Proyek Revitalisasi Rp5 M di SMAN Bantilang Lutim Diduga Jadi “Lumbung Korupsi,” Kualitas Bangunan Disoal

LUTIM,INDEKSMEDIA.ID – Proyek revitalisasi di SMN Negeri Desa Bantilang, Kecamatan Towoti, Kabupaten Luwu Timur (Lutim), harusnya telah rampung Desember 2025, berdasarkan kontrak 150 hari kerja. Sayangnya, target tersebut tidak dapat terpuenuhi sehingga proyek yang menelan anggaran Rp5.855.123.000 milyar dari APBN 2025 tersebut harus nyebrang ke 2026.

Sejumlah isu berkembang di Lutim, jika konsultan proyek tersebut mengajukan adendum atau penambahan kontrak/perjanjian masa hari kerja hingga Januari 2026.

Namun, telah masuk pertengahan Januari 2026, proyek baru berupa pembangunan ruang kelas (4 ruang) dan perabotnya, pembangunan ruang administrasi dan prabotnya, pembangunan ruang Lobi dan prabotnya, pembangunan ruang Lab komputer dan prabotnya, pembangunan ruang IPA dan prabotnya, pembangunan ruang Perpustakaan dan prabotnya, kemudian selanjutnya Ruang penunjang yakni, Ruang ibadah, ruang kantin, ruang kesehatan, gudang, ruang BP, ruang Osis-PMR-PASKIBRA dan Sanitasi, belum juga ada tanda-tanda penyelesaian.

Wajar jika tanggapan miring publik Lutim bermunculan dengan menduga adanya praktik korupsi dan pembangunan asal-asalan di sekolah tersebut.

Bahkan, sejumlah pihak di Bumi Batara Guru itu menduga proyek tersebut telah menjadi “lumbung korupsi” bagi oknum di lingkungan sekolah, dengan kerugian yang sangat mungkin berdampak pada keselamatan dan kualitas belajar siswa.

Salah satu Aktivis Lutim, Alfin mengatakan keterlambatan pekerjaan serta adanya adendum yang diajukan kiranya menjadi perhatian serius Aparat Penegak Hukum (APH) di Lutim.

“Ini sudah jelas ada pelanggaran. Keterlambatan pekerjaan maka muncul pula pertanyaan, ada apa dan mungkin jadi mulai dari bahan sampai pebangunannya bermasalah. Kami akan kawal masalah ini sampai tuntas,” terangnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Sekolah (Kepsek) SMA Negeri Bantilang, Zarkasi Ahmad, mengatakan saat ini proyek revitalisasi di sekolahnya sudah rampung. Pekerja bangunan tinggal melakukan pembenahan dengan membersihkan sisa-sisa pekerjaan yang masih tertinggal.

Zarkasih menyebutkan, di Indomesia ada 32 sekolah yang diberikan proyek revitaslisasi, di Sulawesi Selatan (Sulsel) sendiri ada 4 daerah, yakni sebut dia Bone 1 sekolah, Tana Toraja satu, Maros dan Kabupaten Luwu Timur (Lutim).

“Kemarin kita minta Adendum penyelesaian di Januari 2026 karena pekerjaan banyak yang terhambat. Bahkan keterlambatan pengerjaan ini sudah kami sampaikan pula ke Inspektorat kita hanya berharap sekolah ini nantinya bisa menjadi ikon utama di Kabupaten Lutim khususnya di Towoti,” tutur Zarkasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!