara, Program MBG Ikut Terdampak

Gie

LUWU, INDEKSMEDIA.ID – Sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Luwu menghentikan operasionalnya untuk sementara waktu. Informasi ini disampaikan melalui unggahan resmi akun media sosial masing-masing SPPG, yang menyebut penghentian dilakukan hingga waktu yang belum ditentukan.

Keputusan ini sontak menjadi perhatian masyarakat, terutama para orang tua dan siswa yang selama ini menerima manfaat dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tidak sedikit yang mempertanyakan kelanjutan program tersebut selama masa penghentian operasional berlangsung.

SPPG Luwu Larompong Komba dalam keterangannya menjelaskan bahwa keputusan menghentikan layanan bukan hal yang mudah. Mereka menegaskan langkah ini diambil setelah melalui berbagai pertimbangan, termasuk kondisi operasional di lapangan yang belum memungkinkan untuk tetap berjalan normal seperti biasa.

“Kami dengan berat hati mengatakan berhenti operasional untuk sementara waktu hingga waktu yang belum dapat ditentukan,” tulis pihak SPPG dalam unggahannya seperti yang dilihat pada Senin (6/4/2026).

Selain itu, pihak pengelola juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dan mendukung jalannya program selama ini. Antusiasme dari tenaga pendidik, peserta didik, hingga layanan posyandu disebut menjadi semangat tersendiri dalam menjalankan program tersebut.

“Terimakasih untuk bapak/ibu guru, adik-adik dan posyandu untuk antusias kalian selama ini, sampai jumpa kembali,” lanjutnya.

Di wilayah lain, SPPG Luwu yang berada di Walenrang Utara juga menyampaikan hal serupa. Mereka mengungkapkan bahwa penghentian operasional sudah mulai diberlakukan sejak awal April 2026, dengan alasan utama adanya pembenahan sarana dan prasarana guna meningkatkan kualitas layanan ke depan.

“Terhitung mulai tanggal 03 April 2026 SPPG Luwu, Walenrang Utara, Bolong berhenti operasional sementara dikarenakan ada perbaikan fasilitas dan renovasi SPPG,” tulis pengelola.

Meski harus menghentikan layanan untuk sementara waktu, pihak SPPG memastikan bahwa upaya perbaikan ini dilakukan demi memberikan pelayanan yang lebih optimal nantinya, termasuk peningkatan kualitas menu yang akan disajikan kepada penerima manfaat.

“Tunggu kami dengan menu yang bergizi dan lebih bervariatif lagi,” tandasnya.

Penghentian operasional ini turut berdampak langsung pada pelaksanaan program MBG yang selama ini dirasakan manfaatnya oleh para siswa. Program tersebut dinilai membantu meringankan beban ekonomi keluarga, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan makan harian anak.

Reaksi masyarakat pun mulai bermunculan di media sosial. Sebagian mengaku cukup terbantu dengan adanya program tersebut dan berharap layanan bisa segera kembali berjalan seperti semula.

“Padahal dari MBG kami bisa hemat,” tulis salah seorang warganet di kolom komentar.

Hingga kini, belum ada kepastian kapan operasional SPPG di wilayah tersebut akan kembali normal. Namun pihak pengelola memastikan penghentian ini hanya bersifat sementara sambil menunggu proses perbaikan dan kesiapan layanan kembali optimal.

Sementara itu, Pemerintah mencatat 2.162 SPPG telah menerima peringatan. Dari jumlah itu, 1.789 dapur dihentikan sementara operasionalnya, 368 mendapat surat peringatan pertama (SP-1), dan 5 lainnya menerima SP-2 karena pelanggaran yang lebih serius.

“Secara umum, capaian program menunjukkan progres positif, namun distribusi ke pesantren perlu dipercepat. Atas perintah presiden, kita diminta sudah sempurna sebelum akhir tahun,” ujar Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Sabtu (4/4/2026).

Realisasi program hingga 30 Maret 2026 menunjukkan jangkauan yang sangat luas. MBG disebut sudah menyasar 61.680.043 penerima manfaat di 38 provinsi, dengan 26.066 SPPG aktif beroperasi.

“Hingga 30 Maret 2026, pelaksanaan Program MBG telah menjangkau 61.680.043 penerima manfaat di 38 provinsi” jelasnya.

Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) beri peringatan sebanyak 2.100 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait kualitas layanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sementara 1.789 SPPG lainnya dikenakan penghentian sementara (suspend) karena belum daftarkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi.

Menurut Kepala BGN Dadan Hindayana, langkah tersebut diambil sebagai bentuk pengawasan dan memastikan bahwa standar layanan tetap terpenuhi.

“Sebanyak 2.100 SPPG telah diberikan peringatan, sementara 1.789 lainnya dihentikan sementara (suspend) operasionalnya. Sebagian besar suspensi dilakukan, karena sejumlah SPPG belum mendaftarkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS),” kata Dadan sebagaimana dikutip dari Antaranews, Kamis (2/4/2026).

Dadan juga mengungkapkan bahwa ada SPPG yang sudah mendaftar, namun sertifikatnya belum terbit dalam waktu satu bulan. Dadan menuturkan SPPG yang memiliki layanan baik, tetap dapat disuspensi apabila SLHS belum keluar.

“Suspensi dilakukan sementara hingga dokumen tersebut (SLHS) terbit. Nanti data ini berkembang, karena bisa saja dalam dua sampai tiga hari SLHS-nya keluar,” katanya.

Faktor lain yang menyebabkan suspensi adalah belum tersedianya Instalasi Pengolahan Air Limbah (Ipal). Oleh karena itu BGN meminta SPPG yang belum memiliki Ipal untuk segera membangunnya terlebih dahulu.

“Durasi suspensi bergantung pada kecepatan masing-masing unit dalam memenuhi persyaratan tersebut, yang diperkirakan berkisar antara satu hingga dua minggu,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!