DPRD Palopo Soroti Seleksi Direksi Perumda TM, Target 7.000 Pelanggan Dinilai Tak Realistis

Gie

PALOPO, INDEKSMEDIA.ID – Proses seleksi tiga direksi Perumda Tirta Mangkaluku Kota Palopo menuai sorotan dari DPRD. Ketua DPRD Palopo, Darwis, menilai sejumlah rencana dan target yang diusung dalam proses tersebut belum realistis jika melihat kondisi riil pelayanan air bersih saat ini.

Sorotan itu tidak lepas dari ketentuan regulasi yang menjadi dasar penataan jumlah direksi. Dalam dokumen yang beredar, dijelaskan bahwa berdasarkan Permendagri Nomor 23 Tahun 2019, jumlah direksi BUMD, termasuk perusahaan air minum, harus disesuaikan dengan jumlah pelanggan. Batasannya, jika pelanggan di bawah 50.001, maka cukup satu direksi.

“Dalam penjelasan Pasal 106 ayat (4) Permendagri Nomor 23 Tahun 2019 dijelaskan bahwa jumlah direksi itu disesuaikan paling lambat dua tahun sejak aturan ini diundangkan,” kata Darwis, Jumat (3/4/2026).

Darwis menegaskan bahwa aturan tersebut sebenarnya sudah memberikan ruang penyesuaian, namun tetap harus dipatuhi terutama saat masa jabatan direksi berakhir.

“Artinya ada masa penyesuaian. Tapi kalau masa jabatan direksi berakhir dalam masa itu, maka pengangkatan direksi baru harus mengikuti ketentuan, yaitu cukup satu direksi jika pelanggan di bawah 50.001,” tambahnya.

Data terbaru yang dihimpun menunjukkan jumlah pelanggan Perumda Tirta Mangkaluku masih berada di bawah ambang batas tersebut. Berdasarkan laporan periode Februari 2026, total pelanggan tercatat sebanyak 45.742 pelanggan, dengan rincian pelanggan aktif 40.815 dan nonaktif 4.927. Angka ini dinilai menjadi indikator kuat bahwa struktur direksi seharusnya menyesuaikan ketentuan yang berlaku.

Di sisi lain, Darwis juga menyoroti rencana ambisius penambahan pelanggan yang dinilai tidak realistis dalam waktu singkat. Ia menyebut target tersebut tidak sejalan dengan kondisi distribusi air di lapangan yang masih bermasalah.

“Target 7.000 pelanggan dalam satu bulan tampaknya sulit terpenuhi jika melihat kondisi saat ini,” tegasnya.

Lebih jauh, Darwis mengurai kondisi pelayanan air bersih di Palopo yang menurutnya masih jauh dari kata optimal. Ia menyebut masih banyak masyarakat yang belum terlayani secara maksimal, bahkan harus menunggu air mengalir di waktu tertentu.

“Kita ini masih kekurangan air. Masih banyak pelanggan yang tidak kebagian air, ada yang tengah malam baru jalan airnya. Intinya pelayanan kita belum bisa maksimal sekarang,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, ia mempertanyakan logika di balik penambahan pelanggan baru tanpa diiringi peningkatan kapasitas produksi air. Menurutnya, hal itu justru berpotensi memperparah pelayanan yang sudah ada.

Darwis menekankan bahwa persoalan utama yang harus dibenahi adalah ketersediaan air baku. Tanpa itu, rencana ekspansi hanya akan menjadi target di atas kertas.

“Kalau kita tambah lagi pelanggan, kita mau dapat dari mana? Sumbernya tidak cukup. Harus juga ada penambahan air baku. Kalau mau mereka tambah itu, tidak akan mampu. Ini harus jelas dulu, minimal ada penambahan kapasitas,” katanya.

Ia pun mengingatkan agar setiap perencanaan tidak hanya berorientasi pada angka, tetapi juga mempertimbangkan kondisi riil di lapangan serta kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Bahkan kata dia (Darwis), target yang lebih kecil pun tetap membutuhkan perhitungan matang jika tidak dibarengi peningkatan sumber daya air.

“Ini hitungannya harus realistis. Jangan sekadar target, tapi tidak didukung kondisi di lapangan. Makanya saya bilang, ini harus 5.000 plus 1 itu juga sudah berat kalau tidak dibarengi penambahan air baku,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!