Anak Muda, Khatib Dadakan

Oleh : Nurdin (Mahasiswa UIN Palopo)

ADA yang menarik saat salat Jumat di Masjid Al Munawwarah di wilayah perumahan Anggrek, Kota Palopo. Sebelum pelaksanaan khutbah Jumat berlangsung, salah seorang pengurus masjid berdiri mengatakan “Apakah ada jamaah yang bersedia jadi khatib?”

Rupanya khatib yang sudah dipersiapkan sebelumnya, tidak hadir. Dan kata pengurus masjid, sudah dihubungi sejak hari kamis namun tidak ada pemberitahuan pembatalan. Alhasil, naiklah seorang anak muda ke mimbar.

Dengan menenteng handphone, anak muda yang percaya diri itupun mulai membuka khutbahnya dengan terlebih dahulu memberi salam. Jamaah mengetahui, kalau sepenuhnya dia membaca dengan bantuan handphone.

Penyampaian khutbah berlangsung singkat, kurang lebih tujuh menit saja. Satu hadis nabi yang dikutip anak muda (khatib dadakan) itu, yang artinya “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”

Saya yang tidak begitu paham dengan ilmu hadis, terus bertanya dalam hati, “Nabi koq mengatakan manusia, tidak mengatakan orang yang beriman atau orang-orang muslim, mengapa nabi tidak menyebut identitas tertentu?”

Dengan tidak disebutkannya identitas oleh nabi pada hadis tersebut, saya meyakini bahwa tidak hanya pemeluk agama Islam saja. Siapapun dia sebagai manusia di muka bumi ini asal bermanfaat kepada sesamanya, maka kata nabi adalah manusia yang baik.

Pesan nabi yang tentu sangat luar biasa, tetapi apakah semudah itu? Kata Gus Nadir, “Bermanfaat bagi sesama adalah ketika terlebih dahulu sukses di rumah tangga misalnya, atau ditempat kerja, dan itu bukan hal yang sederhana.”

Orang bisa saja gagal pada semua itu, maka untuk menggantinya cukup dengan satu sukses saja yaitu “Sukses menaklukkan diri sendiri” Ini pun kadang orang gagal. Karena, terkadang ego lebih besar ketimbang cinta. Padahal, hanya dengan cinta kita bisa mengetahui sejauh mana value diri kita.

Hadis nabi di atas, tidak menyebut identitas tetapi ada yang memang dikhususkan bagi kaum muslimin, misalnya, kata nabi “Seorang muslim yang baik adalah yang orang muslim lain selamat dari gangguan lisannya dan tangannya”

Pesan ini hendak mengatakan bahwa, “Ayo selamatkan orang lain dari lidah dan tangan kita” Jangan jadi pengganggu (Annoying) dengan menyebar fitnah dan kebencian, gosip pribadi, atau menyulitkan orang lain. Tahan lidah dan tangan kita.

Jadi, apapun profesi kita, teruslah menebar kebaikan, menebar manfaat untuk orang lain. Jangan kita cuma mengambil manfaat untuk diri sendiri. Usahakan agar orang lain pun bisa mengambil manfaatnya. Saling bekerja samalah dalam kebaikan dan kebermanfaatan.

Kata beberapa ulama, bahwa “Ibadah yang paling diapresiasi oleh Tuhan adalah ibadah sosial” Mengapa demikian? Oleh karena, itu merupakan dampak dari ibadah ritual. Bahkan, kata Prof. Quraish Shihab “Kemanusiaan mendahului keberagamaan”(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!