Gepeng Kian Marak di Palopo, Dinsos Andalkan Razia Untuk Beri Efek Jerah
PALOPO, INDEKSMEDIA.ID – Maraknya keberadaan gelandangan dan pengemis (gepeng) di sejumlah ruas jalan Kota Palopo masih menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius dari Pemerintah Kota Palopo.
Keluhan masyarakat terus bermunculan karena keberadaan gepeng dinilai semakin mengganggu ketertiban umum.
Warga juga menilai upaya penertiban yang selama ini dilakukan pemerintah belum memberikan dampak signifikan, mengingat para gepeng masih kerap terlihat beraktivitas di sejumlah titik jalan raya dan persimpangan.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Palopo, Alim Kamal, mengatakan pihaknya telah berulang kali melakukan pembinaan, termasuk memberikan edukasi dan konseling kepada para orang tua gepeng.
“Sudah beberapa kali kami ingatkan, tetapi masih terus terjadi. Mungkin ada beberapa faktor yang membuat mereka tetap turun ke jalan karena merasa nyaman dengan kondisi tersebut,” ujar Alim saat dikonfirmasi, Kamis (11/6/2026).
Ia mengungkapkan, sebagian besar gepeng yang ditemukan di Kota Palopo bukan berasal dari daerah setempat. Selain itu, sebagian orang tua para gepeng tersebut tercatat sebagai penerima bantuan sosial (bansos) dari pemerintah.
Meski demikian terdapat pula anak-anak yang turun ke jalan karena didorong bahkan dipaksa oleh orang tuanya meskipun sebelumnya telah diberikan edukasi oleh pemerintah.
“Banyak dari mereka datang dari luar daerah. Ada juga yang turun ke jalan karena didorong oleh orang tuanya, padahal kami sudah memberikan pemahaman dan edukasi sebelumnya,” katanya.
Untuk menekan jumlah gepeng, Dinas Sosial kata Alim saat ini masih mengintensifkan kegiatan penjaringan atau razia di sejumlah titik yang menjadi lokasi aktivitas mereka.
“Untuk sementara kami terus melakukan penjaringan atau razia secara intensif. Harapannya ada efek jera sehingga mereka tidak kembali ke jalan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Alim menyebut pemerintah sebenarnya telah menyiapkan program pemberdayaan melalui pelatihan keterampilan bagi para gepeng di Makassar. Namun program tersebut belum berjalan optimal karena kurang mendapat dukungan dari pihak keluarga.
“Sempat kami siapkan program pelatihan keterampilan di Makassar sebagai upaya pemberdayaan. Namun, banyak orang tua yang tidak memberikan persetujuan sehingga program tersebut sulit direalisasikan,” pungkasnya. (*)




Tinggalkan Balasan