Miris! Atlet Luwu Gagal ke O2SN Gegara Tak Ada Anggaran

LUWU, INDEKSMEDIA.ID – Kabar tentang gagalnya atlet pelajar asal Luwu untuk ikut serta dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2025 memicu keprihatinan banyak pihak. Salah satunya datang dari Salmawati, mantan atlet nasional pancak silat asal Kabupaten Luwu.

Salmawati menanggapi informasi yang menyebut bahwa tidak tersedianya anggaran dari Dinas Pendidikan (Disdik) Luwu menjadi penyebab utama atlet muda bernama Rifki batal berangkat. Ia mengaku kecewa atas kondisi tersebut.

“Mengenai kabar seperti ini, (tidak ada anggaran untuk O2SN di Disdik Luwu) tentu sangat prihatin, dan kecewa jika karena anggaran para pelajar tidak bisa ikut O2SN,” ucap Salmawati kepada wartawan, Minggu (6/7/2025).

Menurutnya, O2SN bukan ajang sembarangan. Ini adalah panggung nasional yang sangat penting bagi siswa untuk menunjukkan bakat dan membuka peluang ke jenjang lebih tinggi, bahkan sampai tingkat internasional.

“Padahal ajang ini adalah ajang tingkat nasional, kesempatan untuk para pelajar Luwu menyalurkan bakatnya di tingkat nasional bahkan berlanjut ke internasional. Kasihan sekali kalau mereka tidak diberi kesempatan,” katanya.

Sebagai seseorang yang pernah merasakan kerasnya dunia atlet, Salmawati mengaku bisa merasakan bagaimana beratnya beban mental yang harus ditanggung para pelajar ketika impian mereka harus terhenti karena masalah dana.

“Sebagai mantan atlet, saya tahu bagaimana perasaan mereka. Tentunya kecewa, apalagi jika para pelajar selama ini sudah mempersiapkan bakat mereka di bidang masing-masing untuk meraih mimpi mereka tapi harus terputus karena masalah dana,” imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) merupakan ajang bergengsi yang mempertemukan para pelajar terbaik dari seluruh Indonesia dalam berbagai cabang olahraga, termasuk pencak silat. Ajang ini bukan hanya sekadar kompetisi, melainkan wadah pembinaan karakter, sportivitas, dan prestasi siswa melalui olahraga.

Namun, di Kabupaten Luwu, mimpi itu seakan hanya milik daerah lain. Rifki (14), siswa asal Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, harus mengubur mimpinya untuk berlaga di O2SN 2025 karena tidak adanya dukungan dari pemerintah daerah.

Rifki yang telah berlatih pancak silat sejak empat tahun lalu, sebelumnya sangat berharap dapat tampil di O2SN. Ia telah mempersiapkan diri dengan serius, termasuk menghafal jurus tunggal – salah satu kategori dalam lomba pencak silat.

“Ingin belajar bela diri supaya tubuh kuat dan sehat. Harapan saya besar bisa tampil di O2SN karena kejuaraan ini sangat bergengsi,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (5/7).

Sayangnya, informasi resmi terkait seleksi O2SN tidak pernah diterima dari Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu. Padahal, secara nasional, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI) telah menerbitkan petunjuk teknis (juknis) lengkap dengan jadwal dan alur seleksi.

Juknis tersebut biasanya diteruskan ke Dinas Pendidikan kabupaten/kota untuk diterapkan melalui Surat Keputusan (SK), dan diumumkan secara resmi. Di Luwu, proses ini tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Harapanku, semoga tahun depan Luwu bisa ikut O2SN, bukan cuma OSN saja,” tambah Rifki, yang telah mengukir sejumlah prestasi di kejuaraan seperti Unismuh Cup di Makassar dan beberapa turnamen daerah di Luwu.

Pelatih silat senior di Kabupaten Luwu, Raizatul Husna, turut menyesalkan kondisi ini. Ia menyebut, sejak pandemi Covid-19 dan diberlakukannya sistem pendaftaran online, seleksi O2SN tak lagi diselenggarakan di Luwu.

“Padahal banyak bibit atlet dari tingkat SD, SMP, hingga SMA yang potensial. Sayang mereka tidak diberi kesempatan hanya karena tidak adanya dukungan dan alur seleksi yang tidak jalan,” ujar Raizatul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!