Nama Jusuf Kalla Diserukan Massa, Warga Bua-Luwu Minta Pimpinan PT BMS Dipecat
LUWU, INDEKSMEDIA.ID – Nama Wakil Presiden RI ke-10, Jusuf Kalla (JK) menggema di tengah aksi demonstrasi masyarakat Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Massa yang berunjuk rasa di depan gerbang PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) meminta pendiri perusahaan tersebut turun tangan langsung menyelesaikan kisruh rekrutmen karyawan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat lokal.
Aksi yang berlangsung pada Senin (27/10/2025) itu sempat memanas. Warga yang tak kunjung ditemui pihak perusahaan akhirnya memblokade Jalan Trans Sulawesi hingga menyebabkan kemacetan sepanjang sekitar 4 kilometer.
Meski sempat nyaris ricuh, massa tetap bertahan menunggu kepastian dari pihak perusahaan. Dalam orasi salah satu perwakilan massa meminta Jusuf Kalla memecat seluruh jajaran pimpinan PT BMS yang dianggap gagal menjaga kepercayaan masyarakat di wilayah operasi perusahaan.
“Pak JK (Jusuf Kalla) sebagai pendiri perusahaan, kami minta pecat semua pimpinan yang ada di PT BMS,” kata salah seorang orator aksi di hadapan ratusan massa.
Ia menegaskan, masyarakat Bua sudah terlalu lama menunggu keadilan. Selama ini, kesempatan kerja di perusahaan tambang tersebut dinilai tidak berpihak kepada warga lokal. Aksi yang digelar, kata dia, merupakan bentuk kekecewaan dan perlawanan terhadap ketidakadilan yang terjadi di tanah kelahiran mereka.
“Aliansi masyarakat Bua datang di sini untuk menyuarakan aspirasinya. Kami datang untuk mencari keadilan. Berdayakan masyarakat lokal, bukan menjadikan masyarakat lokal seperti anak tiri,” jelasnya.
Ia juga menyinggung tanggung jawab moral Jusuf Kalla sebagai tokoh nasional asal Sulsel. Ia berharap JK benar-benar mendengarkan jeritan masyarakat Bua yang merasa diperlakukan tidak adil oleh pihak perusahaan.
“Jangan kau jadikan kami penonton di tanah kelahiran kami sendiri. Dengarkan aspirasi kami, kami punya hak untuk menyuarakan apa yang menjadi hak-hak kami,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa kehadiran perusahaan besar seperti PT BM seharusnya menjadi solusi bagi masyarakat sekitar, bukan justru meminggirkan mereka.
“Sungguh miris kalau ada perusahaan di Tana Luwu menjadikan masyarakat lokal hanya sebagai penonton,” tandasnya.




Tinggalkan Balasan