Kisah Cinta Patemban dan Lai’ To Bulo, Sejarah Lahirnya Tari Pa’jaga Lili Peta
PALOPO, INDEKSMEDIA.ID – Sebuah kisah cinta antara dua sepupu dari kalangan bangsawan di tanah Peta yang terletak di Kelurahan Peta, Kecamatan Sendana, Kota Palopo. Tak hanya menyisakan cerita legendaris, tapi juga melahirkan sebuah tradisi budaya yang kini dikenal sebagai Tari Pa’jaga Lili Peta. Cerita ini berasal dari tokoh-tokoh adat yang masih dipercaya masyarakat hingga kini.
Menurut penuturan Linrang Mangesa, sesepuh adat Peta yang mewarisi cerita turun-temurun ini, kisah bermula dari seorang pemuda bangsawan bernama Puang Patemban yang jatuh hati pada sepupunya sendiri, seorang gadis cantik dan berbudi pekerti halus bernama Lai’ To Bulo.
“Patemban dan Lai’ To Bulo masih sepupu satu kali, mereka sama-sama berasal dari garis keturunan Tomakaka Peta, yaitu keturunan bangsawan yang sangat dihormati di masyarakat kami,” ujar Linrang, Senin (9/6/2025).
Perasaan Patemban kepada sepupunya bukanlah cinta sesaat. Ia sudah lama menyimpan rasa kagum, yang kemudian tumbuh menjadi niat untuk mempersunting Lai’ To Bulo sebagai istrinya. Ia pun menyampaikan keinginannya kepada orang tuanya agar segera melamar gadis pujaannya itu secara resmi.
“Dia menyukai Lai’ To Bulo karena parasnya cantik dan budi pekertinya sangat baik. Ia bahkan sudah berniat serius melamarnya,” kata Linrang.
Namun, kisah cinta itu tidak berjalan mulus. Ternyata perasaan Patemban tidak berbalas. Lai’ To Bulo tidak memiliki ketertarikan yang sama terhadap sepupunya tersebut. Ia memandang Patemban hanya sebagai saudara dekat dan tidak lebih dari itu. Tapi karena tekanan dari keluarganya, terutama kedua orang tuanya, ia akhirnya menerima lamaran tersebut dengan perasaan yang berat.
“Lai’ To Bulo tidak mencintai Patemban. Ia menganggap Patemban hanya sebatas sepupu. Tapi karena desakan keluarga, terutama dari orang tuanya, akhirnya ia menerima lamaran itu, meski dengan terpaksa,” ungkap Linrang.
Meski bersedia menerima lamaran, Lai’ To Bulo mengajukan sebuah syarat yang tidak biasa. Ia meminta agar Patemban membawa 40 ekor kerbau, sesuai dengan jumlah tiang rumahnya. Setiap kerbau harus diikatkan pada tiap-tiap tiang rumah tersebut. Syarat itu disampaikan pihak perempuan setelah keluarga Patemban datang melamar.
“Dia meminta agar Patemban membawa sapi sebanyak jumlah tiang rumahnya, yaitu 40 ekor (kerbau). Setiap sapi harus diikat di tiap tiang rumah itu,” jelas Linrang.
Keluarga Patemban tidak mundur. Mereka segera memenuhi permintaan itu dengan mengerahkan seluruh kerbau yang diternak di padang rumput luas. Kerbau-kerbau itu diarak menuju rumah calon mempelai perempuan dan mulai diikat satu per satu pada setiap tiang rumah. Kerbau yang tidak mendapat tiang untuk diikat langsung digiring kembali.
“Begitu kerbau-kerbau sampai di rumah Lai’ To Bulo, satu per satu diikatkan ke tiap tiang rumah. Yang tidak kebagian tiang langsung digiring kembali. Total ada 40 ekor, pas sesuai permintaan,” kata Linrang.
Setelah syarat yang diajukan oleh Lai’ To Bulo terpenuhi, pernikahan keduanya pun digelar secara adat. Prosesi pernikahan berlangsung meriah, disambut dengan suka cita oleh masyarakat setempat. Pesta pernikahan itu bahkan berlangsung selama tiga bulan penuh, disertai dengan pertunjukan tarian tradisional setiap harinya.
“Pestanya digelar selama tiga bulan berturut-turut, penuh tarian dan kemeriahan. Dari sanalah lahir Tari Pa’jaga Lili Peta,” imbuhnya.

Sementara itu, menurut Irwan Lantasanna, pendiri sekaligus pembina Sanggar Seni Pa’jaga Lili Peta, kisah ini menjadi sumber inspirasi utama berdirinya sanggar tersebut.
“Cerita Patemban dan Lai’ To Bulo bukan hanya legenda, tapi juga cermin bagaimana nilai adat, cinta, dan pengorbanan bisa melahirkan seni. Tarian ini kami lestarikan agar generasi muda tidak melupakan akar budayanya,” ujar Irwan.
Ia menambahkan bahwa tarian ini masih rutin dipentaskan dalam berbagai acara adat maupun festival budaya.
“Tari Pa’jaga Lili Peta kini menjadi identitas budaya kami di Peta. Setiap gerakannya mengandung makna yang kuat, dan itu berangkat dari kisah nyata yang hidup dalam ingatan masyarakat,” tandasnya.
Kini, Tari Pa’jaga Lili Peta menjadi simbol budaya yang dihormati di kalangan masyarakat Peta. Tarian ini tak hanya mengingatkan pada kisah cinta yang penuh pengorbanan, tetapi juga menggambarkan kuatnya nilai-nilai adat dalam perjalanan hidup masyarakat setempat.





Tinggalkan Balasan