Teror Demokrasi, GAM Minta Dandim Palopo Beri Jaminan ke Aktivis
PALOPO,INDEKSMEDIA.ID – Masih ingat dengan kasus penyiraman aktivis Andrie Yunus di Jakarta?.
Kasus yang sempat menghebohkan publik di Bumi Pertiwi, ternyata menjadi teror berdemokrasi bagi sejumlah aktivis yang ada di daerah, termasuk salah satunya di Palopo dan Luwu Raya secara umum.
Untuk memberikan rasa aman dan perlindungan bagi demokrasi di Tana Luwu, maka sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Komando Wilayah Gerakan Aktivis Mahasiswa Luwu Raya (KOMWIL GAM LUWU RAYA), turun ke jalan menggelar aksi unjuk rasa di sekitaran Kodim 1403/Palopo, tepatnya di Lampu Merah Gaspa, Jumat (17/04/2026).
Dalam aksi tersebut, mahasiswa/aktivis secara bergantian berorasi dan membakar ban bekas sekaligus membentangkan spanduk putih bertuliskan “Mendesak Dandim Kota Palopo, memberikan statement yang menjamin tidak terjadinya kasus seperti Andrie Yunus di wilayah Luwu Raya”.
Unjuk rasa yang dilakukan itu sekaligus sebagai sikap solidaritas terkait berbagai upaya pembungkaman berupa tindakan represif dan teror yang di tujukan kepada para aktivis yang juga mengawal pengusutan kasus teror berupa penyiraman air keras yang menimpa aktivis KontraS Andrie Yunus.
Jenderal lapangan, Fadel mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan sikap solidaritas terhadap kasus yang merupakan dugaan penganiayaan berencana dan pelanggaran terhadap amanat UU No.39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
“Ini merupakan perbuatan yang mengancam nilai-nilai demokrasi. Jika kebebasan berekspresi selalu di represif maka marwah Demokrasi akan terancam dan kembali ke sejarah kelam yang terjadi di masa Orde Baru,” tegas Fadel.
KORWIL GAM Luwu Raya, lanjut Fadel, juga menentang segala bentuk upaya pembungkaman aktivis dan kejahatan Hak Asasi Manusia.
“Yang kemudian tidak terlepas daripada dugaan teror dan intimidasi terhadap pihak yang menunjukkan sikap solidaritas terhadap Andrie Yunus yang tentunya sangat memprihatinkan terhadap masa depan demokrasi,” tegas Fadel.
Sementara itu, Panglima GAM Luwu raya, Ahmad Hanifulla juga ikut angkat bicara.
Hanifulla, menegaskan bahwa penyiraman air keras terhadap aktivis kontras ini adalah salah satu bentuk pembungkaman terhadap demokrasi di Indonesia.
“Peristiwa ini bukan sekedar insiden biasa. Ini adalah pola, ini adalah tanda bahwa ruang demokrasi kita disempitkan secata sistemis. Ketika aktivis di teror, ketika keluarga dijadikan sasaran, maka sesungguhnya yang sedang diserang adalah kebebasan sipil seluruh rakyat Indonesia,” tegas Hanifulla.




Tinggalkan Balasan