Demo Pemekaran Luwu Raya di Luwu Utara, Massa Blokade Jalan Trans Sulawesi

Gie

LUWU UTARA, INDEKSMEDIA.ID – Aksi demonstrasi menuntut pemekaran Provinsi Luwu Raya kembali digelar massa Pergerakan Rakyat Luwu Raya di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel). Massa melakukan penutupan jalan di jalur Trans Sulawesi di Kecamatan Sabbang, sebagai bentuk tekanan terhadap pemerintah yang dinilai terus mengabaikan aspirasi rakyat.

Dalam orasinya, salah satu orator menyatakan bahwa perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya bukan sekadar tuntutan politik jangka pendek, melainkan amanat sejarah yang wajib diperjuangkan hingga terwujud. Ia menegaskan, massa siap bertahan dalam waktu lama demi memastikan tuntutan tersebut mendapat perhatian serius.

“Kami siap melakukan aksi berbulan-bulan dan bertahun-tahun agar provinsi Luwu Raya ini bisa terbentuk,” ujarnya, Senin (12/1/2026).

Orator tersebut menekankan bahwa perjuangan pemekaran Luwu Raya telah melalui perjalanan panjang dan penuh pengorbanan. Kata dia, sejarah mencatat adanya korban dalam perjuangan yang saat ini diberi nama Wal-Mas Berdarah, sehingga tidak ada alasan bagi generasi saat ini untuk mundur.

“Kita melihat perjuangan provinsi Luwu Raya ada yang jadi korban, ada yang bahkan tertembak. Ini adalah perintah dan perjuangan dari leluhur kami. Kami akan terus memperjuangkan apa yang jadi perjuangan yang mulia Andi Djemma,” katanya.

Ia juga memperingatkan bahwa kegagalan pemerintah memenuhi tuntutan pemekaran akan berdampak pada meningkatnya eskalasi gerakan. Menurutnya, langkah melumpuhkan jalur ekonomi merupakan opsi yang akan diambil jika aspirasi rakyat kembali diabaikan.

“Kalau kita tidak memperjuangkan apa yang menjadi perjuangan leluhur kita, sama saja dengan kita berhianat pada leluhur kita. Kalau hari ini tuntutan kami tidak terpenuhi, maka kami akan melumpuhkan total jalur ekonomi ke Provinsi Sulsel,” tegasnya.

Lebih lanjut, orator itu menyoroti posisi strategis Luwu Raya sebagai daerah penopang ekonomi Sulawesi Selatan. Ia menilai, selama ini kontribusi besar tersebut tidak sebanding dengan perhatian dan kebijakan pembangunan yang diterima masyarakat Luwu Raya.

“Tapi apa yang dilakukan gubernur kepada kita? Beliau menertawakan kita dalam pidatonya beberapa tahun lalu menyuruh kita (Warga Kecamatan Rampi) keluar dari Indonesia,” tambahnya.

Ia juga mengkritik sikap Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang dinilai meremehkan aspirasi masyarakat Luwu Raya. Pernyataan gubernur di masa lalu kembali diungkit sebagai bukti ketidakseriusan pemerintah provinsi.

“Kami yakin provinsi Luwu Raya ini akan lebih sejahtera dari pada Sulawesi Selatan. Kami meminta kepada gubernur Sulawesi Selatan, datang kesini dan lihat Andi Djemma-Andi Djemma muda memperjuangkan perjuangan leluhurnya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!