Gula Aren Tandung Palopo, Manisnya Tradisi Pegunungan yang Dirawat Turun-Temurun

Gie

PALOPO, INDEKSMEDIA.ID – Di wilayah pegunungan Tandung, Kelurahan Peta, Kecamatan Sendana, Kota Palopo, tradisi membuat gula aren masih bertahan hingga kini. Meski akses menuju lokasi ini cukup menantang dengan jalan bebatuan yang menanjak sejauh 10 kilometer dari pusat kecamatan semangat warga untuk mempertahankan warisan lokal tak pernah luntur. Bahkan, generasi muda mulai terlibat aktif dalam merawatnya.

Salah satu pengrajin muda yang turut melestarikan tradisi ini adalah Salna, seorang mahasiswi aktif di Institut Kurnia Jaya Persada Kota Palopo. Di sela kesibukannya kuliah, ia masih rutin memproduksi gula aren dari pohon milik keluarganya sendiri.

“Sudah turun temurun. Saya sadap dari pohon aren milik sendiri,” ungkap Salna saat dikonfirmasi, Jumat (27/6/2025).

Menurutnya, gula aren dari Tandung punya kualitas khas karena diproses langsung dari nira pohon aren yang tumbuh alami di pegunungan tanpa bahan campuran apapun.

“Daerah Tandung Kelurahan Peta ini memang dikenal sebagai penghasil gula aren terbaik di Palopo karena diolah langsung dari pohon,” jelasnya.

Ia menambahkan, gula ini sangat cocok untuk pelengkap berbagai kuliner tradisional. Teksturnya yang padat namun lembut, serta rasanya yang manis alami, membuatnya digemari oleh berbagai kalangan.

“Kalau untuk menikmati hasilnya, bisa dicampur dengan berbagai olahan kuliner seperti kolak, es campur, susu bahkan kopi,” terangnya.

Salna menjelaskan bahwa proses pembuatannya cukup panjang dan menuntut ketelatenan. Semuanya masih dilakukan secara manual tanpa bantuan alat modern.

“Proses pembuatan gula aren itu dimulai dari mengambil air nira dengan ditampung di jeriken. Setelah itu didiamkan selama kurang lebih 12 jam,” tuturnya.

Setelah difermentasi ringan, nira dimasak selama berjam-jam hingga berubah menjadi adonan kental. Ia menyebut bagian ini sebagai proses paling krusial.

“Baru setelah itu air dari pohon aren ini dimasak di atas wajan. Prosesnya memakan waktu sekitar 4 jam sampai mulai mengental. Baru diaduk-aduk selama 15 menit. Selanjutnya cetakan dari tempurung kelapa disiapkan dan air aren yang sudah mengental ini kemudian dituang ke cetakan perlahan,” tambahnya.

Setelah dituang, adonan perlu dibiarkan hingga mengeras sebelum dijual ke pelanggan. Dalam sehari, ia bisa menghasilkan puluhan biji gula dengan harga jual Rp15.000 hingga Rp17.000 per buah.

“Diamkan selama 30 menit. Beberapa saat kemudian gula aren sudah siap dijual,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!