Warga Kambo Keluhkan Jalan Rusak dan Minta Pelatihan SDM saat Reses DPRD Palopo
PALOPO, INDEKSMEDIA.ID – Sejumlah persoalan disuarakan warga Kelurahan Kambo, Kecamatan Mungkajang, dalam agenda reses anggota DPRD Palopo Daerah Pemilihan (Dapil) 3 masa persidangan 2024-2025.
Akses menuju lokasi tersebut masih dikeluhkan karena jalanan yang rusak dan berlubang. Warga berharap pemerintah segera turun tangan memperbaikinya.
“Kondisi jalan ke wilayah Kambo itu seperti yang kita tahu, jalannya sudah banyak yang rusak. Jadi kami harap ada perhatian ke situ,” kata salah seorang warga Kambo.
Ia menyampaikan bahwa wilayah Kambo kini semakin ramai dikunjungi, bahkan bisa mencapai ratusan orang setiap hari. Namun kondisi infrastruktur belum mendukung.
“Pengunjung menuju Kambo itu paling banyak kalau per harinya itu 500 sampai 600 orang,” katanya.
Tak hanya soal jalan, warga juga meminta adanya lampu penerangan jalan. Pasalnya, aktivitas masyarakat maupun wisatawan juga kerap berlangsung di malam hari.
“Penerang jalan juga sangat perlu karena sudah ramai juga pengunjung ke Kambo itu pada waktu malam hari,” ungkapnya.
Ia pun menyinggung soal kebutuhan pengembangan sumber daya manusia (SDM) di Kelurahan Kambo. Menurutnya, warga perlu diberi pelatihan agar bisa mengembangkan potensi ekonomi lokal.
“Kami cuma minta masyarakat di sana itu kalau bisa ada pelatihan khusus dari OPD terkait, entah itu pelatihan mengolah sesuatu hal supaya bisa menghasilkan,” imbuhnya.
Menanggapi hal itu, anggota DPRD Palopo, Elizabeth RZ Mengke, menyatakan dukungannya terhadap usulan pelatihan dan pemberdayaan warga. Ia menyebut Palopo punya potensi besar yang belum banyak digarap.
“Pemberdayaan masyarakat itu saya sangat setuju,” tegasnya.
Menurutnya, sebagai daerah yang memiliki destinasi wisata, Palopo semestinya tidak hanya fokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga pengembangan kapasitas masyarakat.
“Daerah kita di sini itu daerah pariwisata. Saya sepakat masyarakat itu diberdayakan melalui pelatihan-pelatihan.”
Elizabeth menilai, selama ini pembangunan cenderung hanya bicara soal infrastruktur. Padahal, hasil karya dan keterampilan masyarakat juga bisa menjadi nilai jual tersendiri.
“Selama ini kita hanya berbicara tentang infrastruktur tapi tidak ada pemberdayaan masyarakat. Apa salahnya kalau di Palopo kita berdayakan, kita perlihatkan hasil karya kita. Kalau kita punya keterampilan, kita bisa jual,” pungkasnya.





Tinggalkan Balasan