“Bencana Ekologis Mengintai Palopo” Dari Diskusi Multipihak Akhir Tahun
PALOPO,INDEKSMEDIA.ID – Gunung Buntu Tabaro Lebang menjadi sorotan dalam Diskusi multipihak akhir tahun 2025 bertajuk “Potensi Ancaman Bencana Ekologis Mengintai Kota Palopo” yang digelar di Aula Rujab Walikota Palopo, Jumat (19/12/2025).
Dalam acara tersebut, Ketua Badan Pelaksana Urusan Adat Battang Palopo, Kamaluddin, mengangkat masalah dugaan pembalakan hutan dan aktivitas tanpa izin di wilayah yang dulunya merupakan hutan desa.
Menurut dia, lokasi tersebut dulunya adalah hutan desa Battang yang dilarang dieksploitasi oleh kepala desa sekaligus tomakaka karena dikhawatirkan berdampak buruk kepada keluarga di bawah Balandai, termasuk Lebang, Lappo, dan Boting.
Meskipun sempat dilarang kecuali untuk menanam rotan saat musim paceklik, wilayah yang masuk batasan adat Battang mengalami pergeseran batas administrasi secara sepihak pada 2021, dari batas asli Battang Lebang hingga masuk ke kilometer 8, bahkan sampai kilometer 10 yang kini “diserobot”.
“Saat ini ada oknum yang membuka spot wisata di atasnya, bahkan dikabarkan termasuk oknum anggota DPRD. Padahal dulu pada tahun 1700 pernah terjadi ‘talli batu ta’nan’ (perjanjian batas), tapi narasinya diubah orang,” ujar Kamaluddin, Ketua Badan Urusan Adat Battang Palopo .
Beberapa bulan lalu, dia pernah bawa puluhan warga ke lokasi untuk memeriksa, memasang baliho larangan, dan bahkan mengajak Asisten I Walikota Andi Poci’ serta almarhum Andi Alam untuk melihat langsung.
“Pada waktu itu, disepakati bahwa semua aktivitas harus diberhentikan. Namun, sampai sekarang oknum tersebut masih tidak mengindahkan larangan, bahkan spanduk larangan yang dipasang dianggap hanya formalitas,” jelasnya.
“Sempat kami tanyakan ke walikota namun beliau tidak tahu, dan kedepannya kami akan meminta dinas terkait seperti PUPR untuk mengambil tindakan nyata, kalau perluh tangkap yang tidak bersertifikat, ” tegas nya.
Dalam wawancara terpisah, salah satu warga Balandai bernama Romulus menambahkan bahwa aktivitas di atas Gunung Buntu Tabaro Lebang sudah sangat berbahaya.
Menurutnya, air di daerah Balandai yang dulunya jernih dan dipakai sebagai air minum sekarang sudah keruh karena pengaruh aktivitas di atas.
“Pertanyaan saya, apakah pekerjaan di sana disetujui oleh pemerintah? Sampai hari ini masih terdengar bunyi senso (mesin pemotong kayu), meskipun sudah dilarang,” kata Romulus.
Ia menjelaskan bahwa dia bersama Lurah Balandai sedang membentuk untuk mengembangkan agro wisata diwilayah nya Balandai yang bekerja sama dengan hotelnya.
“Tamu hotel sangat butuh tempat wisata bernuansa alam. Jika masalah di atas tidak diselesaikan, akan mempengaruhi air dan program agro wisata yang kami bangun. Maka dari itu kami meminta bantuan pemerintah dan aparat untuk menjaga kelestarian wilayah,” jelasnya.(Andri)





Tinggalkan Balasan