MITOS ATAU FAKTA: Mandi di Sungai Dianggap Buang Keburukan, BTP Palopo ‘Diserbu’ Pengunjung
MASYARAKAT Tanah Luwu, masih ada yang menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban yang ditinggalkan. para petuah.
Seperti halnya meninggalkan jejak digital masa lalu dan menyongsong datangnya masa depan dan harapan baru, mengawali 2026.
Mitos atau fakta, berikut ulasannya.
LAPORAN: Kahar Iting (Indeksmedia)
PERMANDIAN Batu Papan (BTP) Palopo, menjadi lautan manusia. Sejak pukul 08.00 hingga 12.00 Wita, Kamis (01/01/2026), pengunjung dari berbagai penjuru Luwu Raya, tak pernah putus berdatangan memadati permandian tersebut.
Rata-rata mereka datang untuk mandi dengan dalih membuang semua keburukan yang telah dilalui di 2025 dan berharap kehidupan yang dijalani lebih baik di 2026.
Permandian yang terletak di Kelurahan Sumarambu, Kecamatan Telluwanua, Kota Palopo tersebut saat ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata andalan yang ada di Kota Palopo.
Selain BTP ada Permandian Latuppa, Bambalu dan di luar Palopo ada lebih banyak lagi wisata permandian yang kerap menjadi pilihan utama akhir pekan dan menyambut moment hari-hati besar lainnya.
“Iye, kata orang-orang tua kita dulu, kalau tahun baru harus membersihkan diri dengan mandi di sungai agar kejelasan tahun lalu bisa terbuang semua dan mengawali tahun baru dengan masa depan yang lebih baik lagi,” ucap salah satu pengunjung asal Luwu Utara (Lutra), Masgal kepada penulis saat bincang-bincang di BTP Palopo.
Tidak hanya menyambut tahun, moment mandi di sungai kerap kali dilakukan bagi mereka yang biasanya telah menjalani hukuman setelah melakukan perbuatan melanggar hukum.
Seperti hanya seseorang yang keluar dari penjara, biasanya datang ke sungai dan mandi membersihkan seluruh tubuhnya di sungai yang mengalir.
Sebagian pula orang menyebut mandi di sungai dengan air yang mengalir berbeda dengan ‘tolak bala’.
Tolak bala sendiri diartikan sebagai ritual atau tradisi yang dilakukan masyarakat untuk menangkal musibah, bencana, penyakit, atau hal-hal buruk lainnya.
“Seringkali ini dipadukan dengan unsur adat dan keagamaan seperti doa, zikir, atau persembahan tertentu agar dijauhkan dari marabahaya dan mendapatkan keberkahan, meskipun bentuk dan pelaksanaannya bervariasi di setiap daerah,” ujar Masgal.
Banyak pula yang beranggapan, mandi di sungai tidak ada kaitannya dengan
membuang keburukan yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan itu dianggap hanya mitos saja karena yang menentukan baik tidaknya kehidupan seseorang sudah ditakdirkan oleh Sang Pencipta Alam Semesta.
“Ya, tergantung pemahaman orang itu sendiri yang pastinya bagi saya mandi di sungai itu membersihkan badan saja dari kotoran yang ada di badan. Terlepas dari apakah itu membuang keburukan, saya kira tergantung dari niat kita,” ucap Bayu, salah satu tokoh masyarakat di Palopo menanggapi.





Tinggalkan Balasan