Ketua Komisi A DPRD Palopo Minta DP3A dan Disdik Tangani Kasus Pengeroyokan Siswa SMP 13

Gie

PALOPO, INDEKSMEDIA.ID – Ketua Komisi A DPRD Kota Palopo, Aris Munandar, menanggapi serius video viral pengeroyokan seorang siswa SMP Negeri 13 Palopo oleh rekan-rekannya sendiri. Ia menilai kejadian itu harus menjadi perhatian penuh pemerintah daerah agar tidak berdampak buruk terhadap kondisi psikologis korban.

Menurut Aris, langkah cepat sangat dibutuhkan dari semua pihak, terutama sekolah, Dinas Pendidikan, dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A). Ia mengatakan pentingnya kolaborasi lintas instansi untuk memastikan korban mendapat perlindungan dan pemulihan yang memadai.

“Saya meminta pihak sekolah, Dinas Pendidikan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk cepat menyikapi viralnya video pemukulan di salah satu sekolah menengah pertama di Kota Palopo dan memastikan korban mendapatkan dukungan psikologis dan konseling agar tak trauma dengan kejadian tersebut,” kata Aris, Rabu (8/10/2025).

Ia juga menyoroti bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan bukan hanya persoalan siswa dengan siswa, tetapi menyangkut tanggung jawab moral pemerintah daerah. Karena itu, ia mendorong DP3A agar memberikan pendampingan yang komprehensif.

“Akibat kejadian kekerasan ini, saya meminta DP3A melakukan pendampingan secara komprehensif baik dalam proses hukum maupun pemulihan mental korban tersebut,” katanya.

Selain itu, Aris menilai Dinas Pendidikan harus melakukan evaluasi mendalam terhadap sekolah tempat kejadian berlangsung. Evaluasi itu, katanya, penting untuk memastikan apakah ada unsur kelalaian atau kekurangan pengawasan dari pihak sekolah.

“Kepada Dinas Pendidikan, lakukan evaluasi mendalam terhadap sekolah, apakah ada kelalaian dari pihak sekolah atau seperti apa,” tegasnya.

Politikus muda itu menekankan, kasus kekerasan antar pelajar tidak boleh dianggap remeh. Ia berharap kejadian seperti ini menjadi momentum bagi semua pihak untuk memperkuat peran sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman.

“Saya berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi di Kota Palopo,” harapnya.

Lebih lanjut, Aris menjelaskan bahwa pencegahan perilaku kekerasan harus dimulai dari sekolah dengan menanamkan nilai-nilai moral dan pembentukan karakter siswa sejak dini. Ia menilai pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pembinaan kepribadian.

“Ini harus dimulai dari peran sekolah dalam memberikan sosialisasi kepada siswa untuk mencegah kenakalan, kekerasan, dan bullying yang tidak hanya sebatas memberikan pelajaran akademik,” terangnya.

Ia menegaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi semua siswa tanpa rasa takut terhadap kekerasan. Menurutnya, keamanan dan inklusivitas merupakan fondasi utama dunia pendidikan.

“Sekolah harus menjadi tempat aman dan inklusif bagi semua siswa,” tandasnya. (EMA).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!