Perangi Money Politik, Pengusaha Muda di Palopo ini Ajak Masyarakat Bijak dalam Kontestasi Pemilu

Gie

PALOPO, INDEKS MEDIA – Tokoh Pengusaha Muda Wahyudin Djafar atau biasa disapa Wahyu, Berpesan untuk Menolak, Menghindari dan Membentengi diri dari godaan Serangan Fajar dalam menghadapi kontestasi Pemilu 2024. Ia meminta masyarakat agar bijak dalam menentukan pilihan.

“Jadi harus bijak menentukan pilihannya, bukan karena terpengaruh “Serangan Fajar” alias menerima uang pelicin. “Jadi jangan asal sekadar mencoblos tetapi harus memilih yang cerdas,” ujar Direktur PT. Perdamaian, Wahyudin Djafar, Kamis (25/1/2024).

Menurutnya, Serangan fajar semakin melanggengkan politik transaksional. Ia menilai banyak oknum penguasa yang menghancurkan nilai-nilai komunikasi politik.

“Di saat bangsa ini memerlukan kerja ekstra untuk membangun peradaban, di saat yang sama justru calon penguasa sendirilah yang menghancurkan nilai-nilai komunikasi politik ADILUHUNG,” tegas Wahyu.

Direktur PT. Perdamaian Jaya Perkasa ini, menjelaskan bahwa Kontestasi Pemilu merupakan hajatan masyarakat dalam menentukan pemimpin 5 tahun kedepan.

“Pesta demokrasi adalah hajatan milik rakyat. Melalui Pemilu, rakyat akan memilih dan menentukan nasibnya untuk 5 tahun ke depan. Pemimpin yang terpilih merupakan representasi dari harapan rakyat akan sebuah perubahan, keadilan, dan kesejahteraan bagi segenap Rakyat Indonesia,” jelasnya.

Wahyu mengajak seluruh masyarakat dalam mewujudkan Pemilu Damai dengan menyerukan penolakan tindakan politik praktis yang dapat menciderai marwah demokrasi.

“Kita menyadari bahwa demokrasi adalah kedaulatan rakyat. Oleh karena itu, suara rakyat adalah suara Tuhan. Saya mengajak seluruh Lapisan Masyarakat Indonesia untuk tidak pernah menjual suara rakyat dalam Pemilu 2024,” ujar Wahyudin Djafar

Menurut dia, jika calon pemimpin yang menggunakan strategi “serangan fajar” tentunya mewakili kualitas dari calon tersebut, begitu pula dengan yang memilihnya.

“Nah itu kurang cerdas, itu tidak cerdas, sebab dia memilih sesuatu karena itu (serangan fajar) tadi karena ada iming-iming. Nah ini sangat menentukan kualitas kepemimpinan nantinya,” lanjut dia. Jadi, Wahyu menekankan Bahwa Jangan marah kalau ternyata kualitas pemimpin hasil ‘Serangan Fajar’ tidak sesuai dengan ekspektasi,” terangnya.

Ia juga menuturkan, esensi pemilihan langsung adalah rakyat dapat secara langsung memilih wakilnya. Sehingga masyarakat pemilih harus mengenal dengan baik wakil yang akan dipilihnya tersebut, baik secara kapasitas, visi-misi maupun program- programnya jika kelak dipilih.

“Idealnya pada pemilihan langsung, maka rakyat memilih wakilnya dengan pertimbangan yang logis. Memilih dengan pertimbangan logis artinya masyarakat pemilih benar-benar memilih yang terbaik, baik secara kapasitas maupun integritas,” tutur Wahyu.

Lebih lanjut kata dia (Wahyu), memilih berdasarkan serangan fajar justru akan menciptakan politik transaksional antara para caleg dan konstituennya dan hal ini justru merusak demokrasi. Serangan fajar justru menciptakan relasi hampa antara caleg dan konstituennya karena konstituen hanya memilih berdasarkan iming-iming serangan fajar.

“Tanpa serangan fajar, demokrasi akan lebih murni dan menghasilkan wakil rakyat yang berkualitas baik secara integritas maupun akuntabilitas. Satu hal yang pasti, tanpa serangan fajar akan terbangun relasi yang lebih berkualitas antara konstituen dan para wakilnya di parlemen karena relasi tersebut mendasarkan pada keterwakilan aspirasi dan program,” tandasnya.

Jika Suaramu Digadaikan dengan Uang
Maka Bersiaplah Menjadi Budak di Negeri Sendiri, Stop Money Politik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!