41 Peserta Lulus Penamatan SBL I La Galigo Cabang Lutim Angkatan II

PALOPO,INDEKSMEDIA.ID – Kegiatan “Mappatemme Sikolah” atau penamatan Sekolah Budaya Luwu I La Galigo cabang Kabupaten Luwu Timur berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Luwu Timur pada Rabu (14/1/2026).

Sebanyak 41 orang para Guru dan Kepala Sekolah Skolah dinyatakan lulus dari total 66 peserta yang mengikuti angkatan ke-II.

Kegiatan dihadiri oleh pemangku adat, Pejabat Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah (Plt Setda) Luwu Timur, dan Kepala Bagian Operasional (Kabag OPS) Polres Luwu Timur, serta berbagai pejabat dan tokoh daerah lainnya.

Ketua Yayasan Sekolah Budaya Wanua Tana Luwu, Sharma Hadeyang, menjelaskan bahwa Sekolah Budaya Luwu I La Galigo mulai beroperasi sejak 18 November 2019 di Kabupaten Luwu.

Setelah satu tahun, sekolah tersebut dikembangkan ke Kabupaten Luwu Utara, dan setahun kemudian dibuka juga untuk Kabupaten Luwu Timur.

“Hingga saat ini, alhamdulillah sekolah ini telah melahirkan kajian lestari sebanyak 517 orang dengan 10 angkatan di Kabupaten Luwu, 283 orang dengan 6 angkatan di Luwu Utara, dan 66 orang dengan 2 angkatan di Luwu Timur,” ujar Sharma.

Ia menegaskan bahwa gerakan sosial pelestarian budaya ini tidak boleh berhenti meskipun zaman berkembang pesat.

“Kami berharap pemerintah Kabupaten Luwu Timur dan seluruh perangkat daerah dapat bergandengan tangan untuk membesarkan sekolah ini. Budaya kita harus kita jaga, sehingga kita dapat dengan lantang mengatakan ‘saya adalah Wija To Luwu’ tanpa membedakan suku atau daerah asal,” ucapnya.

Dewan Adat, Opu Mincara Burau Bintang Andi Aras, menyatakan bahwa kegiatan penamatan ini sangat fenomenal.

Menurutnya, masyarakat di wilayah Luwu Timur hampir kehilangan pemahaman tentang adat istiadat dan tradisi.

“Saya yakin keberadaan Sekolah Budaya Luwu (SBL) dapat membantu kita semua menjadi agen pelestari budaya yang sejalan dengan pesan dari Datu Luwu,” katanya.

Opu Mincara Burau menambahkan bahwa pesan utama adalah untuk menyatukan masyarakat yang mulai terpecah.

“Salah satu cara untuk menyatukan adalah melalui SBL, karena dengan sekolah ini semua orang dapat memahami posisi mereka di masyarakat,” jelasnya.

Ia juga berharap pemerintah daerah dapat mendukung kegiatan ini, mengingat semua pelaku bekerja secara sukarela tanpa mendapatkan gaji.

Sekedar diketahui sebanyak 41 lulusan SBL diantaranya 10 orang dinobatkan sebagai peserta terbaik.(Andri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!