Kisah Ikhlas Sepanjang Zaman: Pelajaran dari Ibrahim dan Ismail

Penulis Muhlisa Massi (Ketua Umum IPARI Kab. Luwu)

INDEKSMEDIA.ID – Setiap tahun, gema takbir menggetarkan langit dan hati umat Islam di seluruh dunia saat Hari Raya Idul Adha tiba. Di balik ritual penyembelihan hewan kurban yang dilakukan dengan penuh semangat dan kebersamaan, tersimpan sebuah pelajaran mendalam yang berasal dari kisah agung dua hamba pilihan Allah: Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalam. Kisah ini bukan sekadar cerita sejarah, melainkan teladan keikhlasan yang melampaui zaman.

Nabi Ibrahim menerima perintah Allah melalui mimpi yang berulang-ulang, yakni untuk menyembelih putranya sendiri, Ismail. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama ayahnya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia (Ismail) menjawab: ‘Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Tak tergambarkan betapa beratnya ujian itu. Namun baik ayah maupun anak sama-sama menunjukkan keikhlasan yang luar biasa. Keikhlasan bukan karena tidak memiliki rasa cinta terhadap satu sama lain, tapi karena cinta mereka kepada Allah jauh lebih besar. Inilah inti dari kurban: kesediaan untuk menyerahkan yang kita cintai demi taat kepada Allah.

Di era modern yang serba instan ini, konsep keikhlasan seringkali kabur oleh keinginan untuk dilihat, diakui, dan dipuji. Kadang, ibadah pun terjebak dalam pencitraan dan formalitas. Maka, kisah Nabi Ibrahim dan Ismail kembali menjadi cermin bagi kita semuas sejauh mana kita benar-benar berkurban karena Allah, bukan karena ingin eksis di hadapan manusia.

Kurban bukan hanya soal menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih ego, ambisi duniawi, dan hawa nafsu. Menyisihkan sebagian rezeki terbaik kita untuk orang lain dengan tulus, tanpa pamrih. Dalam konteks sosial, kurban adalah simbol dari kepedulian—menghidupkan semangat berbagi dan menyalurkan cinta kasih pada mereka yang kurang beruntung.

Melalui kurban, kita diajak untuk meneladani ketundukan total kepada kehendak Allah sebagaimana Ibrahim dan Ismail, serta menumbuhkan empati sosial sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW. Maka, marilah kita sambut Idul Adha ini bukan hanya dengan daging dan pesta, tetapi dengan hati yang ikhlas dan semangat berbagi yang tulus. Karena pada akhirnya, kurban yang diterima bukan daging atau darahnya, melainkan ketakwaan dan keikhlasan kita.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalian-lah yang dapat mencapainya…”

(QS. Al-Hajj: 37)

Keikhlasan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukanlah keikhlasan yang lahir dari kepasrahan tanpa makna. Ia tumbuh dari keyakinan yang utuh kepada Rabb semesta alam. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian dan godaan materialisme seperti sekarang, kita perlu kembali belajar dari mereka. Belajar untuk yakin bahwa setiap perintah Allah pasti mengandung kebaikan, meski terkadang logika kita belum mampu memahaminya secara penuh.

Kurban hari ini dapat menjadi sarana bagi kita untuk melatih kepekaan hati. Di balik hewan yang disembelih, ada banyak pelajaran yang disiapkan untuk kita renungkan. Apakah kita sudah mampu menyembelih kesombongan kita? Apakah kita bersedia melepaskan keinginan pribadi demi kepentingan bersama? Apakah kita benar-benar peduli terhadap tetangga yang tak bisa makan daging kecuali di hari raya?

Bagi sebagian orang, berkurban mungkin terasa ringan karena kelimpahan harta. Tapi bagi yang berjuang dari hasil kerja keras, kurban adalah bukti cinta kepada Allah yang luar biasa. Tak sedikit orang sederhana yang menabung berbulan-bulan demi bisa membeli seekor kambing atau satu bagian sapi. Inilah wajah ikhlas yang sesungguhnya—diam, tak butuh sanjungan, tapi menggetarkan langit.

Esensi qurban adalah transformasi diri. Jika sebelumnya kita hanya memikirkan diri sendiri, maka setelah kurban, kita diajak untuk berpikir lebih luas—menjadi pribadi yang lebih peduli, lebih tulus, dan lebih tunduk kepada Allah. Itulah sebabnya, kurban yang benar bukan hanya meninggalkan bekas di tanah, tetapi juga menumbuhkan bekas dalam hati.

Kurban adalah momen tahunan yang sarat makna. Jangan biarkan ia berlalu sebagai rutinitas kosong. Mari jadikan kurban sebagai titik balik untuk memperbaiki niat, memperkuat iman, dan memperluas kepedulian sosial. Karena sejatinya, kurban bukan tentang hewan, melainkan tentang hati. Dan hanya hati yang ikhlaslah yang akan diterima oleh Allah Ta’ala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!