Teror Busur “Hantui” Warga Bua Luwu, Evaluasi Kapolsek Menguat

BUA,INDEKSMEDIA.ID — Malam di sekitar Bandara Lagaligo tak lagi sekadar sunyi. Ia berubah menjadi ruang cemas.

Serangan busur terhadap pengendara kembali terjadi, menambah daftar insiden kekerasan yang belakangan kerap menghantui warga Bua.

Seorang pengendara dilaporkan menjadi korban dalam peristiwa terbaru.

Informasi yang beredar menyebutkan, serangan dilakukan oleh pelaku tak dikenal pada malam hari pola yang disebut warga bukan kali pertama terjadi. Minimnya penerangan di beberapa titik serta lemahnya patroli disebut memperbesar celah aksi pelaku.

Di tengah situasi itu, kritik terhadap aparat kepolisian setempat menguat. Sejumlah warga menilai respons penanganan belum menyentuh akar persoalan, terutama dalam hal pencegahan dan pengungkapan jaringan pelaku.

Dicky, pemuda asal Bua, menyampaikan kekecewaannya.

“Ini bukan kejadian pertama. Artinya ada pola yang tidak diputus. Kalau kejadian berulang terus, publik berhak mempertanyakan kinerja aparat,” ujarnya kepada media ini, Rabu (06/05/2026).

Ia menilai, langkah yang dilakukan sejauh ini terkesan reaktif, bukan preventif. Patroli dinilai belum konsisten, sementara pelaku tetap bebas beraksi. “Kalau tidak ada perubahan signifikan, wajar kalau masyarakat mendesak evaluasi serius, termasuk pencopotan Kapolsek Bua,” kata Dicky.

Desakan itu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa bulan terakhir, laporan warga terkait aksi serupa disebut terus bermunculan. Namun, hingga kini belum ada kejelasan mengenai pelaku maupun motif di balik serangan.

Sejumlah warga juga mengeluhkan kurangnya transparansi informasi dari pihak kepolisian. Mereka berharap ada penjelasan terbuka mengenai langkah yang telah dan akan diambil untuk mengatasi situasi ini.

Di sisi lain, pengamat keamanan lokal menilai fenomena teror busur tidak bisa dipandang sebagai kriminalitas biasa. Ada indikasi pola kelompok dan keberanian pelaku yang meningkat.

Tanpa penanganan yang sistematis, aksi ini berpotensi meluas.
“Kalau tidak segera ditangani dengan serius, ini bisa berkembang menjadi ancaman sosial yang lebih besar,” ujar seorang sumber yang enggan disebutkan namanya.

Kini, tekanan publik semakin menguat. Warga menuntut bukan hanya penangkapan pelaku, tetapi juga pembenahan menyeluruh terhadap sistem pengamanan wilayah. Evaluasi terhadap kepemimpinan di tingkat Polsek menjadi salah satu tuntutan yang mencuat.

Bagi warga Bua, rasa aman bukan sekadar janji melainkan hak yang harus dijamin. Ketika teror terus berulang tanpa kejelasan penanganan, kepercayaan publik pun ikut tergerus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!