Sopir Truk Ancam Bubarkan Pendemo, Kapolres: Kami Masih Negosiasi

LUWU,INDEKSMEDIA.ID – Blokade jalan Trans Sulawesi di poros Belopa–Makassar belum dibuka. Sudah lima hari ratusan kendaraan terjebak macet, membuat emosi para pengendara, khususnya sopir truk dan kendaraan logistik, kian memuncak.

Antrian kendaraan mengular dari Desa Bolong hingga perbatasan Kabupaten Luwu dan Kabupaten Luwu Utara (Lutra).

Truk pengangkut logistik, mobil tangki BBM, hingga kendaraan bahan pangan tertahan tanpa kepastian.

Kesabaran para sopir disebut telah habis. Sejumlah pengendara bahkan mengancam akan membubarkan paksa massa aksi jika aparat kepolisian tidak segera mengambil tindakan tegas.

“Sudah lima hari kami terjebak. Uang habis, keluarga menunggu di rumah. Kalau hari ini polisi belum bertindak, kami yang ambil alih. Bubarkan massa atau kami yang bertindak,” kata seorang sopir truk dengan nada geram, disambut dukungan pengendara lainnya, Selasa (27/01/2026).

Kerugian ekonomi pun tak terhindarkan. Sopir pengangkut ayam potong mengaku merugi hingga puluhan juta rupiah akibat ayam mati karena kepanasan. Sementara pengangkut ikan segar dan hasil bumi menyebut muatan mereka membusuk setelah berhari-hari terjebak di jalan.

Aksi blokade jalan ini dilakukan oleh aliansi mahasiswa dan masyarakat sebagai bentuk tekanan kepada pemerintah pusat agar segera merealisasikan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Luwu Tengah serta Provinsi Luwu Raya.

Tuntutan tersebut disebut sebagai bagian dari perjalanan panjang perjuangan pemekaran wilayah di Tanah Luwu.

Usulan pembentukan Kabupaten Luwu Tengah telah bergulir sejak awal era otonomi daerah dan telah beberapa kali diajukan ke pemerintah pusat.

Sementara wacana pembentukan Provinsi Luwu Raya telah diperjuangkan lebih dari dua dekade melalui berbagai jalur, mulai dari deklarasi masyarakat, rekomendasi pemerintah daerah, hingga lobi politik ke DPR RI dan kementerian terkait.

Namun hingga kini, baik DOB Kabupaten Luwu Tengah maupun Provinsi Luwu Raya belum juga masuk tahap final pembahasan nasional, yang dinilai massa aksi sebagai bentuk ketidakadilan dan pengabaian aspirasi masyarakat.

Massa aksi menegaskan blokade jalan akan terus dilakukan hingga ada komitmen konkret dan kepastian politik dari pemerintah pusat terkait percepatan pemekaran wilayah tersebut.

Di sisi lain, para pengendara menilai aksi blokade telah melampaui batas dan mengorbankan kepentingan publik, terutama distribusi logistik, bahan pangan, dan BBM di wilayah Sulawesi Selatan.

Kapolres Luwu AKBP Adnan Pandibu mengatakan kepolisian masih mengedepankan langkah persuasif melalui dialog dan negosiasi.

“Kami mengedepankan cara persuasif. Namun jika negosiasi tidak membuahkan hasil, aparat kepolisian bersama TNI akan melakukan upaya paksa untuk membuka kembali akses jalan,” tegas Adnan.

Hingga berita ini diturunkan, jalan Trans Sulawesi masih tertutup dan situasi di lapangan dilaporkan terus memanas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!