Jembatan Reyot di Palopo Telan Korban Jiwa, Germapa Minta Pemkot Tanggung Jawab
PALOPO, INDEKSMEDIA.ID – Insiden memilukan terjadi di Jembatan Gantung reyot Kelurahan Panjalesang, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo. Marwan (50), yang akrab disapa Papa Ronal, dilaporkan terjatuh dari ketinggian sekitar enam meter setelah bagian kayu jembatan yang dilaluinya patah.
Peristiwa ini memicu duka mendalam sekaligus kemarahan warga, mengingat jembatan tersebut merupakan akses vital yang setiap hari digunakan masyarakat.
Kabid Advokasi Germapa, Muh. Firmansyah, menyampaikan pernyataan keras atas kejadian tersebut. Ia menggambarkan peristiwa itu sebagai tragedi yang seharusnya bisa dicegah apabila ada keseriusan dalam pemeliharaan infrastruktur publik.
“Sungguh tragis tragedi yang di alami oleh Almarhum Marwan (Papa Ronal) pada 10 Februari 2026 jatuh dari jembatan gantung Pajalesang setinggi kurang lebih 6 meter akibat kayu jembatan yang lapuk,” ujar Firmansyah, Rabu (11/2/2026).
Lebih jauh, Firmansyah menilai insiden tersebut tidak bisa dipandang sebagai musibah biasa. Ia menyinggung adanya janji perbaikan jembatan yang sebelumnya telah dipublikasikan pemerintah, namun hingga kini belum terealisasi secara nyata di lapangan.
“Ini bukanlah murni musibah semata melainkan pembiaran yang berujung maut. Padahal janji perbaikan jembatan sudah ada sejak September 2025 di website Pemkot, tapi sampai sekarang cuma jadi pajangan berita,” katanya.
Dalam pernyataannya, ia juga menyoroti kebijakan penganggaran pemerintah daerah yang dianggap lebih memprioritaskan proyek-proyek bersifat estetika dibandingkan kebutuhan dasar masyarakat, terutama yang menyangkut keselamatan publik.
“Sangat menyakitkan melihat pemerintah mampu menggelontorkan miliaran rupiah untuk proyek lapangan olahraga dan estetika kota, namun membiarkan jembatan kayu yang menjadi urat nadi warga Pajalesang membusuk hingga patah. Apakah estetika lebih mahal daripada nyawa?” jelasnya.
Ia kemudian menegaskan bahwa pemerintah harus bertanggung jawab secara moral maupun administratif atas insiden tersebut. Menurutnya, tragedi ini menjadi cermin adanya persoalan serius dalam tata kelola infrastruktur kota yang tidak boleh lagi diabaikan.
“Pemerintah harus bertanggung jawab penuh kepada keluarga korban dan mengakui secara terbuka bahwa insiden ini adalah kegagalan sistemik infrastruktur kota. Jangan tunggu korban berikutnya jatuh untuk sekadar memegang sekop dan semen. Rakyat membayar pajak untuk fasilitas yang menyelamatkan, bukan fasilitas yang menjemput maut,” imbuhnya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Palopo, yang dikonfirmasi terkait insiden jembatan gantung tersebut, belum memberikan keterangan apapun.




Tinggalkan Balasan