BPBD Sulsel Gelar FGD Mitigasi Potensi Bencana di Palopo
PALOPO, INDEKSMEDIA.ID — Tim Litbang Kajian Mitigasi Bencana, BPBD Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Mitigasi Bencana di Hotel Harapan, Jl. Mangga Kota Palopo, pada Rabu (3/12/2025)
Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai Organisasi dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) se-Luwu Raya.
FGD ini merupakan bagian dari serangkaian kegiatan penelitian, pengkajian, pengembangan, dan perekayasaan yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Sulsel.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengoptimalkan upaya mitigasi bencana di seluruh wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Kota Palopo yang dikenal rawan terhadap banjir dan longsor, terutama saat musim penghujan.
Narasumber utama, Prof. Dr. Ardy Arsyad, menyampaikan pentingnya perubahan tata ruang dan sistem peringatan dini.
“Ada beberapa perubahan, terutama pada tata ruang. Instansi terkait bertanggung jawab membuat sistem peringatan dini longsor, mungkin bekerja sama dengan provinsi di lokasi-lokasi rawan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya simulasi dan jalur informasi yang perlu ditingkatkan di wilayah-wilayah rawan bencana, serta pembentukan desa-desa tangguh bencana (destana).
Selain itu, Prof. Ardy menekankan perlunya stabilisasi gedung dan penguatan struktur bangunan, termasuk tembok-tembok yang rawan.
“Ini akan kami laporkan sebagai rekomendasi kepada pemerintah provinsi untuk dibuatkan program,” tambahnya.
Rekomendasi program untuk tahun 2026 mencakup evaluasi kajian risiko bencana yang sudah kedaluwarsa, pembentukan tiga desa tanggap bencana pada tahun 2027 yang lebih fokus pada pendekatan virtual, serta penanganan rehabilitasi lahan seluas 200 hektar di seluruh Sulawesi Selatan.
Provinsi Sulawesi Selatan sendiri ditugaskan untuk melakukan kajian pasca-bencana banjir bandang di Wajo, khususnya di Desa Aro Kera.
Hasil kajian ini akan direkomendasikan kepada Gubernur Sulawesi Selatan.
Ia mencontohkan renovasi sekolah yang rusak akibat banjir bandang tahun lalu, yang kini dibangun dengan model baru yang lebih aman dari banjir.
Ia juga menyoroti penyebab banjir bandang, seperti kerusakan daerah hulu akibat penebangan hutan untuk dijadikan perkebunan.
“Ada juga faktor ekonomi dan kepentingan perusahaan terkait dengan lokasi kuasa,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, diperlihatkan pula contoh bekas pondasi dan lantai rumah yang habis diterjang banjir bandang di dekat bendungan, Suli Barat, yang mengakibatkan erosi.
Dia juga menyoroti pentingnya aksesibilitas untuk evakuasi, terutama akses bagi BBM (Bahan Bakar Minyak) agar proses evakuasi dapat berjalan lancar. (Andri)




Tinggalkan Balasan