Tinggal di Kos dengan Anak-Cucu, Warga Ponjalae Ini Terima Bantuan Dinsos Palopo

Gie

PALOPO, INDEKSMEDIA.ID – Dinas Sosial Kota Palopo menyalurkan bantuan kepada warga miskin ekstrem di Kelurahan Ponjalae, Kecamatan Wara Timur. Bantuan ini diberikan setelah Lurah Ponjalae melaporkan kondisi salah satu warganya, Asriani, yang selama ini hidup dengan keterbatasan ekonomi.

Asriani menggambarkan kesehariannya yang jauh dari kata cukup. Ia tinggal di sebuah kos sederhana bersama anak dan cucunya, dengan kondisi rumah yang harus dibayar sewa setiap bulan. Ketiadaan suami yang sementara waktu berada di luar kota membuatnya harus berjuang sendiri menghidupi keluarga.

“Tinggal di sini sama anak dan cucu. Kami tujuh orang semua. Suami masih ada tapi tidak di sini, lagi keluar 4 bulan ibadah,” ucapnya, Kamis (11/9/2025).

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, Asriani hanya bisa mengandalkan pekerjaannya sebagai pengikat rumput laut. Penghasilan yang diperoleh tidak menentu dan sering kali tidak cukup untuk menutupi kebutuhan dasar, apalagi membayar kos yang cukup tinggi bagi ukuran ekonomi keluarganya.

“Untuk kebutuhan sehari-hari biasa kerja ikat rumput laut, pendapatannya biasa Rp40 ribu biasa juga Rp30 ribu, tergantung. Untuk sewa tempat tinggal di sini (indekost) bayarnya Rp450 ribu,” katanya.

Keterbatasan itu berdampak langsung pada masa depan anak-anaknya. Ia menuturkan, dari sekian anaknya, ada yang sudah menikah, ada yang masih kecil, dan ada pula yang harus berhenti sekolah karena masalah biaya.

“Kalau anak saya yang paling besar itu sudah menikah mi. Kalau yang paling kecil itu baru empat tahun umurnya. Anak saya tidak sekolah karena tidak mampu,” ungkapnya.

Meski hidup dalam keterbatasan, Asriani tetap menunjukkan keteguhan hati. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian pemerintah yang telah menyalurkan bantuan kepadanya.

“Terima kasih banyak atas bantuannya ibu dan bapak. Mudah-mudahan bisa lebih dimudahkan rezkinya,” harapnya.

Sementara itu, Lurah Ponjalae, Gerhany, menjelaskan bagaimana warganya tersebut akhirnya mendapat bantuan dari Dinas Sosial. Ia mengungkapkan, Asriani sebelumnya menetap di Pontap lalu pindah ke wilayah Ponjalae beberapa bulan lalu untuk tinggal di rumah kos.

“Jadi memang sebelumnya dia di Pontap kemudian dipindahkan ke Ponjalae untuk kost beberapa bulan di sini,” kata Gerhany.

Dari laporan yang ia terima, Asriani ternyata belum memiliki administrasi kependudukan sebagai warga Ponjalae. Hal itu sempat menyulitkan akses bantuan sosial sehingga pihak kelurahan terlebih dahulu turun tangan membantu.

“Kemudian saya dapat informasi, ada masyarakat yang tinggal di wilayah Ponjalae tapi belum memiliki administrasi kependudukan,” lanjutnya.

Gerhany menjelaskan, langkah awal yang diambil adalah membantu pengurusan dokumen kependudukan. Setelah selesai, pihak kelurahan melaporkan ke Dinas Sosial agar warganya bisa masuk dalam daftar penerima manfaat.

“Kemudian kita bantu seadanya dan kita juga uruskan administrasinya dulu sebagai warga Ponjalae. Alhamdulillah itu selesai, makanya kami sedikit-sedikit bisa mencarikan bantuan untuk bisa membantu warga,” jelasnya.

Ia juga menyinggung kemungkinan bantuan lain yang bisa diakses oleh Asriani. Meski saat ini belum masuk dalam daftar, ia berharap warga tersebut bisa memperoleh kesempatan ke depan.

“Tidak. Tapi kalau untuk mendaftar sudah, mudah-mudahan ada rejekinya untuk masuk sebagai penerima bantuan PKH,” ungkapnya.

Perhatian lurah tidak berhenti pada bantuan sosial, tetapi juga merambah sektor pendidikan. Ia menceritakan bagaimana anak Asriani yang berusia tujuh tahun sebelumnya belum pernah bersekolah. Hal itu membuatnya langsung mengambil inisiatif agar sang anak bisa segera mendapatkan pendidikan formal.

“Yang kemarin anaknya ini yang belum sekolah, saya dapat informasi dia sudah usia tujuh tahun. Makanya saya panggil ibunya dan langsung daftarkan dia di SD yang ada di dekat sini,” tambahnya.

Menurut Gerhany, upaya itu membuahkan hasil karena anak tersebut sudah diterima di sekolah dasar. Namun, persoalan baru muncul karena keluarga Asriani tidak mampu membeli seragam.

“Alhamdulillah sudah diterima sekolah. Tapi kendalanya lagi tidak ada biaya untuk pengadaan seragam sekolah,” ucapnya.

Untuk menjawab kebutuhan itu, pihak kelurahan bersama RT dan unsur tiga pilar berinisiatif menggalang dana. Ia menyebut langkah ini mendapat dukungan banyak pihak yang ingin membantu.

“Kami di tiga pilar sudah berkoordinasi bersama pak RT bahwa kita mau adakan penggalangan dana untuk seragam sekolahnya. Dan alhamdulillah sejauh ini sudah ada beberapa pihak yang bersedia membantu untuk pengadaan seragam sekolah,” imbuhnya.

Selain itu, lurah juga mengupayakan pendidikan bagi anak lain dari Asriani yang sempat putus sekolah. Ia menegaskan bahwa anak tersebut didaftarkan mengikuti program pendidikan kesetaraan.

“Untuk kakaknya ini sementara kita daftarkan untuk paket. Karena memang dia masih usia sekolah dan putus sekolah kemarin,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!