“Boleh Keras, Tapi Jangan Kasar” Edukasi Ketua Wasit Futsal Palopo bagi Pelajar

PALOPO,INDEKSMEDIA.ID – Pentingnya menanamkan nilai-nilai sportivitas dan etika bermain sejak usia dini dalam dunia olahraga, khususnya bagi kalangan pelajar.

Hal ini disampaikan Ketua Wasit Futsal Palopo, Andri Sudirman, saat memberikan pembinaan dan pemahaman terkait aturan main serta perilaku di dalam lapangan.

Menurut Andri, bagi para atlet muda di usia SMP, menjaga sikap adalah kunci utama untuk menghindari gesekan yang berujung pada kekerasan.

Ia mengingatkan bahwa sebuah pertandingan bukan hanya soal kemenangan semata, melainkan juga menjaga nama baik diri sendiri maupun tim.

“Bayangkan jika adik-adikku melakukan pelanggaran berat hingga terlibat adu fisik saat bertanding. Di setiap kegiatan pasti ada pengawas pertandingan yang bertugas mengontrol jalannya pertandingan. Jika ada yang bertindak fatal sampai melakukan pemukulan, maka pelakunya bisa dikenakan sanksi skorsing dalam waktu yang tidak ditentukan, bahkan dilarang mengikuti kegiatan futsal maupun sepak bola di seluruh turnamen se-Indonesia,” tegas Andri.

Ia juga mengingatkan dampak yang jauh lebih berat secara hukum. Jika pihak korban merasa keberatan dan melanjutkan kasus ke jalur hukum hingga melakukan visum, maka pelaku bisa terjerat kasus pidana. Ketentuan ini pun berlaku adil bagi semua pihak yang terlibat, tidak hanya terbatas pada para pemain saja.

“Aturan ini berlaku untuk siapa saja, baik itu pemain, penonton, pendukung, maupun ofisial tim yang terlibat kekerasan, semuanya akan diproses. Bahkan jika pelakunya adalah seorang wasit, hukumannya sama tegasnya, yaitu pencabutan lisensi secara permanen ditambah proses pidana jika korban mengajukan keberatan,” jelasnya saat memimpin rapat di panitia Kojar Fc pada Jumat (5/6/2026).

Selain bagi para pemain, Andri juga berharap para pelatih dapat mengubah pola pendidikannya.

Menurutnya, materi latihan tidak boleh hanya berfokus pada teknik penguasaan bola, kekuatan fisik, atau strategi semata. Pembinaan karakter dan etika olahraga harus menjadi materi wajib yang ditanamkan.

“Para pelatih juga sebaiknya mengenalkan aturan permainan dengan benar, mulai dari batas garis lapangan, bola keluar, hingga kriteria sahnya sebuah gol yaitu bola harus sepenuhnya melewati garis bawah mistar gawang. Masih banyak kita lihat pelatih yang belum mampu meredam emosi anak asuhannya saat bertanding,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa jiwa petarung yang sesungguhnya adalah ketika seseorang mampu menang dengan cara yang terhormat, dan berlapang dada serta ikhlas ketika harus menerima kekalahan.

Pengalaman bertanding masih sangat panjang dan akan menjangkau daerah-daerah lain.

“Pentingnya sportivitas ditunjukkan saat bertanding. Jika lawan terjatuh, mari kita bantu dan rangkul, tunjukkan kepedulian. Ingatlah, ketika kita bersikap baik saat bertanding di luar daerah, maka tuan rumah pun akan memperlakukan kita dengan baik saat kita bertanding di tempat mereka kelak,” pesannya.

Di akhir penjelasannya, Andri menegaskan satu prinsip penting yang harus dipegang teguh oleh seluruh insan olahraga: “Bermain itu memang keras, tetapi tidak boleh kasar.”

Itulah jiwa olahraga yang sejati, yang tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga menonjolkan sportivitas yang luhur.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!