Polemik Dugaan Pemerasan Oknum Wartawan di SPBU Bonepute Luwu

Gie

LUWU, INDEKSMEDIA.ID – Oknum wartawan berinisial NR diduga melakukan pemerasan ke Manager SPBU Bonepute, Kabupaten Luwu bernama Alling dengan dalih pembayaran sewa ruko salah satu organisasi. Hal itu disampaikan langsung oleh manager SPBU Bonebone, Luwu Utara, Sawal, yang secara langsung mendampingi Alling dalam pertemuannya dengan NR beberapa waktu lalu di sebuah cafe di Palopo.

“Ini kan saya bukan dari sana toh, cuma saya hanya memfasilitasi kemarin. Kan begini Alling telpon ka managernya SPBU (Bonepute). Ada anak-anak operator isi mobil tangki, saya bilang masalahnya di mana? Terus dia bilang masalahnya Dexlite. Lalu saya bilang sepanjang dia isi tidak berlebih dan bisa dipertanggung jawabkan,” kata Sawal saat dikonfirmasi, Sabtu (3/1/2026).

Sawal kemudian menghubungi NR untuk mengatur pertemuan membahas masalah tersebut. Hanya saja NR keberatan jika pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Sawal. Sawal kemudian menjelaskan bahwa dirinya didelegasikan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dari pihak perusahaan.

“Terus saya tanya lagi apa yang bisa saya bantukan. Dia ajak ma ketemu. Saya telpon lah itu NR. Cuma dia tidak mau ketemu bertiga, tapi saya bilang tidak bisa karena setiap ada masalah dengan teman-teman wartawan pasti saya didelegasikan. Kebetulan Alling mau turun jadi ya sudah, saya bersamaan dengan dia,” katanya.

Dalam pertemuan yang dilakukan di cafe enzym, Sawal menaruh curiga dengan gelagat NR yang mengarah pada pembahasan di luar konteks klarufikasi pihak SPBU Bonepute. NR juga mengajak beberapa rekannya dari Lembaga tertentu.

“Kan ada mi gelagatnya ini anak mau jadikan alat untuk peras ini Alling. Akhirnya saya ketemu di Enzym, langsung saya bilang tujuannya apa kalau ini kita mau selesaikan? Ada yang dia temani cuma tidak usah saya sebutkan nama lembaganya. Kayaknya dia mau pakai lembaga itu supaya lebih kuat presurenya untuk pakai sewa ruko,” ungkapnya.

Sawal menjelaskan bahwa apabila sejak awal persoalan tersebut memang akan dilanjutkan tanpa ruang penyelesaian, maka pertemuan sebenarnya tidak perlu dilakukan. Namun karena pembicaraan diawali dengan penyampaian berbagai hal yang membawa nama lembaga tertentu, ia kemudian menanyakan secara terbuka apa maksud dan tujuan NR.

“Tapi dia tidak mau bilang nilai. Lalu saya bilang apa yang bisa dikompromikan, karena kan kita mau cepat selesai. Saya dapat ceritanya bahwa ini anak memang begini kerjanya. Saya lanjutkan tanya soal apa maunya, dan kalau bisa kita negosiasi jangan mi kasi lanjut ini berita. Tapi saya tanya juga terserah kalau mau kasi lanjut atau tidak, dan kalau mau ki juga baik, yah silahkan,” tegasnya.

Dia (Sawal) mengungkapkan bahwa dalam pembicaraan tersebut sempat disampaikan gambaran mengenai biaya sewa ruko. Ia menjelaskan bahwa untuk lokasi di jalan poros, kisaran biaya sewa berada di angka Rp25–30 juta dan itu pun hanya sebatas biaya operasional yang dimungkinkan untuk dikondisikan oleh manajer.

“Na kasi ka gambaran sewa ruko. Lalu saya bilang, kalau itu sewa ruko di jalan poros paling Rp25-30 juta itu. Ini saja biaya operasional ji dari manager dia mau kondisikan ki. Terus dia bilang ‘lain lagi nanti (bagiannya) saya kanda. Di belakang pi saya kanda’. Jadi dua kepentingan dia usung, kepentingan lembaga dan pribadinya,” jelasnya.

Ia menilai pembahasan tersebut sudah tidak lagi berada dalam koridor kompromi sebagaimana dimaksud sebelumnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa persoalan yang dibicarakan masih dapat dipertanggungjawabkan secara hukum kepada pihak terkait, serta perlu segera diselesaikan agar tidak berdampak pada operasional, termasuk tidak sampai menghambat distribusi BBM di SPBU.

“Sudah bukan namanya kompromi ini kalau diliat ini yang diangkat, masih bisa ji kita pertanggung jawabkan ke pihak terkait. Masa kita mau biarkan mobil tangki dexlite satu minggu menunggu di SPBU na ada isinya,” tambahnya

Sawal menyampaikan bahwa dirinya kemudian meminta kesempatan untuk berbicara terlebih dahulu dengan Alling guna mencari jalan keluar. Dalam pembicaraan tersebut, ia menyarankan agar persoalan dihargai dan diselesaikan secara baik-baik karena melibatkan sesama rekan wartawan, dengan harapan penyelesaian itu dilakukan secara ikhlas.

“Saya bilang lagi untuk kasi saya kesempatan bicara sama teman (Alling). Saya tanya mi sama Alling kita hargai saja karena mereka teman-teman wartawan dan ikhlas ki supaya berkah. Awalnya 1,5 juta terus saya sarankan 3 juta dan dia (Adi Nuryadin) bilang stenga mati akhirnya saya tawar mi sampai 5 juta dan deal. Alling transferlah uang ke BP, bisa kita tanya juga BP,” tuturnya.

Sawal menjelaskan bahwa pembahasan awalnya menyebut angka Rp1,5 juta, lalu ia menyarankan Rp3 juta, namun belum mencapai kesepakatan. Setelah dilakukan pembicaraan lanjutan, ia mengaku menawar hingga Rp5 juta dan akhirnya disepakati, sebelum Alling mentransfer uang tersebut kepada BP, yang juga merupakan salah satu aktivis Luwu Raya.

“Saya tanya mi BP supaya na uruskan, karena sesama aktivis pasti baku kenal. Saya minta kalau bisa ini berita dikomunikasikan. Selanjutnya isi rekaman dihapus dan jangan disebar ke media lain. Saya tidak tau bagaimana komunikasinya BP, dan ini Adi mau ditransferkan saja,” imbuhnya.

Sementara itu, oknum wartawan berinisial NR membantah dugaan pemerasan yang dikaitkan dengan dirinya terkait persoalan di SPBU Bonepute. Ia menegaskan tidak pernah melakukan pemerasan dan menyebut isu tersebut kembali mencuat meski persoalan sebelumnya telah dianggap selesai.

“Tidak kak, tidak ada memeras. Masalah itu sebenarnya sudah selesai mi, aman mi tidak ada mi masalah. Makanya saya heran kenapa persoalan ini diusik lagi,” ujar NR.

Ia menjelaskan bahwa dalam pertemuan yang dilakukan, tidak ada pembahasan mengenai nominal sebagaimana yang ditudingkan kepadanya. Menurut NR, pembahasan awal telah dilakukan sebelum adanya keributan di SPBU Bonepute dan melalui perantara.

“Di pertemuan itu tidak ada bahas nominal. Itu sudah dibahas sebelumnya, cuma datang pakai ribut di SPBU Bonepute, bahkan manajernya sendiri yang temui saya. Kemarin juga melalui Pak Sawal dan Kak Bayu,” katanya.

NR juga mengungkapkan bahwa terdapat saksi dalam pertemuan tersebut. Namun ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah meminta angka atau nominal tertentu kepada pihak manajemen SPBU.

“Saksinya Ramli dari Mata Nusantara, tapi saya tidak pernah minta angka. Saya tidak pernah bicara nominal apa pun ke manajer,” tegasnya.

Terkait munculnya dugaan pemerasan, NR menyebut informasi yang ia terima mengarah pada aduan pihak SPBU Bonepute ke kepolisian. Ia menduga laporan tersebut berasal dari manajemen SPBU.

“Informasi yang saya dengar katanya hasil lidik dari SPBU Bonepute dan kemungkinan dari manajernya. Padahal bagi saya masalah ini sudah selesai,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!