Tujuh Ritual Suci di Balik HJL-HPRL 2026

SALAH satu ritual adat HJL-HPRL yakni Malakke wae dan Mapacekke wanua di Langkanae, Senin (19/01/2026) pagi tadi. ft istimewa

“Singkerru Ininnawa Lipu Dimeng Ede”

GETARAN mistik di Istana Datu Luwu terasa berbeda. Seperti ada getaran sakral yang kuat saat masyarakat bersiap menyambut dua peristiwa bersejarah sekaligus, yakni Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80.

LAPORAN: Kahar Iting (Indeksmedia)

TEMA Besar “SINGKERRU ININNAWA LIPU DIMENG EDE”, menjadi pegangan teguh Kedatuan Luwu melakukan ritual suci dengan prosesi adat yang sakral untuk mengingatkan kembali ke masyarakat Tanah Luwu.

Rangkaian kegiatan yang dijadwalkan berlangsung mulai tanggal 19-25 Januari 2026, akan dibuka dengan ritual Mallekke Wae (pengambilan air suci).

Bukan sekadar mengambil air biasa. Dipandu Puang Angkuru, prosesi ini melibatkan pengambilan air yang disucikan untuk ritual Mappacakke Wanua (mendinginkan negeri).

Tentunya, iring-iringan pasukan berbaju adat, panji-panji yang berkibar, dan tabuhan gendang yang ritmis mengawal usungan air menuju pusat Istana Kedatuan Luwu. Yakin dan percaya, berada di areal Istana Datu Luwu, akan membuat bulu merinding.

Keheningan sudah pasti akan menyelimuti saat air tersebut menjalani prosesi maddojaroja-sebuah momen kontemplasi sebelum puncak acara dimulai.

Penghormatan kepada leluhur dilakukan melalui ziarah ke Kompleks Makam Datu Luwu di Pattimang, Luwu Utara (Lutra).

Ketua Panitia Pelaksana, Andi Saddawero Kira (Maddika Ponrang), mengatakan perayaan tahun ini merupakan perpaduan antara pelestarian budaya dan diskusi intelektual.

“Rangkaian prosesi adat meliputi ziarah makam raja, seminar nasional (Silatnas), hingga Forum Nasional Keraton,” tegasnya.
Puncak peringatan yang dirangkaikan dengan Anugerah Budaya Luwu 2026 serta puncak acara Upacara HHL-HPRL di halaman Istana Kedatuan Luwu pada 23 Januari mendatang.

Hari Kedua, Selasa (20/01/2026) dilanjutkan ziarah ke makam Datu Luwu di LokkoE Kota Palopo dan makam Datu Luwu di TMP Panaikang, Makassar.

Usai melakukan ziarah dilanjutkan MADDOJA ROJA / MATTEMMU LAHOJA. Yaitu, prosesi pembacaan Hatmul Hauja mensucikan air yang akan digunakan untuk ritual Mappacakke wanua. Hatmul Hauja adalah wirid yang disusun oleh Datuk Sulaiman penyebar Islam pertama di Luwu. Pembacaan hatmul hauja dipimpin oleh Kadhi Luwu, dan pendamping.

Hari Ketiga, Rabu (21/01/2026) kembali dilakukan prosesi adat Mappesabbi. Yakni, penyampaian maksud dan tujuan hajat pelaksanaan kegiatan dan Tudang Ade yang berisi Mappalebba. Yakni prosesi pengumuman dari Kedatuan Luwu mengenai sebutan atau gelaran adat “Pattuppu Batu” bagi Kepala Daerah di Luwu Raya.

Selanjutnya, prosesi Maddarari yakni penyampaian aspirasi masyarakat secara adat di Luwu yang diwakili oleh Perwakilan Camat dan Desa kepada Datu Luwu dan Bupati/ Walikota mengenai banyak hal salah satunya adalah dukungan untuk memfasilitasi terwujudnya pembentukan Provinsi Luwu Raya. Dan, rapat adat “mappasiduppa tangga” atau rapat dengar pendapat mempertemukan pandangan dari sudut pandang berbeda terhadap satu hal yakni mengenai upaya upaya percepatan pembentukan Provinsi Luwu Raya, Peluang, dan Tantangan.

Rabu sore, dilanjutkan pembukaan pameran Bassi Pusaka oleh komunitas pemerhati besi pusaka “Pommpessi” serta pembukaan lomba-lomba seni dan pasar murah di halaman depan Istana Kedatuan Luwu.

Pada malam hari sejumlah Raja dan Sultan se-Nusantara yang hadir dijamu dalam acara Jamuan Agung makam malam bersama para Raja dan Sultan Nusantara anggota FSKN, sekaligus silaturahmi Raja Sulthan Nusantara dengan Kedatuan Luwu dan Kepala Daerah/FORKOFIMDA yang diisi fashion Show anggota FSKN.

Hari keempat, Kamis (22/01/2026) diisi Sarasehan KKLR berupa SILATNAS WTL II Kerukunan Keluarga Luwu Raya bersama Perguruan Tinggi. Ada juga pembukaan Cerdas Cermat antar SMA/SMK se-Kota Palopo tentang budaya. Di waktu yang sama di Baruga Opu Tomarimari dilakukan proses adat Mattombang Bassi yakni membersihkan benda-benda pusaka dari besi secara adat. Dilanjutkan Kirab Benda Pusaka kedatuan usai dibersihkan diikuti oleh komunitas pemerhati lengkap dengan kebesarannya masing masing.

Kamis malam akan diisi dengan musyawarah internal Forum Raja Sultan Nusantara lalu, pengukuhan pengurus Forum Masyarakat Bumi Sawerigading dan pentas seni dan budaya dari perwakilan Kabupaten Luwu dan Pemda lainnya, serta perwakilan Sanggar Budaya di halaman Istana Kedatuan.

Hari Kelima, Jumat (23/01/2026) puncak acara berupa MAKKASIWIANG / MABBALI SUMANGE. Yakni, prosesi penyampaian hasil bumi/laut/tanah dari masyaraakat dan perwakilan Pemda Luwu kepada Datu Luwu dan Bupati/Walikota. Mappangolo Lise Rakki

Prosesi menghadapkan isi rakki kehadapan Datu oleh Perwakilan Daerah dan Mappasisele Lise Rakki, prosesi pertukaran isi rakki kepada perwakilan Pemerintah Daerah.

Kemudian dilanjutkan proses Manre Saperra yaitu, makan bersama melepaskan nazar atau hajat dengan cara makan di atas saperra yakni bentangan kain panjang sebagai simbol kesetaraan.

Jumat malam sebagai puncak peringatan HJL-HPRL di Istana Kedatuan Luwu diisi doa, atraksi/hiburan, laporan, pembacaan riwayat singkat, sambutan-sambutan, dan Luwu Award.

Hari Keenam, Sabtu (24/01/2026) diisi Panggung Pesta Rakyat yakni, panggung hiburan diisi oleh penampilan sanggar seni dari keterwakilan daerah/Pemda serta Beppa To Riolo, tradisi pesta rakyat dengan menghadirkan panganan tradisional sebagai ungkapan suka ria.

Hari Ketujuh, Minggu (25/01/2026) akanb diisi MANNGEPPI WAE yakni, prosesi dan ritual membersihkan dan mendinginkan negeri dan sebagai pertanda telah selesainya menggelar hajat.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!