Soal Bentrok di Palangerang, Publik Kecam Lemahnya Ketegasan Kapolres Palopo

PALOPO,INDEKSMEDIA.ID — Tragedi bentrok antar kelompok pemuda di wilayah perbatasan Kecamatan Telluwanua dan Bara Kota Palopo kembali terjadi.

Peristiwa ini bukan hanya berulang, tetapi semakin menunjukkan kegagalan aparat keamanan dalam menjamin rasa aman masyarakat.

Dalam dua hari berturut-turut, bentrokan berlangsung secara terbuka pada pagi buta, menciptakan ketakutan, keresahan, dan ancaman nyata bagi warga Palangeran dan sekitarnya.

Situasi kian memprihatinkan karena eskalasi konflik terus meningkat. Bentrokan yang sebelumnya hanya berupa aksi saling serang kini telah melibatkan senjata tajam hingga senjata api rakitan jenis papporo, senjata berbahaya yang berpotensi merenggut nyawa.

Kondisi ini menandakan konflik telah berada pada fase darurat keamanan dan tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan biasa.

Berbagai kecaman keras datang dari masyarakat. Salah satunya disampaikan oleh Fery, aktivis mahasiswa asal Telluwanua yang juga menjabat sebagai Ketua FPH Luwu Raya sekaligus Ketua Karang Taruna Sumarambu, Kecamatan Telluwanua.

Menurut Fery, konflik ini bukan lagi rahasia umum dan telah berlangsung selama berbulan-bulan tanpa penanganan yang serius dan menyeluruh. Ia menilai aparat keamanan, khususnya Polres Palopo, gagal membaca situasi dan cenderung membiarkan konflik berkembang menjadi lebih brutal.

“Dalam kondisi seperti ini, sebenarnya jalan penyelesaian sudah sangat jelas. Pemerintah melalui Forkopimda harus hadir dengan musyawarah yang tegas dan dibarengi penegakan hukum tanpa kompromi. Namun yang menjadi sorotan utama publik adalah ketidaktegasan Aparat Penegak Hukum, terutama Kapolres Palopo dan jajaran polsek terkait,” tegas Fery, menanggapi, Selasa (13/01/2026).

Ia secara terbuka mengkritik sikap Kapolres Palopo yang dinilai tidak menunjukkan kepemimpinan kuat dalam mengendalikan konflik.

“Kami menilai Kapolres Palopo lalai dan abai dalam menjalankan fungsi perlindungan masyarakat. Bentrokan ini bukan baru terjadi kemarin, tapi sudah berbulan-bulan. Anehnya, konflik justru semakin parah, semakin berani, dan semakin mematikan. Ini mencerminkan lemahnya wibawa hukum,” ujarnya.

Fery menegaskan bahwa kehadiran Kapolres Palopo sangat dinantikan, namun bukan sekadar hadir secara seremonial.

“Kami tidak butuh Kapolres yang hanya datang melihat lokasi bentrok. Kami menunggu Kapolres Palopo hadir secara institusi, hadir dengan kebijakan tegas, tindakan nyata, dan penegakan hukum yang mampu menghentikan konflik dan menghadirkan rasa aman bagi masyarakat,” lanjutnya.

Ia juga mengingatkan pemerintah dan aparat keamanan agar tidak mengulangi kesalahan sejarah yang pernah terjadi di wilayah Batu Uri, yang hingga kini dikenang sebagai konflik kelam akibat pembiaran dan lambannya respons negara.

“Kami tidak ingin konflik Telluwanua–Bara ini berubah menjadi tragedi berdarah seperti yang pernah terjadi di Batu Uri. Itu sejarah kelam yang seharusnya menjadi pelajaran. Jangan biarkan konflik kecil menjadi pemantik tragedi besar hanya karena negara terlambat atau takut bertindak,” tegas Fery.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penyelesaian konflik tidak cukup hanya dengan membubarkan bentrokan di lapangan, tetapi harus menyentuh akar persoalan secara jujur dan menyeluruh.

“Pemerintah harus benar-benar hadir mendudukkan sumber masalah. Jangan hanya sibuk saat bentrokan pecah, lalu menghilang setelah reda. Semua pihak harus dilibatkan, termasuk kami para pemuda, untuk mensosialisasikan kebersamaan dan menjaga kamtibmas. Tapi sekali lagi, pemuda tidak boleh menggantikan peran negara,” tutupnya.

Masyarakat kini menunggu langkah konkret, tegas, dan terukur dari Kapolres Palopo serta pemerintah daerah, sebelum konflik ini benar-benar berubah menjadi tragedi kemanusiaan yang tak terulang dan mencoreng wajah Palopo untuk selamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!